-
Iran resmi melaporkan Amerika Serikat ke PBB atas dugaan kejahatan perang terhadap warga sipil.
-
Terdapat 42 pelanggaran Nota Kesepahaman Islamabad oleh Amerika Serikat yang merusak stabilitas kawasan.
-
Amerika Serikat memperluas target serangan militer hingga mencakup pabrik dan situs nuklir Iran.
Suara.com - Iran secara resmi mengadukan agresi militer Washington kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB menyusul eskalasi serangan yang kian meluas. Serangan udara beruntun tersebut dituding sengaja menyasar fasilitas publik dan mengancam keamanan dunia.
Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, melayangkan protes keras ini secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Ia menegaskan posisi negaranya menghadapi tindakan sepihak dari Pentagon.
"Amerika adalah agresor, bukan korban," kata Iravani dalam surat resmi tersebut.
![Ledakan di pelabuhan Dayyer, Bushehr [Ist/AryJeay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/12/18760-perang-as-iran.jpg)
Ketegangan diplomatik ini berakar dari ketidakpatuhan sepihak terhadap kesepakatan bersama yang telah ditandatangani kedua belah pihak. Pihak Teheran menilai Washington tidak memiliki iktikad baik sejak awal perundingan berjalan.
Berdasarkan laporan kantor berita IRNA, Iravani menuliskan bahwa hampir segera setelah penandatanganan memorandum kesepahaman dengan Teheran, Washington secara konsisten menolak menerapkan komitmennya.
Tidak hanya sekadar mangkir dari kewajiban, Amerika Serikat disebut secara aktif merusak implementasi poin-poin perdamaian secara sengaja. Tuduhan ini didasarkan pada rekam jejak operasi militer yang terus berlangsung di lapangan.
Secara terperinci, utusan khusus Teheran tersebut mengklaim telah mengantongi puluhan bukti otentik terkait pengingkaran perjanjian oleh Pentagon.
Pihak Iran mencatat sedikitnya 42 pelanggaran jelas dan mendasar terhadap Nota Kesepahaman Islamabad oleh pemerintah Amerika Serikat.
Dampak dari pengabaian hukum internasional ini dinilai bertolak belakang dengan upaya penciptaan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Manuver sepihak tersebut justru memperpanjang masa krisis keamanan global.
"Pelanggaran yang disengaja, diperhitungkan, dan terus-menerus ini telah membahayakan stabilitas kawasan, mengancam perdamaian dan keamanan internasional, serta menunjukkan pengabaian terang-terangan Amerika Serikat terhadap kewajibannya berdasarkan hukum internasional," katanya.
Tuduhan yang dilayangkan Iran tidak hanya sebatas pelanggaran prosedur diplomatik, melainkan sudah masuk ke ranah pelanggaran kemanusiaan berat. Penyerangan terhadap area non-militer menjadi dasar utama laporan ke PBB.
Di sisi lain, Gedung Putih menunjukkan sikap yang sangat keras dan menolak untuk menghentikan operasi militer. Eskalasi serangan justru diprediksi akan semakin meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Presiden AS secara terbuka menyatakan sikap optimistisnya terhadap operasi ini dan menegaskan bahwa gempuran udara akan terus berjalan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi gelombang serangan keempat telah diluncurkan hari ini.
Rencana penyerangan tersebut dipastikan kembali berlanjut esok hari serta hari-hari berikutnya secara berkesinambungan. Pentagon kini tengah menyusun daftar target baru yang mencakup kawasan pabrik hingga fasilitas nuklir strategis.
Sebelum kesepakatan gencatan senjata berakhir, operasi militer koalisi Amerika Serikat hanya difokuskan pada titik-titik vital logistik. Wilayah perairan strategis menjadi pusat perebutan kendali antarkedua negara.
Fokus utama serangan sebelumnya diarahkan pada target-target yang terhubung langsung dengan kendali Iran di Selat Hormuz. Jalur perdagangan minyak internasional tersebut menjadi titik paling rawan gesekan bersenjata.
Namun, arahan terbaru dari kepemimpinan Amerika Serikat mengindikasikan perluasan wilayah operasi militer secara signifikan. Pasukan bersenjata AS bersiap merangsek kembali ke wilayah pedalaman domestik Iran seperti sebelum masa gencatan senjata berlaku.