Ribut Bubarkan Banser dan FPI, Pengamat: Apa Redakan Ketegangan di Papua?

Pebriansyah Ariefana | Ria Rizki Nirmala Sari | Suara.com

Senin, 26 Agustus 2019 | 12:11 WIB
Ribut Bubarkan Banser dan FPI, Pengamat: Apa Redakan Ketegangan di Papua?
Banser tolak Ustaz Felix Siauw di Balai Kota Jakarta. (Suara.com/Tyo)

Suara.com - Pengamat media sosial dari Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo mengamati sibuknya sebagian pengguna media sosial Twitter untuk berlomba-lomba meramaikan tagar #BubarkanBanser dan #BubarkanFPI. Dirinya mempertanyakan faedah dari kedua tagar tersebut pada masalah yang tengah terjadi di Papua.

Dua tagar itu mendapatkan perhatian lebih hingga Minggu, 25 Agustus 2019 malam. Tagar yang ramai digunakan ialah #BubarkanBanser, #BanserUntukNegeri dan #BubarkanFPI. Tagar tersebut ramai setelah kondisi Papua memanas.

"Apakah perdebatan mereka di ruang publik meredakan ketegangan di Papua? Atau malah menyinggung warga Papua?," kata Hariqo dalam pernyataan persnya, Senin (26/8/2019).

Hariqo menilai sebaiknya oknum dari kedua kelompok Islam tersebut bisa menanggalkan sementara soal persaingan di saat kondisi Papua yang tengah memanas. Hariqo kemudian menceritakan kronologi mengapa kedua tagar itu muncul setelah terjadi sejumlah kerusuhan di Papua. Saat itu, sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan Banser yang tidak berangkat ke Papua untuk ikut mengamankan kerusuhan.

Kiai asal Sleman, Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah malah menjawabnya dengan serius hingga membuat sebuah video. Dalam video itu ia mengatakan bahwa banser bukan polisi, bukan tentara, Banser siap ke Papua kalau ada payung hukumnya, karena negara kita adalah negara hukum.

Video itu lantas direspon oleh Maheer At Thuwailibi yang bertanya soal payung hukum ketika Banser membubarkan pengajian. Dari situlah kemudian pengguna media sosial Twitter pun saling ejek.

“Sejak hari Senin (18/9/2019) hingga hari ini saya catat, selain Gus Miftah dan Maheer, beberapa akun juga memanas-manaskan situasi, menaikkan kelompoknya menjatuhkan yang lain, menyampaikan analisis yang menguntungkan separatisme, bergerak sesuai kepentingan masing-masing. Ada tagar #BubarkanBanser dan #BubarkanFPI," ujarnya.

Dari kacamatanya, kejadian saling maki tersebut bukan hanya terjadi kali pertama ini saja. Ketika ada yang meninggal ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua, bukannya ucapan bela sungkawa yang diucapkan, namun mempertanyakan posisi Banser. "Untuk Banser, saya seratus persen yakin, tidak semua anggota banser, tidak semua warga NU setuju dengan beberapa aksi Banser di lapangan. Jangan hanya benar, tapi juga harus pantas, begitu yang diajarkan salah seorang Ketua PB NU," ucapnya.

Dengan demikian, Hariqo berharap kalau masyarakat bisa lebih dewasa ketika terjadi sebuah peristiwa di tanah air. Melakukan pencarian fakta dan menebarkan kedamaian minimal melalui media sosial mungkin bisa menyumbangkan kondisi menjadi dingin. Hal itu disampaikan olehnya lantaran menurutnya belum tentu saat menyebarkan konten yang menguntungkan satu golongan, juga menguntungkan kepentingan nasional.

"Bukankah ada kaidah fiqih, alkhuruj minal khilaf mustahab (menghindari perbedaan pendapat lebih dicintai, setidaknya untuk sementara waktu, atau tidak dilakukan terbuka dulu, demi kepentingan NKRI yang lebih besar?" tanyanya.

Dirinya juga menambahkan bahwa saat ini ada krisis kepercayaan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Hal itu bisa dihilangkan apabila masing-masing dari kelompok tersebut bisa saling bertabayyun dan lebih mengedepankan semangat persaudaraan.

"Sebab negara yang warganya sudah saling curiga mudah sekali diadu domba, dikuasai. Terasa enggak, sekarang kita saling mencurigai? Terasa enggak, kita sudah dikuasai?. Ke depan mari sama-sama kita berubah," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Abu Janda: FPI yang Rasis, Kok Minta Banser Dibubarkan?

Abu Janda: FPI yang Rasis, Kok Minta Banser Dibubarkan?

News | Senin, 26 Agustus 2019 | 11:22 WIB

Habib Rizieq Lama Tak Pulang, PKPI: Kerja Apa di Arab Saudi?

Habib Rizieq Lama Tak Pulang, PKPI: Kerja Apa di Arab Saudi?

News | Senin, 26 Agustus 2019 | 08:16 WIB

Heboh Tagar Bubarkan Banser, Eks PA 212 Sindir Warganet

Heboh Tagar Bubarkan Banser, Eks PA 212 Sindir Warganet

News | Senin, 26 Agustus 2019 | 07:30 WIB

Rizieq Shihab Tuding Pemerintah Intervensi Saudi, Kemlu Ogah Komentar

Rizieq Shihab Tuding Pemerintah Intervensi Saudi, Kemlu Ogah Komentar

News | Minggu, 25 Agustus 2019 | 04:15 WIB

Rizieq Shihab Sebut Jokowi Presiden Ilegal?

Rizieq Shihab Sebut Jokowi Presiden Ilegal?

News | Sabtu, 24 Agustus 2019 | 16:42 WIB

Terkini

Kader PSI Bro Ron Jadi Korban Pemukulan, Ahmad Ali: Siapapun Pelakunya Harus Bertanggung Jawab

Kader PSI Bro Ron Jadi Korban Pemukulan, Ahmad Ali: Siapapun Pelakunya Harus Bertanggung Jawab

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 20:26 WIB

Respons Kapolri Soal Reformasi Polri, Siap Tindak Lanjuti Rekomendasi di Depan Prabowo

Respons Kapolri Soal Reformasi Polri, Siap Tindak Lanjuti Rekomendasi di Depan Prabowo

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 20:24 WIB

Misteri Isi 10 Buku Reformasi Polri, Prabowo Setuju Kompolnas Diperkuat dan Jabatan Dibatasi

Misteri Isi 10 Buku Reformasi Polri, Prabowo Setuju Kompolnas Diperkuat dan Jabatan Dibatasi

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 20:09 WIB

Hapus Jejak Masa Lalu! Ketua Komisi XIII DPR Setuju Hak untuk Dilupakan Masuk RUU HAM

Hapus Jejak Masa Lalu! Ketua Komisi XIII DPR Setuju Hak untuk Dilupakan Masuk RUU HAM

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 20:04 WIB

Periksa Plt Bupati Cilacap, KPK Telusuri Pemerasan pada Periode Sebelumnya

Periksa Plt Bupati Cilacap, KPK Telusuri Pemerasan pada Periode Sebelumnya

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 19:59 WIB

Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden

Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 19:55 WIB

33 Tahun Tanpa Keadilan, Kasus Marsinah Disebut Jadi Alarm Bahaya Kebangkitan Militerisme

33 Tahun Tanpa Keadilan, Kasus Marsinah Disebut Jadi Alarm Bahaya Kebangkitan Militerisme

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 19:48 WIB

KPK Periksa Eks Staf Ahli Menhub Terkait Dugaan Suap Proyek Jalur Kereta

KPK Periksa Eks Staf Ahli Menhub Terkait Dugaan Suap Proyek Jalur Kereta

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 19:42 WIB

Partai Buruh Kritik Sistem Pemilu Berbiaya Tinggi: Hanya Pemilik Modal dan Massa Besar yang Bertahan

Partai Buruh Kritik Sistem Pemilu Berbiaya Tinggi: Hanya Pemilik Modal dan Massa Besar yang Bertahan

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 19:14 WIB

Gibran Kecam Keras Pelecehan 50 Santriwati di Pati: Tidak Bisa Ditoleransi!

Gibran Kecam Keras Pelecehan 50 Santriwati di Pati: Tidak Bisa Ditoleransi!

News | Selasa, 05 Mei 2026 | 18:55 WIB