PoliticaWave: Fokus Kampanye Programatik dan Empatik Bawa Jokowi 2 Periode

Iwan Supriyatna

Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:10 WIB
PoliticaWave: Fokus Kampanye Programatik dan Empatik Bawa Jokowi 2 Periode
Joko Widodo atau Jokowi saat diambil sumpah sebagai Presiden RI 2019-2024. (Antara)

Suara.com - Istilah buzzer kembali ramai diperbincangkan dalam sebulan terakhir. Ada yang berpendapat bila buzzer itu netral, namun ada pula yang curiga buzzer itu bagian dari permainan politik. Sesungguhnya, belum ada pemahaman yang sama tentang apa itu buzzer dan merujuk pada siapa.

Merujuk sebuah makalah yang berjudul "Social Media, Propaganda of Hate, and Epidemics of Post-Truth: A Study of Indonesian Presidential Election 2019", buzzer politik menjadi tema diskusi dalam sebuah konferensi yang bertajuk “Searching for the Next Level of Human Communication: Human, Social, and Neuro (Society 5.0)” yang diselenggarakan di Bali beberapa waktu lalu.

Penyelenggara konferensi tersebut adalah ICA (International Communication Association) Regional Asia-Pasifik yang bekerja sama dengan Aspikom (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi). Sedangkan para penulis makalah tersebut adalah peneliti-peneliti Aspikom yang terdiri dari Irwan Julianto, Eriyanto, Sony Subrata, dan Agus Sudibyo.

Menurut Irwan Julianto, dirinya menyoroti salah paham yang muncul tentang penelitian Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dari Oxford Internet Institute yang bertajuk “The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation”.

Keberadaan buzzer politik di berbagai negara termasuk Indonesia, juga menjadi objek penelitian Irwan Julianto. Penelitian-penelitian ini banyak digunakan sebagai acuan diskusi publik tentang buzzer politik di Indonesia belakangan.

“Saya menemukan beberapa kesalahpahaman di penelitian Bradshaw dan Howard. Penelitian ini menunjukkan banyak negara di dunia, 87% dari 70 negara yang diteliti, telah mempraktekkan penggunaan akun manusia (80%), akun bot atau cyborg (11%) dan akun retasan (7%) untuk kebutuhan propaganda politik,” ucap Irwan dalam keterangannya, Minggu (20/10/2019).

“Untuk kasus di Indonesia, Bradshaw dan Howard menemukan penggunaan akun bot dan akun yang dikelola manusia untuk menyebarkan pesan-pesan yang mendukung posisi Pemerintah dalam isu tertentu. Namun di saat yang sama, Bradshaw dan Howard tidak menemukan data yang meyakinkan terkait upaya pemerintah Indonesia memanipulasi opini publik melalui media sosial,” ujar Irwan.

Irwan menambahkan, dirinya menemukan perbedaan hasil penelitian saat melakukannya di China, Kamboja, Rusia, Iran dan Israel. Irwan menilai, Di negara-negara tersebut, setidaknya ada tiga kementerian atau lembaga resmi yang mampu menggiring opini masyarakat melalui media sosial.

“Jadi, kalaulah ada pasukan siber yang operasinya menguntungkan posisi Pemerintah di Indonesia, mereka tidak digerakkan oleh Pemerintah secara langsung. Mereka kemungkinan digerakkan kelompok-kelompok yang bersimpati pada pemerintah,” tambah Irwan.

baca juga

Dalam kesempatan tersebut, Irwan juga menyayangkan pihak-pihak yang dinilai tidak membaca secara cermat hasil penelitian dari Oxford Internet Institute. Irwan menyebut, hasil kajian mereka menyatakan bila bahwa Pemerintah Indonesia telah menggunakan buzzer secara organik untuk menggiring opini publik.

“Penelitian Oxford tidak menyimpulkan sejauh itu. Pemerintah Indonesia justru diidentifikasi lebih menahan diri dibandingkan pemerintah Negara lain dalam hal penggunaan media-sosial untuk pembentukan opini masyarakat. Kalaupun ada buzzer yang mendukung pemerintah, kan tidak otomatis berarti mereka dibiayai pemerintah,” kata Irwan.

Di akhir kesempatan, Irwan juga memaparkan hasil temuan dari lembaga pemantau media sosial PoliticaWave. Irwan mengungkapkan, selama masa kampanye Pilpres 2019, Capres Petahana Jokowi menjadi objek yang paling mendapatkan serangan hoaks dan ujaran kebencian dari pesaingnya di berbagai media sosial.

“Berbagai isu mulai dari isu komunisme, pro LGBT, anti Islam, dan kriminalisasi terhadap ulama dan Pro China digunakan untuk menyudutkan Jokowi secara bertubi-tubi di media sosial. Namun Jokowi tetap fokus dengan kampanyenya yang programatik dan empatik, sehingga bisa memenangkan pilpres dengan perolehan suara 55,5% dari total suara nasional,” tutup Irwan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Besok, Jokowi Umumkan Kabinet Kerja Jilid 2

Besok, Jokowi Umumkan Kabinet Kerja Jilid 2

Video | Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:10 WIB

Sudah Jadi Anggota DPR, Mulan Jameela Cuma Nyelonong Menolak Diwawancara

Sudah Jadi Anggota DPR, Mulan Jameela Cuma Nyelonong Menolak Diwawancara

News | Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:09 WIB

Pesan Gus Mus ke Jokowi-Maruf: Jangan Pilih yang Tawarkan Diri Bantu Bapak

Pesan Gus Mus ke Jokowi-Maruf: Jangan Pilih yang Tawarkan Diri Bantu Bapak

News | Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:05 WIB

Terkini

12 Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2026: Leo dan Libra Beruntung, Capricorn Waspada Konflik

12 Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2026: Leo dan Libra Beruntung, Capricorn Waspada Konflik

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 06:22 WIB

Karhutla Memanas, Kabut Asap Selimuti Kota Palembang

Karhutla Memanas, Kabut Asap Selimuti Kota Palembang

Foto | Kamis, 06 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

×