Susah Sinyal, Gadis Rela Panas-panasan di Aspal Demi Ujian Online

Rendy Adrikni Sadikin | Rifan Aditya
Susah Sinyal, Gadis Rela Panas-panasan di Aspal Demi Ujian Online
Susah Sinyal, Gadis Panas-panasan di Jalan Demi Ujian Online (Facebook)

Sebanyak 20 dari 850 siswa sekolah itu menghadapi kesulitan saat mengikuti e-learning atau pembelajaran elektronik.

Suara.com - Seorang gadis rela panas-panasan demi mengikuti ujian sekolah online. Hal itu dilakukannya karena internet di rumahnya susah sinyal.

Kejadian ini dialami oleh Heliyana, siswi SMK Tinggi Sarikei, Sarawak, Malaysia.

Dilaporkan World of Buzz, Rabu (3/6/2020), Heliyana tinggal di daerah pedesaan di Sarawak. Konektivitas internet di sana terbilang buruk.

Namun hal itu tidak menghentikan niat Heliyana untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Gadis berusia 13 tahun itu naik ke atas bukit dan duduk jongkok di bawah terik sinar matahari.

Heliyana mengerjakan ujian sekolah di pinggir jalan saat siang hari.

Heliyana tampak membawa smartphone di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang pulpen.

Siswi ini memangku beberapa lembar kertas. Heliyana terlihat serius mengerjakan soal-soal ujiannya.

Foto Heliyana yang tengah duduk panas-panasan di pinggir jalan demi mengerjakan ujian sekolah itu viral di media sosial.

Namun, ternyata Heliyana bukan satu-satunya pelajar yang menghadapi masalah seperti ini. Siswa lain di SMK Tinggi Sarikei juga menghadapi masalah konektivitas internet.

Menurut World of Buzz, 20 dari 850 siswa sekolah itu menghadapi kesulitan saat mengikuti e-learning atau pembelajaran elektronik.

Seorang siswa bernama Wuok bahkan tidak memiliki smartphone. Keluarganya hanya memiliki telepon genggam yang dapat menerima pesan SMS saja.

Sang guru kemudian berinisiatif mengirim kertas ujian kepada Wuok. Lalu, jawaban ujian itu dikirim melalui SMS.

Siswa SMK Tinggi Sarikei, Sarawak, Malaysia kesulitan mengikuti e-learning atau pembelajaran elektronik (Facebook)
Siswa SMK Tinggi Sarikei, Sarawak, Malaysia kesulitan mengikuti e-learning atau pembelajaran elektronik (Facebook)

Menurut kepala sekolah SMK Tinggi Sarikei, program e-learning tidak mudah diimplementasikan di daerah pedesaan seperti mereka.

"Beberapa anak dari keluarga miskin tidak memiliki ponsel, jadi mereka harus menggunakan ponsel orangtua mereka untuk belajar," kata kepala sekolah.

Ia menambahkan, "Terkadang orang tua tidak meninggalkan ponselnya di rumah. Mereka hanya bisa mempelajari pekerjaan rumah mereka di sore atau malam hari."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS