Media Asing: Jokowi, Obama Indonesia yang Gagal Penuhi Ekspektasi

Reza Gunadha

Jum'at, 05 April 2019 | 18:09 WIB
Media Asing: Jokowi, Obama Indonesia yang Gagal Penuhi Ekspektasi
[The Guardian]

Para analis mengatakan, jika Jokowi menawarkan pengampunan, ia akan terlihat tunduk pada tekanan internasional.

Masalahnya, terpilih dengan dukungan rakyat tetapi minoritas di parlemen, Jokowi perlu memperkuat posisinya yang lemah sejak awal. Itu artinya ia harus ’bermain bola’ dengan pemain lama.

Lebih jauh, bagi seorang kandidat yang pernah dipuji karena tidak memiliki ikatan militer, Jokowi justru segera memiliki kabinet dan lingkaran dalam yang menampilkan orang-orang militer era Soeharto. Di antara anggota kabinet yang paling kontroversial adalah Menkopolhukam Wiranto, seorang mantan jenderal yang dibayangi tuduhan kejahatan perang.

Haris Azhar, aktivis HAM yang gencar menuntut Jokowi memenuhi janji menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu, menegaskan kali ini dia bakal golput.

"Demokrasi kita tidak memiliki arti, tidak ada substansinya lagi," kata Haris.

’Indonesia Maju’

Namun di jalan-jalan, Jokowi masih mendapat dukungan luas, dan dalam jajak pendapat, persentase elektabilitasnya masih 15 poin di depan Prabowo.

“Jokowi bekerja keras, dari Sabang sampai Merauke, dan dia jujur. Yang lain korup, ”kata Mery (65), dari warung tahu gorengnya di selatan Jakarta.

“Kita sudah bisa melihat penampilannya di lapangan,” Achmad (28), seorang penjual soto ayam. "Jokowi telah membangun jalan-jalan dan sekolah, ada buktinya."

baca juga

Dalam empat tahun terakhir, Jokowi memang telah memulai proyek infrastruktur yang sangat dibutuhkan. Ia membangun jalan ribuan kilometer, hampir selusin bandara, sejumlah pelabuhan, bendungan, dan jembatan.

Jokowi juga berinvestasi pada skema asuransi kesehatan nasional dan pendidikan bagi kaum miskin.

Tapi itu hanya gambaran dari satu sisi.

Tagline kampanye Jokowi tahun ini adalah "Indonesia maju"—tetapi banyak analis politik bertanya-tanya: maju ke mana?

Seorang analis menggambarkan Jokowi sebagai ’papan tulis yang kosong ideologi’. Jokowi telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang kurang visioner, lebih kepada teknokrat pekerja. Ia memprioritaskan hak-hak ekonomi dan sosial, tapi menekan kebebasan demokratis.

Penangkapan seorang profesor Ilmu Sosiologi pada bulan Maret 2019 (Robertus Robet) karena menyanyikan lagu parodi tentang dwifungsi militer era Soeharto, menjadi tanda yang mengerikan.

Bagi masyarakat sipil Indonesia yang dinamis, penangkapan dan dakwaan berikutnya memicu kekhawatiran bahwa kebebasan demokratis—yang dengan sulit diraih lewat jatuhnya Soeharto—kini berada di bawah ancaman.

Sejumlah besar tokoh oposisi ditangkap, didakwa, dan dalam beberapa kasus dipenjarakan dalam dua tahun terakhir. Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa polisi Indonesia menjadi semakin partisan—tuduhan yang sudah dibantah oleh pemerintah.

Menjelang pemilu, polisi telah melarang sejumlah aksi demonstrasi “ganti presiden” dengan alasan keamanan atau peraturan.

"Saya kira, ada cukup pola perilaku kekinian untuk mengatakan penegakan hukum dipolitisasi, bahkan pada tingkat baru di bawah Jokowi,” kata Liam Gammon, kandidat PhD di Australian National University.

"Ada sejumlah tren yang mengkhawatirkan dalam cara penegakan hukum terhadap tokoh oposisi terkemuka."

Analis juga merujuk pada langkah pemerintah merevisi Undang-Undang tentang Organisasi Massa, yang diteken Jokowi pada tahun 2017 sebagai dasar larangan bagi Hizbut Tahrir Indonesia. Analis mengkhawatirkan bagaimana revisi UU itu akan digunakan selanjutnya.

Ketika Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia dibentuk oleh spirit yang semakin tidak liberal; semakin kuatnya pengaruh Islam di politik; Jokowi nyatanya memang harus membuat beberapa keputusan sulit.

Ketika negara-negara dari Australia hingga Argentina melegalisasi pernikahan sesama jenis misalnya, pemenuhan hak LGBT menurun tajam di bawah kepemimpinan Jokowi. Asosiasi psikiatris nasional Indonesia mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan mental, bahkan ada sebuah pernyataan Menteri Pertahanan yang menyebut LGBT sebagai ancaman "yang lebih berbahaya daripada perang nuklir".

