Gejala Intoleransi Menguat Pada Periode Kedua di Awal Kepemimpinan Jokowi

Chandra Iswinarno | Ummi Hadyah Saleh | Suara.com

Minggu, 03 November 2019 | 16:15 WIB
Gejala Intoleransi Menguat Pada Periode Kedua di Awal Kepemimpinan Jokowi
Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Periode awal kepemimpinan kedua Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dihadapkan dengan fenomena meningkatnya gejala intoleransi. Fenomena tersebut tergambar dalam hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Dari hasil survei LSI tersebut menunjukkan adanya peningkatan intoleransi di awal periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi.

"Secara umum belum ada perbaikan dalam indikator beragama dan berpolitik. Dibanding 2018, tahun 2019 cenderung stagnan. Dan dibandingkan 2017 dan 2016, tampak situasi lebih buruk," ujar Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan saat merilis hasil survei 'Tantangan Intoleransi dan Kebebasan Sipil serta Modal Kerja pada Periode Kedua Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)' di Hotel Erian, Jakarta pada Minggu (3/11/2019).

Temuan hasil survei LSI, jelas Djayadi, menunjukkan warga muslim yang keberatan terhadap non-muslim dalam membangun rumah ibadah sebesar 53 persen. Hanya 36,8 persen muslim yang mengaku tidak keberatan dengan hal itu.

"Dalam soal non-muslim mengadakan acara keagamaan/kebaktian di sekitar mereka, hasilnya lebih baik. Yang keberatan hanya 36,4 persen dan tidak merasa keberagan 54 persen," katanya.

Tak hanya itu, Djayadi menuturkan dalam temuan LSI intoleransi dalam hal politik juga tinggi. Mayoritas muslim kata Djayadi merasa keberatan jika non-muslim menjadi kepala pemerintahan di tingkat kabupaten/kota, gubernur, wakil presiden, dan presiden.

"Yang keberatan jika non-muslim menjadi presiden sebesar 59,1 persen. Yang tidak keberatan 31,3 persen. Yang keberatan jika non-muslim menjadi wakil presiden sebesar 56,1 persen. Yang tidak keberataan 34,2 persen. Yang keberatan jika non-muslim menjadi gubernur sebesar 52 persen. Yang tidak keberatan 37,9 persen. Yang keberatan jika non-muslim menjadi wali kota/bupati sebesar 51,6 persen. Yang tidak keberatan 38,3 persen," ucap dia.

LSI juga melakukan survei, soal sikap intoleran kalangan muslim juga dalam hubungan antara mayoritas dan minoritas. Djayadi melanjutkan, temuan LSI menunjukan cukup banyak muslim yang setuju umat agama minoritas di Indonesia harus ikut kemauan muslim mayoritas dengan presentase sebanyak 37,2 persen.

"Tapi hanya 14,8 persen yang setuju jika umat Islam yang menjadi minoritas di negara lain harus mengikuti mayoritas di negara tersebut," kata dia.

"Karena itu bisa dimengerti jika ada 67,4 persen muslim yang setuju dan sangat setuju bila pemerintah seharusnya mengutamakan Islam dalam kehidupan berbangsa beragama dan bernegara. Karena Islam merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Sementara, muslim yang berpandangan sebaliknya hanya 23,9 persen," katanya.

Untuk diketahui, survei tersebut dilaksanakan sejak 8 September sampai 17 September 2019 dan melibatkan 1.550 responden yang terpilih secara acak. Jumlah margin of error kurang lebih 2,5 persen pada tingkat kepercayaannya mencapai 95 persen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

MPU Aceh Terbitkan Fatwa Haram Radikalisme

MPU Aceh Terbitkan Fatwa Haram Radikalisme

News | Sabtu, 12 Oktober 2019 | 03:10 WIB

Kebaktian Kristen di Depan Masjid Darussalam, Bukti Toleransi di Jakarta

Kebaktian Kristen di Depan Masjid Darussalam, Bukti Toleransi di Jakarta

News | Senin, 02 September 2019 | 12:26 WIB

Sebut UAS Komedian, Politikus PKPI Diserbu Warganet

Sebut UAS Komedian, Politikus PKPI Diserbu Warganet

News | Minggu, 18 Agustus 2019 | 13:07 WIB

Viral Ceramah Salib UAS, Pastor Gilbert: Sepertinya Ustaz Udah Offside

Viral Ceramah Salib UAS, Pastor Gilbert: Sepertinya Ustaz Udah Offside

News | Minggu, 18 Agustus 2019 | 11:13 WIB

Pemilu 2019 Sebabkan Indeks Kebebasan Berkeyakinan Indonesia Turun

Pemilu 2019 Sebabkan Indeks Kebebasan Berkeyakinan Indonesia Turun

News | Senin, 29 Juli 2019 | 14:56 WIB

Terkini

Berani! Anggota DPR Polandia Pamer Bendera Israel Bergambar Nazi di Sidang Parlemen

Berani! Anggota DPR Polandia Pamer Bendera Israel Bergambar Nazi di Sidang Parlemen

News | Kamis, 16 April 2026 | 09:14 WIB

Menaker Dorong Balai K3 Perkuat Pencegahan, Tekan Angka Kecelakaan Kerja

Menaker Dorong Balai K3 Perkuat Pencegahan, Tekan Angka Kecelakaan Kerja

News | Kamis, 16 April 2026 | 08:39 WIB

Dalih Akses Sulit, Pasukan Oranye di Matraman Sapu Sampah ke Sungai: Langsung Kena SP1

Dalih Akses Sulit, Pasukan Oranye di Matraman Sapu Sampah ke Sungai: Langsung Kena SP1

News | Kamis, 16 April 2026 | 08:35 WIB

Bela Donald Trump, Ketua DPR AS Sebut Paus Leo XIV Harusnya Siap Dikomentari

Bela Donald Trump, Ketua DPR AS Sebut Paus Leo XIV Harusnya Siap Dikomentari

News | Kamis, 16 April 2026 | 08:16 WIB

PM Armenia Pamer Kedeketan dengan Rusia, Komunikasi Sangat Intensif

PM Armenia Pamer Kedeketan dengan Rusia, Komunikasi Sangat Intensif

News | Kamis, 16 April 2026 | 08:11 WIB

Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran

Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran

News | Kamis, 16 April 2026 | 07:26 WIB

Rusia Bela Hak Nuklir Iran, Lavrov Sebut Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai

Rusia Bela Hak Nuklir Iran, Lavrov Sebut Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai

News | Kamis, 16 April 2026 | 07:21 WIB

Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian

Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian

News | Kamis, 16 April 2026 | 07:17 WIB

ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru

ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru

News | Rabu, 15 April 2026 | 23:00 WIB

H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen

H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen

News | Rabu, 15 April 2026 | 22:30 WIB