Cegah Corona, Kapal China yang Masuk ke Kalimantan Diberhentikan

Pebriansyah Ariefana

Senin, 27 Januari 2020 | 13:28 WIB
Cegah Corona, Kapal China yang Masuk ke Kalimantan Diberhentikan
Ilustrasi tes darah untuk mengetahui pasien terinfeksi virus corona (coronavirus) atau tidak. (Shutterstock)

Suara.com - Kapal China yang masuk ke Kalimantan Tengah diberhentikan terlebih dulu di luar pantai dengan jarak 2 mil lepas pantai. Mereka diperiksa dulu sebelum berlabuh.

Hal itu untuk mencegah penyebaran virus corona. Pemeriksaan dilakukan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Sampit melalui KKP wilayah kerja Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Otoritas menerapkan zona karantina di dua mil dari pantai bagi kapal asing terutama China yang akan masuk ke perairan Kumai.

"Kapal asing yang akan masuk ke perairan Kumai harus berhenti di zona karantina yaitu 2 mil lepas pantai. Sebelum dinyatakan clear maka tidak diperbolehkan masuk dan sandar ke pelabuhan," kata Kepala Seksi Pengendalian Kekarantinaan dan Surveilance Epidemiologi (PKSE) KKP Kelas III Sampit Sahuri di Pangkalan Bun, Senin (27/1/2020).

Dijelaskannya, kapal yang berhenti di zona karantina nantinya akan dipemeriksa oleh karantina dari KKP dan dilakukan pendeteksian virus corona (Ncov) menggunakan alat thermal scanner portable atau alat pemindai suhu tubuh. Skrining menggunakan alat alat pemindai suhu tubuh tersebut untuk mendeteksi suhu tubuh suhu para anak buah kapal atau ABK dan kru kapal lainnya. Jika dalam pemeriksaan suhu tubuh tersebut ditemukan ada ABK yang suhu tubuhnya di atas 39 derajat Celcius, maka akan dilakukan pengamanan dan penanganan lebih lanjut.

Selain itu dilakukan pengecekan terhadap dokumen karantina dan pendeteksian terhadap sanitasi kapal, baik kamar ABK maupun di seluruh ruang kapal. Hal itu untuk memastikan tidak ada vektor yang terdapat pada binatang yang membawa virus corona seperti pada binatang kecoa.

"Setiap kapal asing yang akan memasuki perairan di wilayah tertentu di seluruh dunia ada tanda bendera kuning yang dinaikan dan ketika sudah dinyatakan clear maka bendera kuning di kapal asing tersebut diturunkan menandakan sudah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan clear," terangnya.

Selain menerapkan zona karantina bagi kapal asing yang hendak berlabuh, KKP wilayah kerja Kotawaringin Barat juga memasang dua alat pemindai suhu tubuh secara permanen di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai dan Bandara Iskandar Pangkalan Bun.

Pemindai suhu tubuh itu untuk memeriksa penumpang pesawat yang turun dari pesawat dengan kamera tersembunyi yang dapat dipantau melalui monitor.

"Kendati demikian sejauh ini belum ada kasus virus corona yang ditemukan di Kotawaringin Timur maupun di Kotawaringin Barat, tapi pengawasan akan terus kita perketat," tegasnya.

baca juga

Kepala KSOP Kelas IV Kumai, Wahyu Prihanto menyampaikan saat ini pihaknya juga sudah melakukan koordinasi untuk pencegahan virus Corona di Kotawaringin Barat, terutama dengan KKP dan Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun bersama dengan KKP Wilayah Kerja Kotawaringin Barat, serta Dinas Kesehatan Kobar telah menggelar rapat koordinasi untuk melakukan langkah-langkah dalam mengantisipasi penyebaran virus corona.

Selain menyiapkan sumber daya manusia, RSUD Sultan Imanuddin juga menyiapkan dan mengatur petugas jaga untuk mengantisipasi pasien yang terserang virus corona.

Selain itu juga disiapkan ruangan khusus atau isolasi, tengah dokter spesialis, perawat analisis dan alat pelindung diri.

Terkait alat pelindung diri, KKP Kelas III Sampit juga akan mendistribusikan ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun dan wilayah kerja pelabuhan laut Kumai, pakaian alat pelindung diri untuk mengantisipasi bila ada yang suspec atau dicurigai terkena NCOV, masing-masing jumlah alat pelindung diri yang didistribusikan berjumlah lima pasang lengkap dengan sepatunya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terisolasi Virus Corona, Khofifah: Mahasiswa Jatim di Wuhan Aman

Terisolasi Virus Corona, Khofifah: Mahasiswa Jatim di Wuhan Aman

Jatim | Senin, 27 Januari 2020 | 13:06 WIB

Gara-gara Virus Corona, Pemerintah China Perpanjang Libur Tahun Baru Imlek

Gara-gara Virus Corona, Pemerintah China Perpanjang Libur Tahun Baru Imlek

Lifestyle | Senin, 27 Januari 2020 | 13:06 WIB

Virus Corona Menghantui China, 5 Mahasiswa UII Masih Tertahan di Nanjing

Virus Corona Menghantui China, 5 Mahasiswa UII Masih Tertahan di Nanjing

Jogja | Senin, 27 Januari 2020 | 13:03 WIB

Kejang-kejang dan Pingsan, Rekam Jejak 2 Pasien RSHS Bandung di Luar Negeri

Kejang-kejang dan Pingsan, Rekam Jejak 2 Pasien RSHS Bandung di Luar Negeri

Jabar | Senin, 27 Januari 2020 | 13:01 WIB

Terkini

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:37 WIB

Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?

Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:14 WIB

Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika

Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:14 WIB

Militer AS 'Berencana' Langgar Konvensi Jenewa 1949, Ancam Stabilitas Dunia

Militer AS 'Berencana' Langgar Konvensi Jenewa 1949, Ancam Stabilitas Dunia

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:09 WIB

Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?

Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:08 WIB

Amerika Serikat Mau Hentikan Bantuan Rp 59,63 Triliun ke Israel

Amerika Serikat Mau Hentikan Bantuan Rp 59,63 Triliun ke Israel

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:59 WIB

Babak Baru Kasus Nadiem Makarim, Sidang Banding Akan Digelar Awal Agustus

Babak Baru Kasus Nadiem Makarim, Sidang Banding Akan Digelar Awal Agustus

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:45 WIB

Usai Diambil Alih, Kawasan Hotel Sultan Akan Disulap Jadi Sumber Baru Pemasukan Negara

Usai Diambil Alih, Kawasan Hotel Sultan Akan Disulap Jadi Sumber Baru Pemasukan Negara

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:43 WIB

Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan

Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:39 WIB

Kondisi Remaja Korban Rudapaksa 27 Pria di Sampang Membaik, Korban Mulai Berani Bercerita

Kondisi Remaja Korban Rudapaksa 27 Pria di Sampang Membaik, Korban Mulai Berani Bercerita

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:30 WIB

×