alexametrics

Contoh Korsel dan Jepang, Budaya Jadi Modal Pembangunan Indonesia

Pebriansyah Ariefana
Contoh Korsel dan Jepang, Budaya Jadi Modal Pembangunan Indonesia
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (tengah), Gubernur BI Agus Martowardojo (kiri) dan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Sofyan Djalil (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/7).

Cina juga menjadi contoh membangun negara dengan landasan budaya.

Suara.com - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai kebudayaan yang beraneka ragam di Tanah Air harus menjadi modal penting yang memberikan sumbangan pada pembangunan nasional. Ini mencontoh di negara-negara maju.

"Lihat misalnya Jepang, Korea Selatan, atau China yang mampu melakukan akselerasi pembangunan sosial-ekonomi berbasis kebudayaan, dengan melakukan kapitalisasi atas nilai-nilai dan kekayaan budaya melalui suatu proses modernisasi," ujar Bambang saat menjadi pembicara kunci dalam seminar ‘Peran Kebudayaan Dalam Pembangunan Nasional’ di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (4/4/2017).

Kemajemukan di Indonesia adalah realitas sosial sosial yang mewarnai kehidupan masyarakat. Namun tidak harus dimaknai sebagai kelemahan yang menjadikan Indonesia rentan konflik dan disintegrasi.

Kemajemukan justru dapat dijadikan modal dasar pembangunan nasional Indonesia sehingga menjadi negara dan bangsa yang kuat dan unggul.

Baca Juga: Nusron: Agama dan Kebudayaan Tak Bisa Dipisahkan

"Disamping itu, pembangunan nasional harus mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya berfokus pada pembangunan ekonomi, namun juga mempertimbangkan aspek budaya," kata Bambang.

Masukan tersebut akan dijadikan sebagai salah satu sumber informasi bagi Bappenas dalam penyusunan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nasional yang diselenggarakan pada akhir April mendatang.

Seminar sendiri menghadirkan beberapa pembicara seperti Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Pendiri Sokola Rimba Saur Marlina Manurung, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami, antropolog Hans Antlov, Pakar budaya dari Fakultas Ilmu Budaya UI Melani Budianta, dan Presiden Jember Fashion Carnaval Dynand Fariz. (Antara)