JK Sebut Penafsiran Pancasila Sering Rancu

Agung Sandy Lesmana

Kamis, 15 Agustus 2019 | 13:32 WIB
JK Sebut Penafsiran Pancasila Sering Rancu
Wapres JK menjadi pembicara dalam Kongres Pancasila ke XI di UGM. (Suara.com/Putu).

Suara.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menyebutkan, penafsiran Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia sangatlah beragam. Hal ini yang seringkali justru membuat rancu karena tergantung siapa yang menafsirkannya.

Padahal sudah jelas, Pancasila merupakan dasar negara yang tegas dan simpel. Namun dalam perjalanan sejarah justru penafsiran dan pelaksanaannya yang kadang berbeda.

"Yang jadi masalah kan tujuan bukan dasarnya. Dasarnya sudah ada (Pancasila)," ujar JK saat jadi pembicara utama dalam Kongres Pancasila ke XI di UGM, Kamis (15/8/2019).

Dicontohkan JK, Presiden Soekarno sebagai penggali nilai-nilai yang termaktub dalam Pancasila merupakan sosok yang paling berhak menafsiran Pancasila. Namun, dalam pelaksanaan Pancasila sering kali berbeda tafsir. Pada masa Orde Lama, penafsiran Pancasila salah satunya melalui konsep demokrasi terpimpin. Konsep ini akhirnya cenderung menjadi membuat kekuasaan jadi otoriter.

Penerapan ini bertentangan dengan sila keempat Pancasila yang menyebutkan Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

"Otoriter bertentangan dengan demokrasi Pancasila," ujarnya.

Sementara pada masa Orde Baru di masa kepempinan Presiden Soeharto, penafsiran Pancasila lebih banyak dari sisi administratifnya. Semua hal didoktrinasi Pancasila namun hanya pada permukaannya.

JK pun bercerita, saat menjadi pengusaha dan mendaftarkan diri jadi rekanan Pertamina pada masa Orba, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni sertifikat Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

"Saya harus ikut daftar penataran untuk punya sertifikat P4 dan mengurusnya dua hari di kelurahan agar bisa jadi rekanan Pertamina," kata JK.

baca juga

Indoktrinasi Pancasila semacam itu, lanjut JK, tidak serta merta membuat nilai-nilai Pancasila terimplementasi secara benar. Soeharto maupun Soekarno tetap saja harus turun dari jabatannya secara paksa karena masyarakat yang adil dan makmur sesuai sila Pancasila pun tidak terwujud.

"Jadi sekarang jadi pengingat kita,apa yang jadi kebutuhan kita. Pondasi ujungnya tujuan. Di antara pondasi, dasar (pancasila) dan tujuan, di situlah (harus) ada kebijakan dan program yang sesuai dasar dan pondasinya," katanya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

14 Orang Eks Harokah Islam, DI/TII, dan NII Nyatakan Setia Pada Pancasila

14 Orang Eks Harokah Islam, DI/TII, dan NII Nyatakan Setia Pada Pancasila

News | Selasa, 13 Agustus 2019 | 12:44 WIB

Ajak Jokowi Dialog, FPI: Sisi Mana yang Bertentangan dengan Pancasila?

Ajak Jokowi Dialog, FPI: Sisi Mana yang Bertentangan dengan Pancasila?

News | Senin, 05 Agustus 2019 | 16:28 WIB

Megawati: Pembumian Pancasila Sangatlah Penting

Megawati: Pembumian Pancasila Sangatlah Penting

News | Sabtu, 22 Juli 2017 | 06:02 WIB

Terkini

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:23 WIB

×