Ini Kebutuhan Darurat Rumah Sakit di Daerah Perbatasan

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Sabtu, 06 Mei 2017 | 10:00 WIB
Ini Kebutuhan Darurat Rumah Sakit di Daerah Perbatasan
Kondisi pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Penyangga Perbatasan (RSPP) Betun, Malaka, NTT. (Suara.com/Firsta Nodia)

Suara.com - Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan daerah perbatasan di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terkendala akibat minimnya dokter spesialis.

Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini hanya memiliki empat dokter spesialis yang berpusat di Rumah Sakit Penyangga Perbatasan (RSPP) Betun, antara lain dokter spesialis penyakit dalam, bedah, anak, dan spesialis saraf. Kondisi itu sangat tidak memadai bila dibandingkan dengan jumlah penduduk setempat yang mencapai 189.046 jiwa.

Dokter spesialis kandungan, anestesi dan radiologi yang kebutuhannya sangat darurat juga belum dapat dipenuhi, karena minimnya dokter spesialis tersebut yang mau ditempatkan di kawasan garda terdepan Indonesia ini.

"Kami di perbatasan terkendala pada sumber daya manusia terutama dokter spesialis. Punya empat dokter spesialis saja kami sangat bersyukur," ujar Direktur RS Betun, Paskalia Frida Fahik di sela-sela kunjungan ke RSPP Betun, Jumat (5/5/2017).

Ia menambahkan sebenarnya pihaknya sudah meminta Kementerian Kesehatan untuk menempatkan dokter spesialis anestesi dan spesialis kandungan (obgyn) di Rumah Sakit Penyangga Perbatasan Betun. Namun hingga kini 'pesanan' dokter spesialis ini belum juga tiba.

"Ogbyn belum ada. Kami meminta bantuan pada Kemenkes, agak lama, belum dapat," tambah Frida.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malaka, Nusa Tenggara Timur, dr Stefanus Bria Seran, MPH, mengatakan bahwa sebenarnya pihaknya telah mengalokasikan sejumlah anggaran demi menarik minat dokter spesialis untuk bertugas di daerahnya.

"Kami tawarkan gaji dan insentif yang memadai untuk dokter spesialis yang mau bertugas di Malaka. Mereka juga kami tawarkan kendaraan dan rumah dinas, uang cuti dan tiket pesawat saat cuti," sambung Bupati Malaka, Stefanus.

Ia mengakui bahwa persoalan sumber daya manusia menjadi kendala di daerah perbatasan, terutama untuk ketersediaan dokter spesialis. Menurut Stefanus, ada tiga alasan mengapa dokter spesialis enggan bertugas di daerah perbatasan meski diiming-imingi insentif yang sangat besar.

"Di malaka ada tiga persoalan besar, pertama kandidat yang akan dikirim terbatas, kedua untuk diterima pendidikan dokter spesialis susahnya minta ampun dari 80 yang kita kirim hanya 10 yang lolos seleksi, ketiga membuat mereka betah itu sangat sulit," ujarnya lagi.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menyatakan pihaknya akan segera menempatkan satu dokter anestesi dan spesialis kandungan ke RS Betun melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS).

"Sesuai dengan pemetaan yang kita lakukan, Malaka memang salah satu daerah prioritas. Kalau ada kerja sama dengan perguruan tinggi, juga bisa dilakukan agar lulusannya bisa dikirim ke Malaka," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dokter Spesialis di Daerah Perbatasan Digaji Rp40 Juta, Mau?

Dokter Spesialis di Daerah Perbatasan Digaji Rp40 Juta, Mau?

News | Sabtu, 06 Mei 2017 | 08:16 WIB

Ini yang Dilakukan NTT untuk Menekan Kematian Ibu dan Bayi

Ini yang Dilakukan NTT untuk Menekan Kematian Ibu dan Bayi

Health | Jum'at, 05 Mei 2017 | 07:51 WIB

Menkes Tempatkan Sembilan Dokter Spesialis di NTT

Menkes Tempatkan Sembilan Dokter Spesialis di NTT

Health | Rabu, 03 Mei 2017 | 08:15 WIB

Terkini

BEI Resmi Cabut 4 Kriteria 'Menjebak' di Papan Pemantauan Khusus, Apa Saja?

BEI Resmi Cabut 4 Kriteria 'Menjebak' di Papan Pemantauan Khusus, Apa Saja?

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 08:46 WIB

Siap Tempuh Jalur Banding, Manchester City Lawan Vonis FFP Premier League

Siap Tempuh Jalur Banding, Manchester City Lawan Vonis FFP Premier League

Bola | Rabu, 30 September 2026 | 08:44 WIB

KAWAT Indonesia Anggap Penetapan Tersangka Masinis KA Argo Bromo Prematur

KAWAT Indonesia Anggap Penetapan Tersangka Masinis KA Argo Bromo Prematur

News | Rabu, 30 September 2026 | 08:41 WIB

Apakah Sepatu Lari Cocok untuk Gym? Ini Kata Pakar

Apakah Sepatu Lari Cocok untuk Gym? Ini Kata Pakar

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 08:25 WIB

Sosok Noor Korompot Stafsus Menteri Hukum yang Bicara Konspirasi Timnas Indonesia

Sosok Noor Korompot Stafsus Menteri Hukum yang Bicara Konspirasi Timnas Indonesia

News | Rabu, 30 September 2026 | 08:23 WIB

Kayu Terus Tergerus, Hutan Kehilangan Penyimpanan Karbon Alami

Kayu Terus Tergerus, Hutan Kehilangan Penyimpanan Karbon Alami

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 08:20 WIB

Menang Harga Mati, Ini Skenario Lolos Timnas Indonesia dari Fase Grup FIFA ASEAN Cup

Menang Harga Mati, Ini Skenario Lolos Timnas Indonesia dari Fase Grup FIFA ASEAN Cup

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 08:20 WIB

BEI Resmi Gelar RUPSLB Akhir Oktober 2026, Ini Jadwal Lengkapnya

BEI Resmi Gelar RUPSLB Akhir Oktober 2026, Ini Jadwal Lengkapnya

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 08:09 WIB

Ngawur! Anak Buah Prabowo Bicara Konspirasi Jelang Partai Hidup Mati Timnas Indonesia

Ngawur! Anak Buah Prabowo Bicara Konspirasi Jelang Partai Hidup Mati Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 30 September 2026 | 08:06 WIB

Kabut Asap Pekat, Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya

Kabut Asap Pekat, Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 08:00 WIB

×