Kelola Lahan Rawa, Kementan Perkenalkan Polder Mini di HPS 2018

Fabiola Febrinastri

Kamis, 25 Oktober 2018 | 12:00 WIB
Kelola Lahan Rawa, Kementan Perkenalkan Polder Mini di HPS 2018
Kementan memperkenalkan sistem polder mini sebagai model pengelolaan air di lahan rawa, yang diterapkan di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018. (Dok: Kementan)

Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan sistem polder mini sebagai model pengelolaan air di lahan rawa, yang diterapkan di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018, Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sistem polder mini merupakan duplikasi dari yang dikembangkan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Sistem ini dikembangkan dengan mengadopsi praktik pengelolaan air tradisional yang memang sudah populer di masyarakat. Sejak dulu, para petani di lahan rawa sudah mengetahui bahwa kunci keberhasilan bercocok tanam, khususnya padi di lahan rawa, sangat ditentukan oleh kondisi air.

Saat bulan purnama misalnya, petani mengetahui air pasang besar, demikian juga saat bulan mati, terjadi pasang tinggi. Saat bulan sabit atau antara hari ke-7 menuju ke-14, atau hari ke-21 menuju ke-29, terjadi penurunan air atau surut. Pengalaman dari generasi ke generasi dengan pengamatan yang berulang-ulang, akhirnya menghasilkan kearifan lokal (indegenous knowledge) untuk dapat memanfaatkan air untuk bercocok tanam.

Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Kementan, Hendri Sosiawan, mengungkapkan, salah satu cara praktis untuk menyiasati keadaan tata air di lahan rawa adalah dengan membuat saluran yang disebut handil. Saat ini, ratusan, bahkan ribuan handil, sudah umum digunakan oleh masyarakat, terutama di sepanjang sungai-sungai besar, seperti Barito, Mahakam, Kapuas, Kahayan, dan lainnya.

"Handil adalah saluran yang dibuat menjorok masuk ke badan sungai sejauh 1-2 km, dengan lebar antar 1-2 m dan kedalaman 0,5-1,0 m. Pada saat pasang, air bisa masuk melalui handil, dan saat surut, air bisa keluar. Model ini juga sekaligus membuang hasil cucian (leached) ke sungai," katanya, di kantornya di Banjarbaru, Kalsel, Rabu (24/10/2018).

Hendri juga menerangkan, masyarakat mengembangkan sistem pengairan yang disebut tabat. Tabat merupakan hasil pengalaman selama bertahun-tahun, dengan menyusun kayu gelam atau tanah, hingga berupa dam atau tameng untuk menahan air, sehingga bisa tertampung atau tersimpan di saluran, sehingga air tidak akan hilang menjadi air limpasan (run off).

Kementan memperkenalkan sistem polder mini sebagai model pengelolaan air di lahan rawa, yang diterapkan di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018. (Dok: Kementan)
Kementan memperkenalkan sistem polder mini sebagai model pengelolaan air di lahan rawa, yang diterapkan di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018. (Dok: Kementan)

Tabat atau yang juga dikenal sebagai dam limpas (dam overflow) dapat disesuaikan tingginya, sesuai dengan keinginan tinggi muka air yang diharapkan. Dari tabat inilah, muncul istilah pintu air, flapgates, stoplog atau sekat.

Hendri juga menerangkan sistem polder, yang sejatinya adalah antara sistem handil, tabat, dan tanggul keliling, yang kemudian dikenal dengan sistem polder. Sistem ini diperkenalkan oleh seorang ahli pengairan berkebangsaan Belanda, bernama Schophyus, bersama dengan H. Idak, yang merupakan seorang Manteri Tani di Kalimantan pada masa pemerintah Belanda.

Implementasi sistem polder  pernah dilakukan di Rawa Lebak, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan polder Alabio, dengan luasan 6 ribu ha, tetapi belum berhasil dengan baik.

baca juga

"Sistem ini merupakan bangunan air berupa tanggul keliling yang dilengkapi dengan saluran utama masuk, keluar, dan saluran pembagi, serta dilengkapi dengan pompa besar untuk memasukan air pada saat kekeringan, dan mengeluarkan pada saat kelebihan," terang Hendri.

Herman Subagio, yang merupakan peneliti Balittra menyatakan, sistem polder  dikembangkan dan disempurnakan sehingga bisa diterapkan dengan baik. Ia menambahkan, jika yang dikembangkan pada polder Alabio mencapai 6 ribu ha, maka pada sistem polder mini ini hanya 100-300 ha saja.

Sistem polder mini memiliki tiga jurus pengelolaan air yang diaplikasikan, yaitu (1) adanya tanggul keliling yang kokoh; (2) adanya jaringan tata air berupa adanya saluran masuk, saluran keluar, dan saluran pembagi, dan (3) tersedianya pompa besar baik pada pintu masuk maupun pintu keluar, untuk sekaligus mengatur tinggi muka air dengan memompa air masuk apabila kekurangan air, dan memompa air keluar dari dalam apabila kelebihan air.

"Penyempurnaan dan optimalisasi sistem polder  di lahan rawa telah dikembangkan, yang pada prinsipnya menerapkan apa yang disebut handil, tabat atau tanggul, dan aliran satu arah," jelas Herman.

Tiga jurus pengelolaan air diimplimentasikan pada sistem polder mini Jejangkit Muara, yang unit pengembangannya seluas 240 ha, dengan dibangunnya tanggul keliling, saluran sekunder dan tersier masuk dan keluar, dan tersedianya pompa, yaitu pompa masuk dan pompa keluar.

Dengan dibangunnya polder mini ini, diharapkan indeks pertanaman dapat ditingkatkan dari IP 100 menjadi IP 180 dan/atau IP 200, ditingkatkan hasil panen karena meningkatnya efisiensi pencucian zat-zat beracun (leaching) dan meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara tanaman.

Peningkatan-peningkatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil padi juga.

"Melalui sistem polder mini, hasil pertanaman padi varietas Inpara 2,3, 8 dan 9 menunjukkan pertumbuhan yang optimal, tampak menguning dengan bulir-bulirnya yang panjang dan berisi," kata Herman lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!

Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!

Foto | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:00 WIB

Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng

Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 20:48 WIB

Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026

Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026

Bisnis | Sabtu, 25 April 2026 | 20:38 WIB

Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan

Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan

Bisnis | Sabtu, 18 April 2026 | 15:53 WIB

Harga Tembus Rp100 Ribu di Ramadan, Kementan Guyur 1,7 Ton Cabai ke Pasar Induk Kramat Jati

Harga Tembus Rp100 Ribu di Ramadan, Kementan Guyur 1,7 Ton Cabai ke Pasar Induk Kramat Jati

Bisnis | Senin, 23 Februari 2026 | 17:28 WIB

Pelanggaran Disiplin ASN, Kementan: Penanganan Indah Megahwati Mengacu pada Peraturan yang Berlaku

Pelanggaran Disiplin ASN, Kementan: Penanganan Indah Megahwati Mengacu pada Peraturan yang Berlaku

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 16:04 WIB

Awas! Ada 4 Bakteri Berbahaya di Bawang Bombai Ilegal

Awas! Ada 4 Bakteri Berbahaya di Bawang Bombai Ilegal

Bisnis | Kamis, 25 Desember 2025 | 13:26 WIB

Melanie Subono Spill Rincian Donasi Diduga dari Kementan, Dinilai Janggal?

Melanie Subono Spill Rincian Donasi Diduga dari Kementan, Dinilai Janggal?

Your Say | Rabu, 10 Desember 2025 | 10:46 WIB

Kementan Disorot Usai Rincian Bantuan Bencana Viral, Harga Beras Rp60 Ribu/Kg Dinilai Janggal

Kementan Disorot Usai Rincian Bantuan Bencana Viral, Harga Beras Rp60 Ribu/Kg Dinilai Janggal

Bisnis | Senin, 08 Desember 2025 | 11:51 WIB

Kementan Targetkan Indonesia Mandiri Vaksin Hewan, Fasilitas di Surabaya Akan Ditingkatkan

Kementan Targetkan Indonesia Mandiri Vaksin Hewan, Fasilitas di Surabaya Akan Ditingkatkan

News | Sabtu, 22 November 2025 | 11:54 WIB

Terkini

Tak Melulu Malioboro, 5 Hidden Gem Jogja yang Wajib Masuk Wishlistmu

Tak Melulu Malioboro, 5 Hidden Gem Jogja yang Wajib Masuk Wishlistmu

Your Say | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:15 WIB

Besaran Dana PIP 2026 untuk Siswa SD, SMP, dan SMA, Ada yang Dapat Rp1,8 Juta!

Besaran Dana PIP 2026 untuk Siswa SD, SMP, dan SMA, Ada yang Dapat Rp1,8 Juta!

Lifestyle | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:11 WIB

92 Ribu Warga Jatim Lepas dari Kemiskinan, Apa Rahasianya?

92 Ribu Warga Jatim Lepas dari Kemiskinan, Apa Rahasianya?

Jatim | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:10 WIB

Strategi Mitsubishi Fuso Jamin Operasional Truk Tanpa Henti di GIIAS 2026

Strategi Mitsubishi Fuso Jamin Operasional Truk Tanpa Henti di GIIAS 2026

Otomotif | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:08 WIB

Dari Hobi Saat Pandemi, Raditya Dika Kini Jadi Duta Marvel Hero Rush TCG

Dari Hobi Saat Pandemi, Raditya Dika Kini Jadi Duta Marvel Hero Rush TCG

Entertainment | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:06 WIB

Viral Video Demo Ternyata Rekaman Lama, Pemerintah Buru Penyebar Hoaks

Viral Video Demo Ternyata Rekaman Lama, Pemerintah Buru Penyebar Hoaks

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:01 WIB

5 Pilihan Sabun Cuci Muka Glad2Glow Sesuai Review, Mengatasi Kulit Berjerawat hingga Kusam

5 Pilihan Sabun Cuci Muka Glad2Glow Sesuai Review, Mengatasi Kulit Berjerawat hingga Kusam

Lifestyle | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Ramai Dibahas! Apa Itu Universitas Republik Indonesia? Begini Penjelasan Lengkapnya

Ramai Dibahas! Apa Itu Universitas Republik Indonesia? Begini Penjelasan Lengkapnya

Video | Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Fakta Baru Mutilasi Depok: Saepul Diduga Penyuka Sesama Jenis, Motif Masih Teka-teki

Fakta Baru Mutilasi Depok: Saepul Diduga Penyuka Sesama Jenis, Motif Masih Teka-teki

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:59 WIB

Kemarau Panjang Mengintai, Jakarta Rencanakan Hujan Buatan Tiap Pekan

Kemarau Panjang Mengintai, Jakarta Rencanakan Hujan Buatan Tiap Pekan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:53 WIB

×