"Ini semakin buruk," kata Andreas Harsono dari Human Rights Watch. "Jokowi tidak menggunakan modal politiknya untuk membuat demokrasi Indonesia lebih baik, termasuk (dalam hal) kebebasan beragama dan kebebasan sipil.”

Harsono mengatakan, Jokowi telah gagal untuk membendung gelombang intoleransi agama yang meningkat.

Tahun lalu, seorang wanita Budha di Sumatera dipenjara selama 18 bulan karena tuduhan penistaan agama, setelah dia mengeluh tentang pelantang suara masjid yang bising.

Pada 2017, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mantan Gubernur Jakarta yang beragama Kristen, dipenjara selama dua tahun setelah berpidato dengan mengutip ayat Alquran.

‘Menganggap hal biasa’

Yang mengherankan, ada kecenderungan sejumlah elite liberal untuk tak mengungkap situasi (kekhawatiran) tersebut. Mereka tampaknya takut mengkritik Jokowi karena justru dianggap bisa memberdayakan lawannya (Prabowo).

Prabowo diduga terlibat dalam penculikan dan penyiksaan aktivis pro-demokrasi pada tahun 1998, sebuah tuduhan yang secara konsisten senantiasa ia bantah. Dia kemudian diberhentikan dari tentara.

Tapi, Prabowo justru semakin menunjukkan citra yang lunak akhir-akhir ini. Di media sosial misalnya, kini bahkan ada akun Instagram untuk Bobby, kucing kesayangan Prabowo.

Namun, Prabowo juga diketahui mendekatkan diri dengan kelompok Islam garis keras. Dia kabarnya menandatangani perjanjian (pakta integritas) untuk mempromosikan agenda Islam konservatif jika ia menang.

Jokowi sendiri juga berupaya untuk meningkatkan basis suaranya di kalangan umat Islam. Dia misalnya, secara kontroversial memilih Maruf Amin—ulama yang cenderung konservatif dan mendukung fatwa melawan LGBT, minoritas agama dan yoga—sebagai cawapres.

Menghadapi pilihan antara Jokowi dan Prabowo seperti ini, beberapa orang telah bersumpah untuk “golput” atau tidak memilih sama sekali.

”Jika Jokowi menang, Indonesia tampaknya akan mendapat manfaat dari infrastruktur dan kesejahteraan sosial yang lebih baik,” kata Liam Gammon dari ANU.

”Tetapi pertanyaannya adalah apa biaya yang harus dibayarkan? Apakah itu artinya Jokowi menfasilitasi pembusukan lembaga-lembaga Indonesia? Atau justru menormalisasi sejumlah perilaku yang benar-benar anti-demokrasi?” sambungnya.

Analis Dewi Fortuna Anwar menilai, sebagai penerima 'manfaat' dari demokrasi di Indonesia, Jokowi mungkin telah meremehkan keharusan untuk mempertahankannya.

"Tanpa (adanya) kondisi demokratis di Indonesia, seseorang seperti Jokowi tidak akan bisa menjadi presiden. Saya menduga, dia menganggapnya hal biasa begitu saja," kata Fortuna.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Atta Halilintar "Gerebek" Istana Presiden, Jokowi :  Ahsiyaaap

Atta Halilintar "Gerebek" Istana Presiden, Jokowi : Ahsiyaaap

Lifestyle | Jum'at, 05 April 2019 | 15:46 WIB

Mabes Polri Dalami Laporan KPU Terkait Isu Server untuk Menangkan Jokowi

Mabes Polri Dalami Laporan KPU Terkait Isu Server untuk Menangkan Jokowi

News | Jum'at, 05 April 2019 | 14:15 WIB

Anak-anak Menangis dan Terpisah dengan Orangtua di Kampanye Jokowi

Anak-anak Menangis dan Terpisah dengan Orangtua di Kampanye Jokowi

News | Jum'at, 05 April 2019 | 13:58 WIB

Kampanye Jokowi Hari Ini di Cirebon dengan Nelayan Pantura

Kampanye Jokowi Hari Ini di Cirebon dengan Nelayan Pantura

News | Jum'at, 05 April 2019 | 11:19 WIB

Kaesang Bereaksi Jokowi Tawari Atta Halilintar Jadi Anak ke-4

Kaesang Bereaksi Jokowi Tawari Atta Halilintar Jadi Anak ke-4

Entertainment | Jum'at, 05 April 2019 | 10:52 WIB

Terkini

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna

5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:48 WIB

Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas

Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:35 WIB

Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI

Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:32 WIB

KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya

KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:26 WIB

Lanud Seluruh Indonesia Bakal jadi Posko Gempa NTT, Hercules Siap Angkut Bantuan

Lanud Seluruh Indonesia Bakal jadi Posko Gempa NTT, Hercules Siap Angkut Bantuan

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:19 WIB

Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru

Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:10 WIB

Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya

Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya

Bri | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri

Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri

Jatim | Senin, 17 Agustus 2026 | 21:04 WIB

×