Rumah-rumah Warga Muslim Sengaja Dibakar dalam Kerusuhan Sektarian India

Reza Gunadha
Rumah-rumah Warga Muslim Sengaja Dibakar dalam Kerusuhan Sektarian India
Puluhan wanita berbicara kepada polisi saat aksi duduk di wilayah terdampak kerusuhan setelah bentrokan terjadi antara warga yang mendukung dan menentang uu kewarganegaraan baru di New Delhi, India, Selasa (25/2/2020). (ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/pd/djo)

Warga Muslim disasar terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.

Suara.com - Mohammad Munazir tiba di Delhi, metropolitan India, puluhan tahun lalu, meninggalkan kemiskinan di kampung halamannya, negara bagian Bihar. Ayahnya bekerja sebagai petani yang mengelola kebun orang lain untuk upah tak seberapa.

Awalnya, seperti jutaan migran miskin lain, ia tinggal di dalam gubuk terpal, di pinggiran ibu kota India yang padat.

Ia bekerja di toko penjilidan buku dan pindah ke Khajuri Khas, lingkungan kumuh di timur laut Delhi, tempat dengan tingkat literasi lebih rendah dari rata-rata nasional.

Ketika toko penjilidan buku itu bangkrut, Munazir memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Ia membeli sebuah gerobak, nasi, dan ayam, kemudian mulai berdagang nasi biryani. Bisnisnya sukses.

"Saya bagaikan pahlawan, semua orang suka masakan saya," ujarnya seperti dilansir BBC.

Setiap hari, ia memasak 15 kilogram biryani dan mendapatkan hingga 900 rupee (sekitar Rp174.000) untuk jerih payahnya. Akhirnya hidup Munazir mulai membaik.

Sekitar tiga tahun lalu, Munazir dan saudaranya yang bekerja sebagai supir mengumpulkan 2,4 juta rupee dari tabungan mereka dan membeli sebuah rumah — bangunan dua-lantai sederhana di sebuah jalan sempit.

Di setiap lantai terdapat dua kamar sempit tak berjendela, dapur kecil, dan kamar mandi. Bangunan itu terlalu sesak untuk dua keluarga, tapi bagi Munazir dan kakaknya, ia adalah rumah.

Mereka bahkan memasang pendingin ruangan untuk menjaga keluarga mereka tetap nyaman saat musim panas yang lembap di Delhi.

"[Rumah] ini adalah sarang yang akhirnya saya bangun untuk istri dan enam anak saya setelah berjuang seumur hidup saya," kata Munazir. "Ini satu-satunya hal yang inginkan dalam hidup ini, satu-satunya mimpi saya yang menjadi nyata."

Mimpi itu dilahap api pada Selasa (26/02) pagi pekan lalu.

Rumah Munazir dirampok dan dibakar oleh sekelompok pria muda yang mengenakan topeng dan helm. Mereka menyisir lingkungan perumahan tempat Munazir tinggal, bersenjatakan batang kayu, tongkat hoki, batu, dan botol berisi bensin.

Mereka melantunkan "Jai Shri Ram", atau "Kemenangan bagi Dewa Rama", salam yang telah berubah menjadi slogan maut kelompok radikal Hindu dalam beberapa tahun terakhir.

Khajuri Khas adalah salah satu permukiman kumuh yang dilanda kerusuhan agama paling mematikan di Delhi dalam puluhan tahun, dipicu oleh bentrokan terkait undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial.

Tidak terjadi pembunuhan di sini. Tapi tiga hari kerusuhan dan pembakaran akhirnya memakan lebih dari 40 nyawa, meninggalkan ratusan lainnya terluka dan hilang.

Properti senilai jutaan dolar hancur. Dan ada bukti bahwa warga Muslim disasar terencana, dengan banyak contoh yang menunjukkan beberapa polisi membantu perusuh, atau sekadar mengabaikan mereka.

Terdapat sekitar 200 rumah dan toko di jalanan sempit Khajuri Khas, seperlimanya milik warga Muslim. Namun hampir mustahil membedakan bangunan yang dimiliki warga Muslim dengan yang dimiliki warga Hindu. Bangunan-bangunan itu bahkan berbagi tembok dan garis atap.

Tapi pekan lalu, para perusuh menyasar rumah dan toko milik Muslim dengan mudah. Puing-puing rumah warga Muslim yang tertutup jelaga kini berdiri di samping rumah-rumah warga Hindu yang tak tersentuh dan rapi.

Toko-toko milik umat Muslim serta pusat pelatihan dan pabrik soda terbakar habis. Sedangkan toko-toko milik umat Hindu sudah mulai dibuka.

Satu-satunya hal masih menjadi milik bersama kedua komunitas adalah jalanan yang penuh dengan sisa-sisa kekerasan: kaca pecah, kendaraan terbakar, robekan buku-buku pelajaran, roti yang menjadi arang.

Hanya embik kambing-kambing di antara puing-puing bangunan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Saya sama sekali tidak tahu apakah para perusuh itu orang dalam atau orang luar. Kami tak bisa melihat wajah mereka. Tapi bagaimana mereka bisa mengenali rumah-rumah kami yang tertutup tanpa bantuan warga lokal?" Munazir bertanya-tanya.

Dalam semalam, rasa curiga tumbuh di antara dua komunitas.

Di seberang rumah Munazir yang sekarang habis terbakar terdapat bangunan dua-lantai milik seorang tetangga Hindu yang berdagang daun sirih dan tinggal bersama dua anak laki-lakinya, yang bekerja di perusahaan transportasi umum.

Selama bertahun-tahun, kata Munazir, warga hidup bertetangga dengan damai. "Saya bahkan pernah ngekos di rumahnya. Ia bisa saja keluar rumah dan mencoba berunding dengan massa," kata Munazir. "Mungkin rumah saya bisa diselamatkan."

Pada pagi hari ketika massa mulai memasuki lingkungan perumahan, Munazir serasa dihujam oleh rasa takut tiba-tiba. Ia memanggil polisi dan pemadam kebakaran.

Seorang warga Hindu yang bekerja sebagai guru sekolah berusaha menenangkan pria-pria bersenjata itu dan meminta mereka pergi.

"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Pulanglah," katanya kepada para warga Muslim yang gelisah.

Seorang pria muda beragama Hindu berusaha menghentikan massa yang hendak memasuki jalan lain. Namun para perusuh tidak mau mendengar permohonannya, dan tak lama kemudian melonjak ke jalanan. Pada saat itu Munazir berlari ke rumahnya dan kemudian mengunci pintu depan.

Massa berusaha mendobrak pintu rumah Munazir, dan kemudian beralih ke sebuah masjid tak jauh dari sana, melemparkan bom molotov ke bangunan tersebut. Polisi, kata Munazir, datang enam jam kemudian, dan menuntun para warga Muslim ke tempat aman sambil disaksikan para perusuh, yang kadang-kadang menampar dan melempari warga yang mengungsi dengan batu.

Setelah warga mengungsi bersama polisi, para perusuh memasuki rumah mereka, membakar dan merampok seenaknya. "Kamu beruntung masih hidup," kata seorang polisi kepada Munazir. "Kami akan membawa kamu ke manapun kamu mau."

Ia diminta pergi ke rumah saudaranya di jalan yang dihuni warga mayoritas Muslim tak jauh dari situ.

Ketika ia sampai bersama keluarganya, ia menemukan 70 laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari 11 keluarga setempat telah berlindung di tiga kamar kecil.

Di antara mereka ada seorang perempuan muda yang mengikat bayinya yang baru berumur enam hari ke pinggangnya dan melompati tiga atap untuk sampai ke tempat aman. Semua rumah mereka telah hancur.

Polisi membantu membawa beberapa orang ke tempat itu, dan sedikitnya 40 orang lainnya diselamatkan oleh seorang perempuan gagah berani yang merupakan pemilik bangunan.

"Kami masih bertanya-tanya mengapa polisi tidak kembali ke perumahan dan melindungi rumah-rumah kami. Kenapa mereka tidak memanggil bantuan? Apakah disengaja, ataukah mereka tidak punya cukup tenaga?" kata Fayaz Alam, seorang insinyur muda yang merantau ke Delhi untuk mencari pekerjaan.

Itulah mengapa sebagian besar dari 70 'pengungsi' di Khajuri Khas berutang nyawa kepada Mushtari Khatoon, perempuan tua yang mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan utama, memasuki jalanan yang dilanda kerusuhan, dan mengantarkan perempuan dan anak-anak Muslim ke tempat aman pada pagi-pagi buta.

Ia melewati massa yang mengamuk dan pergi ke lokasi kerusuhan "empat sampai lima kali" untuk membawa mereka sejauh hampir satu kilometer ke rumahnya. Para perempuan dan anak-anak melompat dari atap ke atap sampai mereka menemukan bangunan yang aman untuk keluar.

Khatoon akhirnya menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada polisi.

"Mulai sekarang kami harus melindungi diri kami sendiri. Delhi tidak akan menyelamatkan kami lagi," ujarnya. Ada nada menantang, alih-alih putus asa, dalam suaranya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS