Dari Video Viral ke Laporan Polisi: Mengapa Konflik GRIB Jaya dan Ahmad Bahar Terus Membesar?

Muhammad Yasir, Faqih Fathurrahman

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:00 WIB
Dari Video Viral ke Laporan Polisi: Mengapa Konflik GRIB Jaya dan Ahmad Bahar Terus Membesar?
Ilustrasi foto Ahmad Bahar dan Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal. [Suara.com/Emma]
baca 10 detik
  • Konflik bermula dari video penghinaan terhadap Hercules yang memicu massa GRIB Jaya mendatangi rumah Ahmad Bahar pada 17 Mei 2026.
  • Putri Ahmad Bahar melaporkan dugaan intimidasi, penjemputan paksa, hingga ancaman senjata api yang terjadi di markas GRIB Jaya.
  • Komnas HAM dan Komisi III DPR RI kini mengawasi proses hukum atas dugaan pelanggaran hak asasi dan tindak premanisme.

Suara.com - Konflik antara Ahmad Bahar dan organisasi masyarakat GRIB Jaya berkembang jauh melampaui polemik di media sosial.

Bermula dari video yang dianggap menghina Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal, perseteruan itu berubah menjadi saling tuding, dugaan intimidasi, laporan ke aparat penegak hukum, hingga menarik perhatian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi III DPR RI.

Mengapa konflik yang berawal dari konten digital justru berkembang menjadi persoalan hukum dan dugaan pelanggaran HAM?

Video Viral yang Memicu Kemarahan

Pangkal persoalan muncul setelah beredar video yang dinilai menghina Hercules.

Video itu memicu kemarahan sejumlah anggota GRIB Jaya yang kemudian mendatangi kediaman Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada 17 Mei 2026.

Saat polemik mulai membesar, Ahmad Bahar menyampaikan permintaan maaf kepada Hercules.

Ia juga mengklaim video yang viral bukan dibuat olehnya karena telepon genggamnya telah diretas.

Permintaan maaf tersebut sempat memunculkan kesan bahwa konflik akan berakhir melalui jalur damai.

baca juga

Namun perkembangan berikutnya menunjukkan persoalan justru memasuki babak baru.

Infografis konflik antara Ahmad Bahar dan GRIB Jaya. [Suara.com/Emma]
Infografis konflik antara Ahmad Bahar dan GRIB Jaya. [Suara.com/Emma]

Mengapa Kedatangan GRIB Jaya Menjadi Sorotan?

Kontroversi muncul setelah pihak Ahmad Bahar menuduh adanya tindakan penggerudukan rumah dan penjemputan paksa terhadap putrinya.

Sebaliknya, GRIB Jaya membantah tuduhan tersebut. Organisasi itu menyatakan kedatangan anggotanya dilakukan secara persuasif dengan tujuan melakukan tabayun atau klarifikasi terkait video yang beredar.

Perbedaan versi inilah yang kemudian menjadi inti sengketa.

Bagi pihak Ahmad Bahar, peristiwa tersebut merupakan tindakan intimidatif yang melampaui batas penyelesaian perselisihan biasa.

Sementara bagi GRIB Jaya, langkah itu diklaim sebagai upaya meminta penjelasan langsung atas konten yang dianggap merugikan nama baik organisasi dan ketuanya.

“Narasi yang menyebutkan adanya ‘pengepungan massa’ terhadap rumah Ahmad Bahar sangat berlebihan dan tidak mencerminkan fakta di lapangan,” kata Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual kepada Suara.com, Senin (18/5/2026).

Dugaan Intimidasi di Markas GRIB Jaya

Konflik meningkat drastis setelah putri Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana mengungkap pengalaman yang disebutnya sebagai penjemputan paksa menuju markas GRIB Jaya.

Menurut keterangannya, ia dibawa dari rumah menuju markas organisasi tersebut dan mengalami tekanan psikologis selama berada di lokasi.

Pengakuan itu menjadi titik balik penting karena fokus perkara bergeser dari polemik video menjadi dugaan pelanggaran hukum yang menyangkut kebebasan seseorang dan rasa aman warga negara.

Pihak keluarga kemudian menyatakan siap menempuh jalur hukum untuk mengusut kejadian tersebut.

Perdamaian Tidak Mengakhiri Persoalan

Secara umum, konflik personal dapat mereda ketika pihak yang berselisih saling memaafkan.

Namun dalam kasus ini, Ahmad Bahar menegaskan perdamaian dirinya dengan Hercules tidak otomatis menyelesaikan perkara yang dialami putrinya.

Pernyataan itu menunjukkan adanya dua persoalan berbeda.

Pertama, sengketa terkait video dan dugaan penghinaan yang melibatkan Ahmad Bahar dan Hercules.

Kedua, dugaan tindakan intimidasi terhadap putri Ahmad Bahar yang dinilai sebagai perkara tersendiri dan tidak dapat dihapus hanya melalui kesepakatan damai antarpihak utama.

Dengan kata lain, meskipun hubungan personal kedua tokoh dapat membaik, dugaan tindak pidana atau pelanggaran hak tetap dapat diproses secara terpisah.

