15 Hari Penuh Arti: Kisah Simon dan Keluarga saat Dinyatakan Positif Corona

Reza Gunadha | Stephanus Aranditio
15 Hari Penuh Arti: Kisah Simon dan Keluarga saat Dinyatakan Positif Corona
ILUSTRASI - Warga berada di dalam bilik disinfektan di salah satu komplek perumahan di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (1/4). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Simon berpesan, siapa pun yang terinfeksi virus corona harus percaya kesembuhan pasti datang kalau disiplin menjaga hidup sehat, menjauhi pikiran negatif, dan terus berdoa.

Suara.com - Simon Nainggolan, lelaki berusia 50 tahun berbagi kisah perjuangannya selama 15 hari melakukan isolasi mandiri di dalam kamar setelah dinyatakan positif terinfeksi virus corona Covid-19, hingga dinyatakan sembuh.

Atas izin Simon kepada Suara.com, dia bersedia untuk bercerita ke publik sebagai semangat bagi masyarakat bahwa penyakit corona bukanlah aib yang harus disebunyikan dan kemungkinan sembuhnya tinggi.

"Nama saya Simon Nainggolan. Izinkan saya berbagi pengalaman menjadi penderita positif COVID19," kata Simon mengawali cerita.

Simon mengatakan, cerita bermula ketika ibu mertuanya mengalami sakit demam dan sesak nafas pada 14 Maret 2020.

Karena tak kunjung sembuh, pada 18 Maret dia membawanya ke RSU Bunda Jakarta untuk diperiksa.

"Ternyata menurut dokter, beliau harus langsung diisolasi di ruang IGD yang sudah diubah menjadi ruang isolasi bagi penderita covid-19," ungkapnya.

Selang dua hari, 20 Maret, Simon mulai merasakan gejala yang sama seperti ibu mertuanya. Gejala tak kunjung sembuh, akhirnya dia mengajak istri dan anaknya untuk memeriksa kesehatan ke dokter paru di RSU Bunda Jakarta pada 23 Maret 2020.

"Hari itu saya dan istri ikut tes swab dan juga rontgen paru-paru. Pada hari berikutnya, dokter paru-paru melihat hasil rontgen, dan menyatakan saya terkena covid-19, karena ada bercak-bercak di paru-paru kanan," ucapnya.

Sepulang dari rumah sakit, sesuai anjuran dokter, Simon langsung mengisolasi diri di rumah, kebetulan ada kamar kosong di lantai 2.

Sejak 23 Maret 2020 itu, Simon hanya mengurung diri di kamar, bahkan tidak pernah melihat istri dan anaknya di rumah.

"Sejak itu saya tidak lagi bertemu dengan siapa pun. Makanan diantar dan diletakkan di pintu kamar. Alat-alat makan saya tersendiri dan saya mencuci sendiri setelah makan," lanjutnya.

Selain asupan makanan bergizi dan buah-buahan, Simon juga mengkonsumsi beberapa vitamin C, D dan E kemudian minum obat jenis paracetamol untuk menurunkan demamnya.

Baru 3 hari isolasi mandiri atau tanggal 26 Maret, Simon mendapatkan kabar buruk: ibu mertuanya yang dirawat di RSU Bunda meninggal dunia sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.

Semua proses penguburan sang ibu diurus oleh Istrinya. Dirinya hanya membantu dari kamar untuk proses pemakaman.

"Sungguh sebuah pukulan yang luar biasa menyedihkan. Di sinilah kepedihan demi kepedihan kami harus jalani," ucapnya.

Singkat cerita, pukul 08.00 paginya, jenazah sang ibu dimakamkan di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat dengan prosedur pemakaman jenazah covid-19 dan hanya disaksikan istri dan seorang pendeta yang mendoakan.

"Esok harinya, istri saya menangis, memohon agar saya dapat berjuang melawan penyakit ini. Dia mengatakan tak akan sanggup lagi kalau harus menguburkan lagi orang yang dia kasihi. Hati saya hancur mendengarnya, sekaligus mendorong saya untuk harus bangkit dan melawan virus ini," tuturnya.

Tanggal 30 Maret 2020, dari dalam kamar dia kembali mendapatkan kabar buruk. Hasil tes swab terbit: dia dan sang istri positif Covid-19.

"Istri saya sendiri tidak mengalami demam sama sekali. Jadi dia masih bisa beraktivitas di rumah menyiapkan banyak hal-hal untuk mendukung pemulihan saya. Kami beruntung, hasil tes swab anak, negatif," lanjutnya.

Sejak dinyatakan positif, konsumsi vitaminnya semakin ditambah. Simon menyebut dirinya bisa minum vitamin hingga 2000 miligram setiap hari, minum air putih lebih dari 3 liter per hari, dan minum rebusan daun sirih merah.

"Kalau malam itu, tenggorokan rasanya sangat-sangat kering seperti rasanya mau retak saja. Jadi setiap terbangun, saya minum 1 atau 2 teguk air untuk membasahi tenggorokan. Selama demam, badan rasanya patah-patah, linu di setiap sendi. Saya lawan dengan terus meminum semua vitamin-vitamin," ungkap Simon.

Untuk mengobati psikisnya, agar tidak stres yang menyerang imunitas, Simon memutuskan untuk berhenti menonton televisi dan membaca berita mengenai pandemi virus corona COVID-19. Tak lupa, dia selalu berdoa meminta kesembuhan.

"Saya berhenti menonton televisi, mendengar berita-berita yang menakutkan dan menyedihkan tentang covid-19. Saya ingin berkonsentrasi dengan usaha pemulihan saya dengan optimistis," tegasnya.

1 April 2020, berkat kedisiplinan itu, Simon tidak lagi merasakan demam, tubuhnya mulai membaik.

"Tubuh saya mulai recovery. Saya terus menerus minum vitamin dan tidak lupa berjemur dari jam 9 pagi sampai jam 10. Sedikit demi sedikit badan saya semakin pulih," ucap Simon.

Hari Senin, 6 April, Simon dan istri pertama kalinya keluar rumah untuk melakukan swab test di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Satu hari kemudian, mereka dinyatakan negatif dan sembuh dari virus corona.

"Terima kasih Tuhan saya bisa melewati masa-masa kritis. Terima kasih luar biasa buat istri saya yg di dalam kesedihannya terus memberi yang terbaik buat saya dan mengurus keperluan-keperluan saya, I love you so much!" kata Simon.

Simon berpesan, bagi siapa pun yang terinfeksi virus corona harus percaya bahwa kesembuhan pasti akan datang kalau disiplin menjaga hidup sehat, menjauhi pikiran negatif, dan terus berdoa.

Selain itu, dia juga meminta sebisa mungkin tetap di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran virus corona, karena istrinya dinyatakan positif meski tanpa gejala alias Orang Tanpa Gejala (OTG).

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS