Pada malam sebelum kakeknya meninggal, Huang menemani kakek-neneknya di koridor. Ia terus mengobrol dengan neneknya hingga tidak menyadari kakeknya kehilangan kesadaran.
Setelah menghabiskan waktu di koridor, akhirnya ada satu tempat tidur tersedia untuk sang kakek sebelum ia meninggal. Huang berada di samping ranjangnya sampai menit terakhir.
Ia menulis di Weibo, media sosial seperti Twitter di China: "Kakek, beristirahatlah dengan tenang. Tidak ada lagi rasa sakit di surga."
"Banyak pasien meninggal tanpa ditemani anggota keluarga dan bahkan tidak bisa saling melihat untuk terakhir kalinya."
Kini neneknya tengah berjuang melawan sakit di rumah sakit, dan Huang menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengannya.
"Obat-obatannya tidak ada yang efektif. Dokter mengatakan kepada saya untuk tidak berharap, dan menurut dokter nenek saya harus berjuang sendiri," katanya.
"Kami hanya menyerahkannya kepada takdir."
Sejak 7 Februari, Xiao Huang merasa tidak enak badan dan sekarang telah dikarantina selama dua minggu di sebuah hotel.
'Ia mulai batuk darah' – Da Chun
Pada awal Januari, Da Chun menceritakan ibunya terserang demam. Awalnya keluarga menyangka ia hanya terkena flu.
Mereka sudah mendengar sedikit tentang penyakit misterius yang secara diam-diam menyebar di kota yang berpenduduk 11 juta itu.
Namun sudah seminggu demamnya tidak juga mereda, meski ia sudah disuntik di klinik. Pada tanggal 20 Januari, ia membawa ibunya ke klinik rawat jalan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang menderita demam.
Untuk diketahui, pada hari yang sama, otoritas China baru mengakui virus corona bisa ditularkan antarmanusia.
Setelah melihat hasil pemindaian di dada dan tes darah, dokter memberi tahu mereka bahwa ibunya telah terinfeksi virus corona baru.
"Hingga kini, saya masih tidak percaya," kata Da Chun.
Namun kabar buruk kembali datang. Dokter mengatakan ibunya, 53 tahun, tidak bisa dirawat di rumah sakit karena mereka tidak memiliki alat tes untuk mengonfirmasi diagnosis.
Peralatan tes hanya tersedia di delapan rumah sakit yang telah ditetapkan pada akhir Januari.
"Dokter dari rumah sakit tersebut mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak memiliki hak untuk merawat ibu saya. Ini adalah komisi kesehatan setempat yang mengalokasikan tempat tidur untuk kasus-kasus yang dikonfirmasi," kata perempuan berusia 22 tahun itu.
"Jadi, dokter tidak bisa melakukan tes virus corona untuk memastikan apakah ibu saya terjangkit, dan tidak bisa menyediakan tempat tidur untuknya."
Da Chun mengatakan ibunya tak harus diisolasi. Dalam grup obrolan yang beranggotakan lebih dari 200 orang di aplikasi WeChat untuk keluarga pasien yang terinfeksi, orang-orang berbagi cerita yang serupa.
Kakak laki-lakinya terpaksa mengantri di rumah sakit untuk memastikan apakah ada tempat tidur yang masih tersedia. Ia pergi ke klinik dengan ibunya supaya bisa langsung disuntik. Namun selama di rumah sakit, mereka melihat banyak pasien meninggal di dalam ruang observasi sebelum menjalani tes ataupun dirawat.
"Mayat-mayat itu dibungkus dan dibawa pergi oleh staf rumah sakit," katanya. "Saya tidak tahu apakah mereka akan dihitung sebagai kematian (disebabkan oleh virus corona baru)."
Kondisi ibunya terus memburuk. Ia mulai batuk darah, dan ada darah di urinnya.
Pada 29 Januari, ibunya akhirnya dirawat di rumah sakit, namun menurutnya tidak mendapat perawatan dan rumah sakit tidak memiliki peralatan memadai di hari-hari awal ibunya dirawat.
Namun dirinya tidak menyerah dan berharap ibunya akan pulih.
--------
Laporan wartawan BBC: Joyce Liu dan Grace Tsoi. Ilustrasi oleh: Gerry Fletcher.