Wabah Corona Bikin Kesenjangan Pengguna Internet, Cari Sinyal ke Atap Rumah

Pebriansyah Ariefana

Sabtu, 27 Juni 2020 | 15:11 WIB
Wabah Corona Bikin Kesenjangan Pengguna Internet, Cari Sinyal ke Atap Rumah
Seseorang pakai internet sampai naik ke atas genting. (BBC)

Belajar di atap

Internet adalah satu-satunya cara Namitha bisa mendapat akses ke pendidikan, karena dia tidak bisa pergi ke perpustakaan atau menghadiri kelas pelajaran selama karantina.

"Lalu ayah saya memberitahu saya, 'coba kamu di atap'. Saya naik menggunakan tangga yang biasanya kita gunakan untuk memetik mangga."

Idenya berhasil

"Di atap, saya bisa menonton dan mencatat perkuliahan," katanya.

Setiap hari dia mulai menghabiskan empat jam di atap, yang berada sekitar 10 meter di atas tanah.

"Saya juga membawa payung karena terkadang hujan," tambahnya.

Namitha bercita-cita untuk bekerja di sektor layanan sipil. Untuk itu dia perlu mengikuti ujian nasional. Dia mengatakan konektivitas yang buruk akan benar-benar melukai peluangnya untuk bersaing dengan siswa yang berada kota.

Manfaat konektivitas

baca juga

Pengalaman Namitha bukan merupakan hal yang unik. Lebih dari empat miliar orang memiliki akses internet, dan dengan meningkatnya popularitas serta keterjangkauan telepon pintar, hal itu telah membuka jalan bagi perkembangan berbasis internet yang telah membawa manfaat ekonomi dan sosial yang luar biasa.

Sebagai contoh, internet telah memungkinkan petani dan nelayan di beberapa komunitas termiskin untuk mengakses informasi tentang cuaca, pengendalian hama, skema pemerintah dan pasar.

Di negara-negara seperti Myanmar di mana sangat sedikit yang memiliki rekening bank, transfer uang melalui jaringan seluler membantu keluarga mengirim dan menerima uang. Pada tahun 2000, kartu SIM bernilai $ 5.000 (sekitar Rp 71 juta) - atau hampir senilai mobil bekas. Sekarang kartu SIM gratis, sehingga mengubah perbankan di negara itu.

Akses tersebut adalah kunci untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesehatan dan mencapai kesetaraan gender, menurut PBB.

Komisi broadband PBB ingin meningkatkan penggunaan internet broadband hingga 75% dari populasi global pada tahun 2025 - data terakhir menunjukkan saat ini hanya sekitar 60%, dengan Afrika dan Asia menjari daerah-daerah tertinggal.

Kesenjangan digital

Namun, angka-angka ini tidak mengungkap ketidaksetaraan yang terjadi besar-besaran.

Menurut International Telecommunication Union, di negara-negara kaya, hampir 87% penduduk memiliki akses ke internet pada 2019, tetapi angka ini hanya mencapai 19% di negara-negara yang tergolong paling kurang berkembang.

Laporan yang sama mengatakan di setiap wilayah di dunia, pengguna internet pria melebihi jumlah pengguna wanita.

Proporsi perempuan yang menggunakan internet secara global adalah 48%, dibandingkan dengan 58% pria, dan di negara-negara paling kurang berkembang, sekitar satu dari empat pria memiliki akses internet, sementara hanya ada satu dari delapan bagi perempuan.

Selain itu, jenis jaringan bagi orang di daerah pedesaan di negara miskin bahkan terlalu lambat untuk mendukung pekerjaan rumahan. Ini menghasilkan beberapa kesulitan untuk melakukan tugas-tugas sederhana seperti membayar tagihan.

"Orang-orang yang memiliki internet dengan kecepatan rendah atau berkualitas rendah mungkin tidak dapat belajar dan bekerja dari jarak jauh, meningkatkan keterampilan digital mereka maupun menumbuhkan peluang mereka untuk pekerjaan bergaji yang lebih baik. Mereka mungkin tidak dapat terhubung dengan keluarga dan teman untuk mempertahankan kesehatan mereka dengan baik," kata Alex Wong, Penasihat Strategi Senior, International Telecommunication Union.

Keterjangkauan

Sekitar 750 juta orang sama sekali tidak memiliki akses ke internet seluler, menurut laporan yang sama, dan biaya tetap menjadi penghalang utama bagi lebih banyak lagi orang.

"Setidaknya 1,3 miliar orang tinggal di negara-negara di mana paket data seluler tingkat awal (1GB per bulan) tidak terjangkau," kata Wong.

Alliance for Affordable Internet adalah koalisi global yang mendorong akses yang lebih murah. Mereka ingin satu GB data dijual kurang dari 2% dari pendapatan bulanan rata-rata negara.

"Ada banyak cara untuk melakukannya. Berbagi infrastruktur, mendukung persaingan pasar, mengurangi biaya operasi jaringan, dan mendukung akses publik adalah semua keputusan kebijakan yang dapat diadopsi negara-negara untuk membuat akses internet lebih terjangkau," kata Manajer Riset Teddy Woodhouse.

"Tidak memiliki akses internet di dunia saat ini menempatkan Anda pada kerugian yang luar biasa," katanya kepada BBC, "dan kecuali kami berinvestasi untuk membawa lebih banyak orang online, kesenjangan digital ini berisiko membuat ketidaksetaraan yang ada semakin buruk."

"Sudah saatnya kita mengakui akses internet sebagai barang publik yang esensial dan hak dasar yang memang sesungguhnya begitu."

Hak dasar

Penemu World Wide Web, Tim Berners-Lee, juga menyerukan tindakan untuk segera membuat internet lebih inklusif.

"Fokus nomor satu kami adalah menutup kesenjangan digital," katanya dalam pertemuan PBB bulan ini.

Internet telah menyediakan "kehidupan" bagi miliaran orang di tengah wabah virus corona, memungkinkan pekerjaan, pendidikan, dan koneksi sosial secara online, kata Berners-Lee, tetapi sekitar 3,5 miliar orang tidak mendapatkanya.

"Ketidaksetaraan ini merupakan penghalang bagi kesetaraan yang lebih luas, dan kami tahu itu paling mempengaruhi mereka yang sudah terpinggirkan - orang-orang di negara berkembang, mereka yang berpenghasilan rendah, dan tentu saja, perempuan," katanya.

Berners-Lee dan yayasannya membantu PBB untuk mengembangkan pemetaan untuk menutup kesenjangan digital dan mendesak pemerintah untuk menargetkan kelompok yang terabaikan, seperti mereka yang berpenghasilan rendah, perempuan dan rumah tangga pedesaan.

PBB menekankan dorongan untuk kesetaraan dalam resolusi 2016, yang menyatakan bahwa kebebasan online adalah hak asasi manusia yang harus dipertahankan.

Resolusi itu mengusulkan "menerapkan pendekatan berbasis hak asasi manusia yang komprehensif ketika menyediakan dan memperluas akses ke internet dan agar internet menjadi terbuka, dapat diakses, dan dipelihara".

Kesempatan yang sama

Berbicara dari rumahnya di Kerala, Namitha menyatakan ia setuju.

"Internet adalah alat yang sangat kuat. Tetapi ketika koneksi terputus, tidak mungkin untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Setiap orang harus mendapatkan jaringan internet berkualitas dan berkecepatan tinggi. Hanya dengan demikian semua orang akan dapat bersaing dengan setara."

Sementara itu, nasib Namitha kini tengah membaik setelah adiknya mengunggah foto dirinya sedang belajar di atap dan kemudian menjadi viral.

Setelah itu penyedia layanan datang ke rumah mereka dan meningkatkan kekuatan sinyal. Hal itu memungkinkannya untuk turun dari atap dan belajar dari kamarnya. Dia dapat mengakses bahan pelajaran dan berbagi catatannya dengan teman-temannya.

Meskipun koneksi yang baru itu masih tidak cukup kuat untuk memungkinkan akses WiFi ke komputernya, dia senang bahwa dia dapat berbicara dengan gurunya dan mengajukan pertanyaan melalui telepon.

"Sekarang saya bisa menonton video siaran langsung kuliah dan berpartisipasi penuh di kelas," katanya.

Tidak semua temannya di daerah pedesaan bisa mengatakan itu. Dengan musim hujan yang akan datang, naik ke atap juga tidak akan bisa menjadi pilihan bagi mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kerja, Chatting hingga Streaming, Internet Gratis Bakal Hadir di Pesawat Vietjet

Kerja, Chatting hingga Streaming, Internet Gratis Bakal Hadir di Pesawat Vietjet

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 16:15 WIB

Bukan Cuma Air Bersih, Warga Kepulauan Seribu Juga Keluhkan Sinyal dan Listrik

Bukan Cuma Air Bersih, Warga Kepulauan Seribu Juga Keluhkan Sinyal dan Listrik

News | Jum'at, 25 September 2026 | 15:57 WIB

Apakah Benar Akan Ada Pemadaman Internet Selama 3 Hari? Ini Penjelasan Komdigi

Apakah Benar Akan Ada Pemadaman Internet Selama 3 Hari? Ini Penjelasan Komdigi

News | Jum'at, 25 September 2026 | 12:16 WIB

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

Cara Mengetahui Siapa Saja yang Memakai WiFi Kita, Mudah dan Praktis

Cara Mengetahui Siapa Saja yang Memakai WiFi Kita, Mudah dan Praktis

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 20:05 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Saat Paket Internet Tak Lagi Cuma Jual Gigabyte

Saat Paket Internet Tak Lagi Cuma Jual Gigabyte

Tekno | Rabu, 09 September 2026 | 07:05 WIB

Soal Kuota Hangus, Begini Skema yang Disiapkan XLSMART

Soal Kuota Hangus, Begini Skema yang Disiapkan XLSMART

Tekno | Senin, 07 September 2026 | 15:21 WIB

Mengapa SE Menkomdigi soal Kuota Hangus Melenceng dari Putusan MK?

Mengapa SE Menkomdigi soal Kuota Hangus Melenceng dari Putusan MK?

Tekno | Senin, 07 September 2026 | 12:37 WIB

Saatnya Ganti Provider agar Mudah Dapatkan Peluang

Saatnya Ganti Provider agar Mudah Dapatkan Peluang

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 14:56 WIB

Terkini

Bupati Gowa Tersangka Tapi Belum Ditahan, Gubernur Sulsel: Tetap Jalankan Tugas

Bupati Gowa Tersangka Tapi Belum Ditahan, Gubernur Sulsel: Tetap Jalankan Tugas

Sulsel | Senin, 28 September 2026 | 07:01 WIB

Rafli Tewas Terkena Peluru di Jantung Saat Asyik Nongkrong

Rafli Tewas Terkena Peluru di Jantung Saat Asyik Nongkrong

Sulsel | Senin, 28 September 2026 | 06:54 WIB

Saham Rp1, Penyelamat Kaum Nyangkuters atau Bikin Semakin Nyungsep?

Saham Rp1, Penyelamat Kaum Nyangkuters atau Bikin Semakin Nyungsep?

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 06:15 WIB

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Sumut | Minggu, 27 September 2026 | 23:46 WIB

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:31 WIB

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jabar | Minggu, 27 September 2026 | 22:22 WIB

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Jogja | Minggu, 27 September 2026 | 22:10 WIB

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:06 WIB

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

News | Minggu, 27 September 2026 | 21:40 WIB

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 21:34 WIB

×