Kolase Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal dengan putri Ahmad Bahar. [Suara.com]
Kolase Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal dengan putri Ahmad Bahar. [Suara.com]

Muncul Dugaan Pelanggaran HAM

Ketegangan kembali meningkat ketika putri Ahmad Bahar mengungkap adanya dugaan intimidasi selama berada di markas GRIB Jaya.

Ia bahkan mengaku mendengar suara tembakan senjata api yang disebut dilepaskan sebanyak dua kali oleh Hercules.

"Ini mengerikan, sangat mengerikan, klien kami telah rusak psikologis dan harkat martabatnya sebagai perempuan, kami menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia mari bersama-sama mendukung langkah kami sebagai bentuk keadilan dan ketertiban sosial, kita harus melawan premanisme,” ungkap kuasa hukum Ilma Sani Fitriana, Gurun Arisastra, Minggu (24/5/2026).

Pengakuan tersebut kemudian dibawa ke ranah yang lebih luas melalui pengaduan kepada Komnas HAM.

Langkah ini penting karena perkara tidak lagi hanya dipandang sebagai konflik antara individu dan organisasi, melainkan menyangkut dugaan pelanggaran terhadap hak atas rasa aman dan perlindungan dari intimidasi.

Dalam perspektif HAM, negara berkewajiban memastikan setiap warga memperoleh perlindungan dari ancaman, tekanan, maupun tindakan yang berpotensi menghilangkan kebebasan seseorang secara melawan hukum.

Saling Serang Narasi

Di tengah proses hukum yang mulai berjalan, kedua pihak juga terlibat perang narasi di ruang publik.

Putri Ahmad Bahar melaporkan Hercules terkait dugaan penculikan, intimidasi, dan teror menggunakan senjata api.

Sebaliknya, GRIB Jaya membalas dengan menuding pihak Ahmad Bahar melakukan doxing atau penyebaran data pribadi yang disebut berdampak pada kondisi psikologis keluarga Hercules, termasuk istrinya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana konflik era digital tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga di media sosial dan ruang informasi publik.

Setiap pihak berupaya membangun legitimasi atas versinya masing-masing sambil memengaruhi opini masyarakat.

Komisi III DPR Turut Turun Tangan

Perhatian terhadap kasus ini semakin besar setelah anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan intimidasi yang terjadi di markas GRIB Jaya.

Masuknya DPR menandakan perkara ini telah dipandang sebagai isu penegakan hukum yang memiliki kepentingan publik.

Komisi III pada dasarnya memiliki fungsi pengawasan terhadap kinerja kepolisian dan penegakan hukum.

Karena itu, desakan tersebut dapat dimaknai sebagai dorongan agar aparat mengusut kasus secara transparan dan tidak berhenti pada penyelesaian informal antarpihak.

“Tidak boleh konflik itu diselesaikan dengan cara main hakim sendiri. Dalam negara hukum ada prinsip due process of law, yang artinya semua orang hanya boleh diproses melalui prosedur hukum yang sah.”

Apa yang Dipertaruhkan dalam Kasus Ini?

Terlepas dari benar atau tidaknya masing-masing tuduhan yang masih perlu dibuktikan melalui proses hukum, kasus Ahmad Bahar dan GRIB Jaya memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar.

Pertama, batas antara penyelesaian konflik secara kekeluargaan dan penegakan hukum formal.

Kedua, risiko eskalasi konflik digital menjadi konfrontasi di dunia nyata.

Ketiga, pentingnya perlindungan hak warga negara dari dugaan intimidasi, apa pun latar belakang konfliknya.

Karena itu, perhatian publik kini tidak lagi tertuju pada video yang memicu polemik di awal, melainkan pada pertanyaan yang lebih besar: apakah dugaan intimidasi dan penjemputan paksa benar terjadi, dan bagaimana negara memastikan seluruh pihak memperoleh keadilan melalui proses hukum yang transparan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Adukan Dugaan Intimidasi Ormas GRIB Jaya ke Komnas HAM, Putri Ahmad Bahar Trauma Berat

Adukan Dugaan Intimidasi Ormas GRIB Jaya ke Komnas HAM, Putri Ahmad Bahar Trauma Berat

Video | Kamis, 21 Mei 2026 | 23:05 WIB

Pistol Ditembakkan Dua Kali, Putri Ahmad Bahar Ungkap Malam Mencekam di Markas GRIB Jaya

Pistol Ditembakkan Dua Kali, Putri Ahmad Bahar Ungkap Malam Mencekam di Markas GRIB Jaya

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 17:58 WIB

Ahmad Bahar Tegaskan Damai dengan GRIB Jaya Tak Berlaku untuk Kasus Putrinya

Ahmad Bahar Tegaskan Damai dengan GRIB Jaya Tak Berlaku untuk Kasus Putrinya

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 20:42 WIB

Terkini

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 21:51 WIB

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:45 WIB

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:43 WIB

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 21:25 WIB

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 21:17 WIB

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:16 WIB

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Video | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 21:01 WIB

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 21:00 WIB

×