Ombudsman: Masyarakat Harus Diberi Pemahaman, Sekolah Tak Harus di Negeri

Senin, 01 Juli 2019 | 17:40 WIB
Ombudsman: Masyarakat Harus Diberi Pemahaman, Sekolah Tak Harus di Negeri
Anggota Ombudsman Ahmad Suaidi (peci hitam). (Suara.com/Fakhri)

Suara.com - Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi masih menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat. Sistem tersebut masih memiliki permasalahan teknis dan banyak masyarakat yang tidak mengetahui regulasi tersebut.

Terkait itu, Ombudsman RI menyambut baik kebijakan yang sebenarnya sudah berjalan sejak tiga tahun lalu.

Anggota Ombudsman Ahmad Suaidi menganggap kebijakan tersebut bisa mendorong kualitas sekolah dan sistem pendidikan menjadi lebih baik.

"Sistem zonasi itu sebenarnya memaksa pemerintah untuk memeratakan fasilitas dan struktur pendidikan," ujar Ahmad dalam diskusi dengan tajuk 'Dibalik Kebijakan Zonasi' di Kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat (1/7/2019).

Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menangkal permasalahan sistem pendidikan yang sentralistik.

Ia menyebut kebijakan itu dapat membuat satu sekolah dengan mutu yang baik, fasilitas lengkap, dan menjadikannya favorit di satu komplek.

"Selama Indonesia merdeka pendidikan kita itu dikelola dengan cara yang sentralistik. Saya katakan satu sekolah itu ada di satu komplek, favorit dan fasilitasnya lengkap," kata Ahmad.

Lebih lanjut, kebijakan yang sentralistik itu dinilai dapat menimbulkan mentalitas favoritisme atau hanya menginginkan sekolah di tempat yang dicap favorit.

Menurutnya masyarakat sampai saat ini masih terkena mental favoritisme, sehingga PPDB zonasi menimbulkan polemik.

Baca Juga: Viral Warganet Usul Jangan Pasang Foto Jokowi di Sekolah, Ganti Foto Anies

"Sistem zonasi yang selama 3 tahun kami saksikan masih banyak kekurangan. Tapi yang paling penting adalah soal mentalitas masyarakat yang masih terbayang favoritisme," jelas Ahmad.

Selain itu, ia menilai pandangan masyarakat tersebut harus diganti. Ia ingin lewat PPDB zonasi, masyakarat memahami mencari sekolah tidak harus di tempat yang dicap favorit ataupun negeri.

"Harus diberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sekolah itu tidak harus di negeri," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI