Pengaruh Kabut Asap, Bikin Suhu Udara di Sumatera Barat Lebih Dingin

Chandra Iswinarno

Selasa, 17 September 2019 | 11:46 WIB
Pengaruh Kabut Asap, Bikin Suhu Udara di Sumatera Barat Lebih Dingin
Ilustrasi Kabut Asap. [Klik Positif]

Suara.com - Akibat musim kemarau dan kabut asap yang menyelimuti sebagian daerah di Sumatera Barat (Sumbar) membuat suhu udara di wilayah tersebut semakin terasa dingin.

Perubahan tersebut dirasakan signifikan oleh warga yang berada di Kabupaten Pesisir Selatan dalam beberapa waktu belakangan.

"Biasanya suhu suka membuat gerah (suhu iklim). Tapi, beberapa hari belakangan ini. Meski sudah siang masih terasa sejuk," kata seorang warga di Nagari Kambang Utara, Lengayang-Pessel Iwen (36) kepada Klikpositif.com-jaringan Suara.com, Selasa (17/9/2019).

Meski begitu, ia tidak mengetahui yang mempengaruhi terjadinya perubahan iklim tersebut. Namun, jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, ia merasa lebih canggung.

"Ini paling terasa, Sabtu (14/9) lalu. Biasanya hujan tidak seperti ini dinginnya," ujarnya.

Sementara dari pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memang disebutkan terjadi perubahan suhu yang signifikan di wilayah Sumbar. Perubahan tersebut terjadi dari 22,7 derajat celcius menjadi sebesar 18,6 derajat celcius.

"Sehingga dapat dikategorikan sebagai (perubahan suhu) ekstrem. Fenomena suhu udara yang dingin ini memang lumrah terjadi pada saat musim kemarau," kata Kepala Seksi BMKG Minangkabau Yudha Nugraha.

Disebutkannya, perubahan suhu iklim memang hampir terjadi setiap kemarau. Lantaran, tidak ada awan yang terbentuk pada atmosfer, hingga mengakibatkan permukaan bumi mampu melepas radiasi gelombang panjang ke atmosfer.

"Selain itu kondisi pada saat musim kemarau cenderung memiliki kelembaban udara yang rendah atau kering, yang berarti tidak adanya uap air yang cukup di udara untuk menahan panas di bumi sehingga kondisi ini semakin menurunkan suhu udara pada malam hari," jelasnya.

baca juga

Selain pengaruh kemarau, penurunan suhu juga dipengaruhi karena adanya kabut asap. Karena saat terjadi kabut asap, radiasi matahari tidak dapat masuk ke permukiman bumi.

"Mengingat kondisi asap sudah mulai berkurang, dalam dua atau tiga hari ini suhu minimum diperkirakan akan kembali ke normalnya sekitar 21-22 derajat," katanya.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selain ISPA, Penyakit Lambung dan Dehidrasi Juga Ancam Korban Kabut Asap

Selain ISPA, Penyakit Lambung dan Dehidrasi Juga Ancam Korban Kabut Asap

Health | Selasa, 17 September 2019 | 11:27 WIB

Pegiat Lingkungan Ancam Bawa Masalah Karhutla ke Meja PBB

Pegiat Lingkungan Ancam Bawa Masalah Karhutla ke Meja PBB

News | Selasa, 17 September 2019 | 08:09 WIB

Tak Cuma Manusia, Orangutan di Kalteng Ikut Terserang ISPA Akibat Karhutla

Tak Cuma Manusia, Orangutan di Kalteng Ikut Terserang ISPA Akibat Karhutla

News | Selasa, 17 September 2019 | 07:55 WIB

Kabut Asap Bikin Repot Penumpang Pesawat

Kabut Asap Bikin Repot Penumpang Pesawat

Jogja | Selasa, 17 September 2019 | 06:10 WIB

Terkini

Samsung Galaxy A18 Hadir di Indonesia, Bawa AI Gemini yang Bikin Aktivitas Lebih Praktis

Samsung Galaxy A18 Hadir di Indonesia, Bawa AI Gemini yang Bikin Aktivitas Lebih Praktis

Tekno | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Negara Ditaksir Rugi Rp600 Miliar Akibat Tambang Emas Ilegal Sangihe

Negara Ditaksir Rugi Rp600 Miliar Akibat Tambang Emas Ilegal Sangihe

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Berkedok Distributor, 3 Toko Miras di Surabaya Disegel Usai Nekat Jual Eceran ke Warga

Berkedok Distributor, 3 Toko Miras di Surabaya Disegel Usai Nekat Jual Eceran ke Warga

Jatim | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:23 WIB

Huntap Belum Rampung, Aceh Minta PLN Lanjutkan Pasokan Listrik untuk Korban Banjir

Huntap Belum Rampung, Aceh Minta PLN Lanjutkan Pasokan Listrik untuk Korban Banjir

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah

Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah

Sulsel | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:17 WIB

Warna Pakaian Pembawa Hoki Menurut Feng Shui, Intip Outfit Wanita Terbaik untuk 12 Shio

Warna Pakaian Pembawa Hoki Menurut Feng Shui, Intip Outfit Wanita Terbaik untuk 12 Shio

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:17 WIB

Konflik Arab Saudi-Houthi Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Konflik Arab Saudi-Houthi Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:15 WIB

Akhiri Teror Puluhan Tahun, Benteng Gajah 138 Km Way Kambas Siap Diresmikan Prabowo

Akhiri Teror Puluhan Tahun, Benteng Gajah 138 Km Way Kambas Siap Diresmikan Prabowo

Lampung | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

AI Bisa Deteksi Anomali Mesin dan Analisis Cara Kerja Karyawan, Ini Solusi NEC Indonesia

AI Bisa Deteksi Anomali Mesin dan Analisis Cara Kerja Karyawan, Ini Solusi NEC Indonesia

Tekno | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan

Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:04 WIB

×