facebook

Respons Pekerja soal New Normal: Banyak Rakyat Bisa Mati karena Virus

Agung Sandy Lesmana | Yosea Arga Pramudita
Respons Pekerja soal New Normal: Banyak Rakyat Bisa Mati karena Virus
Ilustrasi--sejumlah pekerja menggunakan masker melintas di kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta, Selasa (3/3). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

"Pemberlakuan new normal tanpa kajian yang matang adalah kecerobohan dan bisa memperparah keadaan..."

Suara.com - Pemerintah akan menerapkan skema new normal atau era tatanan baru yang diklaim mampu berdampingan dengan pandemi virus Covid-19. Wacana tersebut kini sedang gencar digaungkan oleh pemerintah.

Terkait wacana tersebut, sejumlah pihak turut memberikan sorotan. Salah satunya adalah pekerja yang kini kantornya tidak lagi menerapkan kebijakan work from home atau bekerja dari rumah.

Rizky (27), salah satu pekerja yang bekerja untuk perusahaan salah satu media hingga kini belum paham soal wacana new normal. Dia berpendapat, wacana new normal ala pemerintah bertujuan untuk apa --karena tak ada penjelasan lebih gamblang dan detil.

"Saya kurang paham soal new normal yang digaungkan pemerintah. New normal maksud dan tujuannya itu apa, pemerintah belum terbuka soal ini dan belum bisa menjelaskan. lagi pula tidak ada rujukan new normal itu dalam aturan," ujar Rizky kepada Suara.com, Jumat (29/5/2020).

Baca Juga: Dibatasi 500 Jemaah, Masjid di Bekasi Gelar Jumatan Seusai 2 Bulan Ditutup

Rizky pun masih belum paham ihwal pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan masyarakat harus berdamai dengan virus Corona. Bagi dia, berdamai dengan virus corona adalah bentuk pasrah pada keadaan saat ini.

"Saya tidak paham apa yang di rencanakan pemerintah terkait new normal ini. Damai sama corona itu sama dengan pasrah dengan keadaan yang ada. Bukankah harusnya kita meningkatkan penanganan terkait virus, bukan berdamai," jelasnya.

Rizky berpendapat, seharusnya pemerintah melakukan kajian yang matang jika ingin menerapkan new normal. Dia mencontohkan, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yant diberlakukan di sejumlah wilayah belum efektif --sebab kasus positif Covid-19 selalu bertambah setiap harinya.

"Pemberlakuan new normal tanpa kajian yang matang adalah kecerobohan dan bisa memperparah keadaan. Rakyat bisa banyak mati karena virus. Sekarang aja pemerintah belum jelas soal new normal, beberapa daerah masih PSBB dampaknya maayarakat juga melihat ini tidak jelas. Apalagi kasus corona di Indonesia itu sangat tinggi," beber Rizky.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan belum akan melonggarkan kebijakan PSBB yang berlaku di sejumlah daerah di Tanah Air.

Baca Juga: Andre Roside Sebut Muannas Politikus PSI Cuma Bikin Repot Menteri Teten

Namun, Kepala Negara juga mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan berdasarkan data dan fakta di lapangan untuk menentukan periode terbaik bagi periode tahapan masyarakat kembali produktif namun tetap aman dari Covid-19.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar