Suara.com - Ketua fraksi Nasdem DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino menanggapi pertanyaan tentang jurang generasi atau generation gap di DPRD yang dibahas di acara Q&A episode "Anggota Dewan Media Sosial" yang tayang pada Minggu (10/11/2019) malam di Metro TV.
Awalnya diperlihatkan pernyataan dari Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Muhammad Taufik dan Abdurrahman Suhaimi. Mereka menanggapi aksi anggota DPRD muda yang telah membongkar anggaran tidak wajar.
Muhammad Taufik mengomentari sikap fraksi PSI yang melaporkan temuan anggaran aneh Pemprov DKI Jakarta ke media sosial. Menurut Taufik, sikap seperti itu etikanya tidak baik.
Sementara itu Abdurrahman Suhaimi berpendapat bahwa hanya dokumen resmi yang sudah diajukan ke DPRD yang boleh diupload. Sehingga jika yang belum resmi sudah diupload akan menjadi masalah.
Pengamat politik Agus Pambagyo yang hadir dalam acara Q&A ini memberikan tanggapannya.
"Yang bicara tadi kan kolonial, kalian kan millenial, jadi beda persepsinya," ucapnya.
Lalu pembawa acara Andini Effendi bertanya, "Benar gak ada Generation Gap, kerasa gak sih di dalam DPRD DKI itu, kita publik ingin tahu karena muda-muda ini kalian, adakah generation gap itu?"
Ketua fraksi Nasdem DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino merasa tidak ada perbedaan pemikiran antara anggota dewan yang senior dengan yang muda.
"Enggak ada, kalau saya mah kalau bener saya hajar terus sampai ujung, kalau salah ya salah, gitu aja kan," ucap Wibi Andrino yang disambut tepuk tangan penonton.
Politisi Nasdem berusia 33 tahun ini menambahkan, "Kita ingin ini menjadi suatu role model baru untuk Indonesia bahwa dalam hal perencanaan saja sudah dipublish di publik, karena agar mereka tahu ini pemerintah siap atau enggak sih menyusun anggaran itu."
Dalam acara Q&A Metro TV yang tayang pada Minggu (10/11/2019) hadir pula anggota DPRD DKI Jakarat dengan usia muda lainnya. Seperti Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta fraksi PAN Zita Anjani (29 tahun) dan William Aditya Sarana (23 tahun) dari fraksi PSI.
William lah yang mulai membongkar keanehan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Ia membeberkan anggaran pembelian lem Aibon senilai Rp82 miliar lebih oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
William mengungkap hal itu ke media sosial dan viral. Setelah banyak yang me-retweet cuitan itu, William pun membongkar satu per satu anggaran mencurigakan Pemprov DKI Jakarta.
Misalnya anggaran pengadaan alat tulis kantor (ATK) pulpen Disdik DKI Jakarta sebesar Rp123,8 miliar, pengadaan jasa influencer Rp5 miliar, anggarkan Rp121 miliar lebih untuk pengadaan komputer/PC dan anggaran sebesar Rp166,2 miliar untuk pembangunan septic tank komunal.