Perihal Rocky Gerung, Andi Arief: PDIP Dikuasai Faksi Otot

Reza Gunadha | Husna Rahmayunita
Perihal Rocky Gerung, Andi Arief: PDIP Dikuasai Faksi Otot
Rocky Gerung. (Suara.com/Novian)

Andi Arief pelapor Rocky sebagai preman.

Suara.com - Ramainya pernyataan pengamat politik Rocky Gerung yang menyebut presiden tidak mengerti Pancasila turut mendapat komentar dari politikus Partai Demokrat Andi Arief.

Andi justru menyoroti sikap politikus PDI Perjuangan yang melaporkan Rocky Gerung ke polisi atas kiritikannya. Menurut Andi Arief, laporan itu terjadi karena PDI Perjuangan kini diisi oleh sebagian orang yang mengedepankan kekuatan otot bukan otak.

Pernyataan tersebut disampaikan Andi Arief melalui cuitan yang dibagikan melalui jejaring Twitter pribadinya @AndoArief__, Senin (9/12/2019).

Andi bahkan menyebut orang yang melaporkan Rocky Gerung ke polisi sebagai preman.

"Kawan-kawan PDIP yang sekarang ada dan mendapatkan posisi dalam partau dan kekuasaan -- mayoritas PDIP otot--. Faksi otak tersingkir. Itu penjelasan kenapa preman seperti Hendriyosodiningrat melaporkan Rocky Gerung," tulis Andi Arief.

Sebelumnya, pernyataan Rocky Gerung yang menyebut Presiden tidak mengerti Pancasila dialam acara ILC TV One bertajuk "Maju Mundur FPI"pada Selasa lalu, membuat geger khalayak. Menurutnya, jika presiden paham maka tidak akan melanggar sila-sila di Pancasila.

Rocky Gerung awalnya berbicara tentang ormas. Ia mengatakan bahwa ada banyak logika yang kacau disampaikan ke publik terkait polemik perpanjangan izin FPI ini.

"Kalau dia ormas, memang dia musti berbeda dengan pemerintah. Kalau ormas sama dengan pemerintah ya namanya orneg, organisasi negara," ucapnya

Cuitan Andi Arief soal Rocky Gerung. (Twitter/@AndiArief__)
Cuitan Andi Arief soal Rocky Gerung. (Twitter/@AndiArief__)

Ia juga menyebut dirinya tidak Pancasila-is, tapi tidak anti Pancasila. Karena menurutnya, tidak masuk akal Pancasila dijadikan ideologi negara.

Rocky juga menyebut pemerintah telah melanggar Pancasila karena tidak menerapkan keadilan sosial. 

Ia mengatakan, "Saya tidak Pancasila-is, siapa yang berhak menghukum saya atau mengevaluasi saya, harus orang yang sudah Pancasila-is, siapa di Indonesia? Enggak ada".

"Polisi Pancasila atau Presiden enggak ngerti Pancasila kan? Dia hafal tapi enggak paham. Kalau dia paham, dia enggak berhutang. Kalau dia paham dia enggak naikin BPJS. Kalau dia paham dia enggak melanggar Undang-undang lingkungan," imbuhnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS