New York Alami Hari Paling Mematikan Selama Krisis Virus Corona

Dythia Novianty
New York Alami Hari Paling Mematikan Selama Krisis Virus Corona
Suasana Kota New York tampak sepi akibat pemberlakukan status lockdown atau karantina untuk mengantisipasi penularan virus corona. (Anadolu/Lokman Viral Elibol)

New York mencatat 731 kematian dalam 24 jam terakhir.

Suara.com - New York telah mengalami hari paling mematikan selama pandemi virus corona (COVID-19), dengan mencatat 731 kematian dalam 24 jam terakhir. Meskipun begitu, Gubernur Andrew Cuomo mengatakan, jumlah pasien rawat inap tetap stabil sehingga memberikan harapan untuk negara bagian yang paling terpukul itu.

Bahkan, ketika jumlah kematian mencapai 5.489 di seluruh New York, Cuomo mengatakan kepada pers, Selasa (7/4/2020) bahwa dia bekerja sama dengan para gubernur New Jersey dan Connecticut, mengenai rencana memulai kembali kehidupan begitu krisis mereda.

Cuomo mengatakan bahwa penutupan bisnis dan sekolah serta langkah pembatasan jarak sosial berdampak yang diinginkan, dan mendesak masyarakat untuk terus patuh khususnya karena Kota New York bersiap menghadapi kemungkinan puncak rawat inap pekan ini.

"Perilaku kita mempengaruhi jumlah kasus. Jumlah kasus tidak turun dari surga," kata Cuomo seperti dikutip Reuters sebagaimana dilansir laman Antara, Rabu (8/4/2020).

Jumlah 731 kematian baru pada Senin (6/4/2020), pekan ini menandai kenaikan dari 599 kematian baru sehari sebelumnya, sementara rawat inap baru hampir dua kali lipat menjadi 656, bertentangan dengan tren beberapa hari terakhir yang oleh Cuomo disebut sebagai kemungkinan menjadi ratanya kurva.

Tetapi Cuomo memperingatkan untuk tidak terlalu banyak membaca data harian dan menekankan rata-rata tiga hari, yang masih menunjukkan tren penurunan tekanan terhadap rumah sakit-rumah sakit di New York.

Sang gubernur juga menunjuk penurunan penerimaan unit perawatan intensif dan penurunan intubasi harian sebagai tanda-tanda yang membesarkan hati.

Cuomo mengatakan, para pejabat kesehatan telah mengembangkan rejimen pengujian antibodi yang disetujui oleh Departemen Kesehatan AS untuk digunakan di negara bagian tersebut, dan mengatakan bahwa para pengambil kebijakan sedang berupaya meningkatkannya.

Tes itu, kata Cuomo, akan menentukan apakah orang telah mengembangkan antibodi setelah tertular dan sembuh dari virus corona, dan akan menjadi bagian dari rencana yang lebih besar yang bertujuan membuat orang kembali bekerja dan bersekolah.

"Itu sebabnya Anda akan memiliki antibodi untuk virus - itu berarti Anda tidak lagi menular, dan Anda tidak bisa terpapar virus ini karena Anda memiliki antibodi dalam sistem Anda. "Anda tidak akan mengakhiri virus ini sebelum mulai memulihkan hidup," kata gubernur.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS