Keputusan Jokowi Tidak Melarang Mudik di Tengah Corona Disorot Media Asing

Reza Gunadha | Rifan Aditya
Keputusan Jokowi Tidak Melarang Mudik di Tengah Corona Disorot Media Asing
Presiden Joko Widodo tiba untuk menyampaikan keterangan pers terkait penangangan COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3). [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]

Dalam artikel "Coronavirus: Jokowi to allow Muslim exodus after Ramadan", media itu menyebut mudik Ramadan membantu penyebaran Covid-19.

Suara.com - Media asing ikut menyoroti keputusan Presiden Joko Widodo yang tidak melarang mudik di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Seperti dalam berita yang dimuat oleh situs theaustralian.com.au pada Jumat (3/4/2020).

Dalam artikel "Coronavirus: Jokowi to allow Muslim exodus after Ramadan", media itu menyebut mudik Ramadan membantu penyebaran Covid-19.

The Weekend Australia juga menyamakan fenomena mudik Ramadan dengan Tahun Baru China yang mana memperburuk penularan corona di Tiongkok.

Dalam artikel itu, disebutkan pula pernyataan dari ahli virologi Universitas Queensland, Ian Mackay.

"Bukti terbaik yang kami miliki untuk tidak mengizinkan migrasi massal saat ini adalah apa yang terjadi di Wuhan ketika lima juta orang meninggalkan kota dan menyebarkan virus ke seluruh China dan seluruh dunia," kata Mackay.

Sang ahli menambahkan, "Itu berasal dari fakta sederhana bahwa jika ada manusia yang rentan di luar sana virus dapat menginfeksi mereka dan jika kita tidak menghentikan gerakan massa ini maka itu akan menyala kembali."

Media asal Australia ini juga mengambil prakiraan dari Universitas Indonesia. Di mana setidaknya 140.000 orang Indonesia bisa meninggal karena corona jika tidak ada langkah-langkah lebih keras pada akhir bulan ini.

Majelis Ulama Indonesia bahkan telah mendesak pemerintah untuk menegakkan larangan mudik bagi umat Islam.

Ahli kesehatan masyarakat, Nurul Nadia mengatakan kebijakan itu "sangat membingungkan" dan kemungkinan akan "bencana".

"Tanpa larangan mudik, kita pasti akan seperti Italia. Bayangkan saja ribuan pembawa asimptomatik yang tampaknya sehat akan kembali ke desa mereka untuk mengunjungi orang tua? Ini bisa menjadi titik awal dari gelombang besar infeksi baru," kata Nurul, dikutip dari theaustralian.com.au, Sabtu (4/4/2020).

Namun menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, menyebut keputusan itu adalah pilihan terbaik di antara sejumlah opsi.

"Bahkan jika kita memilih untuk melarang orang mudik, mereka tetap akan melakukannya. Jadi kami memutuskan untuk memberi tahu mereka bahwa mudik akan membawa penyakit ke keluarga mereka dan lebih baik tidak melakukannya," kata Luhut.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga telah memberi peringatan kepada warganya agar tidak mudik. Namun ia tidak dapat menegakkan pembatasan yang lebih ketat.

Anies selama berminggu-minggu telah mendesak pemerintah pusat untuk melakukan penguncian wilayah. Pasalnya, Jakarta telah menjadi epicentrum virus ini dengan hampir seribu kasus.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS