Ini Perbedaan Gejala Corona dan Demam Berdarah di Masa Pandemi Covid-19

Senin, 22 Juni 2020 | 16:04 WIB
Ini Perbedaan Gejala Corona dan Demam Berdarah di Masa Pandemi Covid-19
Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang menularkan virus dengue. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Kementerian Kesehatan mencatat di daerah-daerah yang kasus positif terinfeksi Covid-19 tinggi, juga beriringan dengan tingginya angka kasus demam berdarah atau DBD. Artinya, pasien yang terinfeksi Virus Corona juga berisiko terinfeksi penyakit demam berdarah. Lalu bagaimana dengan pelayanan bagi pasien DBD di tengah pandemi seperti saat ini?

Dokter spesialis kesehatan anak sekaligus spesialis pediatri tropis Rumah Sakit (RS) Cipto Mangunkusumo dr Mulya Rahma Karyanti dalam konferensi pers Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengatakan, di masa pandemi pelayanan terhadap pasien penyakit lain termasuk DBD tidak terganggu. Sebab, semua pasien akan disaring terlebih dahulu oleh dokter tugas di ruangan triase di bagian depan.

"Semua RS memiliki triase yang akan memilah mana yang pasien Covid-19 dan non-Covid-19," kata Rahma, Senin (22/6/2020).

Dia menjelaskan, DBD adalah penyakit yang disebabkan karena penularan virus oleh nyamuk. Orang yang terinfeksi DBD keluhannya demam tinggi dadakan.

Gejalanya muka merah, nyeri di kepala, nyeri dibelakang mata, muntah-muntah dan biasanya disertai dengan pendarahan spontan, mimisan, gusi berdarah, muntah-muntah dan timbul bintik-bintik merah di kulit. Jika dalam tiga hari suhu panas badan tinggi tidak turun, itu masuk dalam fase kritis dan butuh perawatan di rumah sakit.

Untuk melawan DBD perlu cairan yang cukup. Kalau cairan tidak cukup mengakibatkan dehidrasi dan aliran darah ke otak berkurang, sehingga menimbulkan badan lemas dan lesu.

"Terutama untuk anak-anak itu harus diobservasi. Itu tanda-tanda bahanya yang harus diwaspadai oleh keluarga, terutama orangtua, kalau ada gejala seperti tadi segera bawa ke RS," ujarnya.

Bagaimana membedakan gejala DBD dan Covid-19?

Rahma menjelaskan kalau penyakit DBD jarang yang memiliki gejala batuk, kalau pun ada persentasenya kecil, sekitar 10-15 persen. DBD tidak memiliki gejala sesak pernafasan. Berbeda dengan Covid-19 yang gejalanya lebih ke sistem pernafasan.

Selain itu, penyakit DBD bisa menyerang semua usia. Namun sekarang tren-nya lebih banyak yang terinfeksi di usia remaja. Remaja banyak sekali yang datang ke rumah sakit di fase kritis.

Baca Juga: Sama-Sama Demam, Begini Cara Bedakan Gejala Covid-19 dan DBD

"Untuk yang remaja kan kalau minum jadi muntah, akhirnya dia nggak minum jadi tambah dehidrasi, lemas, dan tidur seharian," tuturnya.

Dia menambahkan, nyamuk penyebab DBD jenis aedes aegypti khasnya memiliki kaki hitam putih seperti warna zebra. Nyamuk ini menggigit di pagi hari, pada rentang pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB, di waktu jam anak sekolah.

"Dan sebelum maghrib, jam 16.00-17.00 WIB sore," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI