Sambat Koperasi, Si Tua yang Tergerus Kapitalisme

Reza Gunadha

Rabu, 12 Juli 2017 | 15:02 WIB
Sambat Koperasi, Si Tua yang Tergerus Kapitalisme
ILUSTRASI - Kelompok Swadaya Masyarakat Unit Koperasi (Belekam) di Jalan Lintas Utara, Dusun Ukit-ukit, Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat [suara.com/Bowo Raharjo]

Suara.com - Sejarah pernah mencatat Bung Hatta sebagai ekonom generasi awal Indonesia, yang bahkan hingga tutup usia tak pernah mampu mewujudkan impiannya untuk memiliki sepatu merek Bally.

Namun, sang proklamator itu bertenang saat menutup mata ketika telah mempu mendefinisikan konstitusi ekonomi Indonesia sebagai bangun ekonomi kerakyatan, yang berasaskan kekeluargaan dalam wadah bernama koperasi.

Seiring waktu berjalan, bahkan hingga tujuh dasawarsa berlalu sejak ia berdiri di belakang Bung Karno untuk memproklamasikan kemerdekaan, koperasi yang diimpikannya mampu mengubah keadaan rakyat menjadi lebih baik nyatanya masih jauh panggang dari api. Tak juga ketika koperasi genap menginjak usia ke-70 pada Rabu (12/7/2017) hari ini.

Bung Hatta memang tak pernah salah meletakkan pondasi koperasi sebagai bangun ekonomi yang dianggap paling sesuai untuk bangsa Indonesia. Tapi, para penerus belum juga mampu menerjemahkan cita-citanya.

Mimpi Bung Hatta ibarat utopia yang berada di alam imajinasi,yakni ketika koperasi telah benar-benar mampu mengangkat derajat perekonomian bangsa. Bahkan, para pengambil keputusan untuk beberapa rezim di Tanah Air kerap kali tampak tidak yakin bahwa koperasi mampu mengambil peran sebagaimana yang diharapkan Bung Hatta.

Mereka mestinya melihat betapa koperasi telah demikian menguasai sektor pertanian hingga menggurita di Jepang. Sementara di Eropa, betapa koperasi menjadi panutan bagi pelaku ekonomi yang lain.

Bahkan di Amerika Serikat, di mana liberalisme ekonomi berkembang, koperasi justru mampu melebarkan sayapnya bersaing dengan pelaku ekonomi yang lain dalam "level of playing field" yang setara.

Pengamat koperasi Suroto mengatakan, koperasi di Indonesia hanya perlu keberpihakan agar bisa menjadi instrumen yang paling efektif untuk memeratakan pendapatan dan kekayaan.

"Indonesia menghadapi masalah kesenjangan struktural yang akut, koperasi merupakan instrumen yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Ketua Umum Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (Akses) itu, seperti dilansir Antara.

baca juga

Namun, faktanya, belum ada keberpihakan yang nyata dari pembuat kebijakan jelas membuat ketimpangan pengembangan koperasi terus berlanjut.

Akibatnya menjadi nyata, ketika indeks rasio gini di Indonesia masih bertengger di angka 0,40 persen dengan tingkat akumulasi kekayaan pada segelintir elite yang masih sangat besar.

"Padahal kemiskinan dan pengangguran dengan sendirinya juga akan menurun kalau kita dapat mengefektifkan koperasi," ucap Suroto.

Sayangnya, koperasi yang dalam istilah ekonomi berkonsep "economic patron refund"—transaksi yang terjadi justru mengembalikan nilai tambah kepada pelakunya—malah tidak mendapatkan tempat untuk berkembang laksana pelaku usaha lain di Indonesia.

Maka, pada usianya kini yang tepat menginjak 70 tahun, koperasi layaknya kendaraan tua yang terbatuk-batuk di tengah derasnya arus kapitalisme yang semakin menggurita di Tanah Air.

 Ia tak lagi bisa sambat, tak lagi bisa mengeluhkan, atau bahkan meneriakkan aspirasinya agar diberi tempat untuk berteduh dari serangan perkembangan ekonomi yang diserahkan sepenuhnya pada pasar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Memprihatinkan, Puluhan Koperasi di Mataram Dibubarkan

Memprihatinkan, Puluhan Koperasi di Mataram Dibubarkan

Bisnis | Rabu, 14 Juni 2017 | 09:45 WIB

Presiden Jokowi Dijadwalkan Buka Hari Koperasi Nasional ke-70

Presiden Jokowi Dijadwalkan Buka Hari Koperasi Nasional ke-70

News | Rabu, 07 Juni 2017 | 22:13 WIB

Temui Jokowi, Dekopin Minta TPI Diserahkan ke Koperasi Nelayan

Temui Jokowi, Dekopin Minta TPI Diserahkan ke Koperasi Nelayan

Bisnis | Senin, 05 Juni 2017 | 15:19 WIB

OPSI Minta Kasus PHK Mitra PT HM Sampoerna Ditangani Dengan Bijak

OPSI Minta Kasus PHK Mitra PT HM Sampoerna Ditangani Dengan Bijak

Bisnis | Rabu, 24 Mei 2017 | 12:11 WIB

Tingkatkan Ekonomi, Digagas Koperasi Batik di Polowijen

Tingkatkan Ekonomi, Digagas Koperasi Batik di Polowijen

Bisnis | Rabu, 24 Mei 2017 | 11:53 WIB

UMKM Diminta Inovatif dan Manfaatkan Teknologi Informasi

UMKM Diminta Inovatif dan Manfaatkan Teknologi Informasi

Bisnis | Selasa, 09 Mei 2017 | 16:15 WIB

Kemenkop Dukung Pertumbuhan UMKM di Indonesia

Kemenkop Dukung Pertumbuhan UMKM di Indonesia

Bisnis | Selasa, 09 Mei 2017 | 14:41 WIB

Menteri Susi Minta Nelayan Baubau Bentuk Koperasi

Menteri Susi Minta Nelayan Baubau Bentuk Koperasi

Bisnis | Kamis, 23 Maret 2017 | 14:38 WIB

Arab Saudi akan Belajar Pengembangan UKM ke Indonesia

Arab Saudi akan Belajar Pengembangan UKM ke Indonesia

Bisnis | Rabu, 08 Maret 2017 | 13:54 WIB

Jumlah Tersangka Pandawa Group Bertambah Jadi 14 Orang

Jumlah Tersangka Pandawa Group Bertambah Jadi 14 Orang

Bisnis | Senin, 27 Februari 2017 | 17:31 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×