Sejarawan: Sejak Zaman VOC, Saat Ada Wabah Prioritas Elite Adalah Ekonomi

Bangun Santoso, Stephanus Aranditio

Kamis, 14 Mei 2020 | 04:52 WIB
Sejarawan: Sejak Zaman VOC, Saat Ada Wabah Prioritas Elite Adalah Ekonomi
Ilustrasi sejarawan JJ Rizal. [Istimewa/Olah gambar Suara.com]

Suara.com - Sejarawan JJ Rizal mengatakan, berdasarkan catatan sejarah di setiap kali wabah penyakit menjangkiti Indonesia, hal yang paling diprioritaskan para pejabat elite yang berkuasa adalah menjaga dampak ekonomi dari wabah itu, bukan masalah kesehatan masyarakat.

Menurut JJ Rizal, atas pola pikir pejabat elite seperti itu, maka kematian rakyat dengan jumlah sangat besar akibat wabah juga amat jarang tercatat dan diajarkan dalam kurikulum sejarah di sekolah-sekolah di Indonesia.

"Karena tidak ada penggede (pejabat) yang mati, tidak ada elite yang mati, yang mati itu orang kecil semua. Sementara sejarah adalah cerita orang besar, jadi orang kecil ini dianggap non-faktor, tidak dihitung, dia tidak perlu diceritakan di dalam sejarah, sejarah bukan kisah orang kecil, sejarah adalah kisah orang besar," kata JJ Rizal dalam diskusi di instagram @kiosojokeos, Rabu (13/5/2020).

Pola pikir seperti itu juga menyebabkan informasi data statistik yang berdasar ilmu pengetahuan terkait wabah; "lebih banyak bohongnya daripada benarnya," katanya.

Menurut JJ Rizal, pola pemikiran ini sudah tertanam sejak Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membangun Kota Batavia sebagai pusat pemerintahan pada 1619-an, kota ini dikenal sebagai kota yang jaya nan indah dengan sungai besar dan kanal-kanal mirip kota-kota di Belanda.

"Dia (Batavia) begitu indah dia disebut juga sebagai Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur, jadi banyak ungkapan yang menyebut kota ini sangat elok," kata peraih Anugerah Budaya Gubenur DKI Jakarta tahun 2009 ini.

Keelokan Batavia hanya berumur pendek, sekitar tahun 1733-1738 orang-orang mulai banyak yang mati akibat wabah malaria, rumah sakit saat itu bahkan dianggap sebagai "lubang kubur" karena setiap orang yang masuk besar kemungkinan akan mati.

Waktu itu kematian banyak dialami oleh orang eropa yang banyak didatangkan VOC untuk bekerja di perusahaan mereka, "sampai di sini mereka pucat kemudian mati," ucapnya.

Sementara penduduk pribumi dan etnis Cina, meskipun tak terlalu peduli dengan kualitas lingkungan, justru imunitasnya lebih kebal melawan malaria.

baca juga

Orang-orang Batavia ini kemudian cenderung menyalahkannya pada udara berbau busuk dari uap kanal sebagai sumber penyakit, mereka lalu menutup jendela dan menarik tirai rumah mereka yang pengap.

Kondisi ini berjalan selama bertahun-tahun para dokter saat itu juga belum bisa menemukan pangkal penyakit itu, hingga akhirnya kabar kematian menjadi kabar yang biasa didengar di Batavia.

Sebelum 1733, mati saat bekerja di Hindia-Belanda adalah hal yang biasa, setiap tahun sekitar 500 pegawai VOC mati, namun angka terus meledak hingga 3.000 kematian di tahun berikutnya.

Wabah malaria ini kemudian mengakibatkan pendapatan VOC menuju bankrut, prioritas ekonomi pun muncul, pejabat elite VOC langsung mencanangkan ekspansi perkebunan tebu besar-besaran di luar benteng Batavia.

"Bisnis gula itu naik, terus memberikan keuntungan yang besar, sehingga makin banyak hutan dibuka di luar kota benteng Batavia, sehingga kalau sampai sekarang banyak nama (tempat) pakai kata Jati itu bekas hutan yang dihabisi," ungkap JJ Rizal.

Pembukaan lahan perkebunan tebu besar-besaran itu pun dilakukan dengan menggunakan dana yang selama ini dikorupsi oleh pejabat elite VOC.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dokter Khawatir Vaksinasi Tertunda saat Pandemi Corona Berujung Wabah Lain

Dokter Khawatir Vaksinasi Tertunda saat Pandemi Corona Berujung Wabah Lain

Health | Rabu, 29 April 2020 | 19:45 WIB

7 Kerajaan Islam di Indonesia

7 Kerajaan Islam di Indonesia

Your Say | Selasa, 21 April 2020 | 18:12 WIB

Corona Melanda, Inilah 3 Nasihat Ustaz Abdul Somad soal Wabah Penyakit

Corona Melanda, Inilah 3 Nasihat Ustaz Abdul Somad soal Wabah Penyakit

News | Selasa, 07 April 2020 | 17:37 WIB

Profesor Klaim Selesaikan Obat Corona 2 Pekan Lagi dan 7 Berita Lainnya

Profesor Klaim Selesaikan Obat Corona 2 Pekan Lagi dan 7 Berita Lainnya

News | Sabtu, 28 Maret 2020 | 10:15 WIB

Tegal Lockdown, JJ Rizal: Sejak Era Revolusi Mereka Selalu Jadi Pemimpin

Tegal Lockdown, JJ Rizal: Sejak Era Revolusi Mereka Selalu Jadi Pemimpin

News | Jum'at, 27 Maret 2020 | 13:59 WIB

Presiden Utus Pemda Atasi Corona, JJ Rizal: Cara Cuci Tangan Paling Ajaib

Presiden Utus Pemda Atasi Corona, JJ Rizal: Cara Cuci Tangan Paling Ajaib

News | Senin, 16 Maret 2020 | 16:50 WIB

Bela Pancasila Kalista Iskandar, JJ Rizal: Banyak Hafal Tapi Berkhianat

Bela Pancasila Kalista Iskandar, JJ Rizal: Banyak Hafal Tapi Berkhianat

News | Sabtu, 07 Maret 2020 | 16:20 WIB

Terkini

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:17 WIB

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Health | Minggu, 01 November 2026 | 06:10 WIB

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

×