Bom MAN 3 Padang: Bagaimana Bullying Bertahun-tahun dan Internet Ubah Pelajar Jadi Perakit Bom?

Muhamad Yasir, Adiyoga Priyambodo

Kamis, 16 Juli 2026 | 09:01 WIB
Bom MAN 3 Padang: Bagaimana Bullying Bertahun-tahun dan Internet Ubah Pelajar Jadi Perakit Bom?
Ilustrasi anggota Brimob dan Gegana berjaga di MAN 3 Padang, Sumatera Barat, usai peristiwa ledakan terjadi pada Selasa (14/7/2026). [Suara.com/Syahda]
baca 10 detik
  • Seorang siswa berinisial R meledakkan bom rakitan di MAN 3 Padang pada Selasa, 14 Juli 2026.
  • Tindakan tersebut dipicu akumulasi dendam akibat perundungan yang dialami pelaku selama bertahun-tahun.
  • Pelaku belajar merakit bom secara otodidak melalui internet dan terinspirasi dari kasus serupa di SMAN 72 Jakarta.

Suara.com - Ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang, Sumatera Barat, tidak hanya mengejutkan karena pelakunya merupakan seorang siswa berusia 17 tahun. Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan besar: bagaimana seorang pelajar bisa sampai merakit bom dan meledakkannya di lingkungan sekolah?

Sejauh ini polisi belum menemukan keterlibatan jaringan terorisme.

Namun, penyelidikan mengungkap sejumlah fakta yang saling berkaitan, mulai dari dugaan perundungan (bullying) yang dialami pelaku selama bertahun-tahun, tekanan psikologis yang menumpuk, hingga kemudahan mengakses tutorial merakit bom di internet.

Semua itu menjadikan kasus ini bukan sekadar perkara pidana, melainkan alarm bagi dunia pendidikan, keluarga, dan ruang digital.

Bom Rakitan Low Explosive 

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (14/7/2026) di MAN 3 Padang. Polisi mengungkapkan, sebelum berangkat ke sekolah, R (17) telah menyiapkan empat bom rakitan dari rumah dan membawanya menggunakan tas sekolah.

Saat jam istirahat sekitar pukul 10.15 WIB, ia meletakkan satu bom di atas meja di luar ruang kelas XII IPS 7, tepat di dekat kursi seorang teman yang diduga menjadi sasaran.

Tak lama kemudian, ia menyalakan sumbu bom menggunakan korek api hingga terjadi ledakan.

"Bom itu dipantik menggunakan mancis saat jam istirahat sekitar pukul 10.15 WIB," kata Kapolresta Padang Kombes Apri Wibowo.

baca juga

Ledakan tersebut tergolong low explosive atau berdaya ledak rendah. Akibatnya hanya meninggalkan bekas gosong pada meja dan dinding kelas tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka.

Polisi kemudian mengamankan tiga bom rakitan lain dari dalam tas pelaku. R langsung diamankan untuk diperiksa. Tim Gegana Polda Sumatera Barat dan Densus 88 Antiteror juga dilibatkan dalam penyelidikan.

Hingga kini, penyidik menegaskan belum menemukan indikasi keterlibatan jaringan terorisme.

Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). [ANTARA FOTO/Fitra Yogi/agr]
Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). [ANTARA FOTO/Fitra Yogi/agr]

Dugaan Motif: Akumulasi Bullying Bertahun-tahun

Temuan awal polisi mengarah pada dugaan bahwa tindakan pelaku dipicu oleh perundungan yang telah dialaminya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Kami temukan kalau motif pelaku R adalah risak," ujar Kepala Satuan Reskrim Polresta Padang, Kompol M. Yasin.

Menurut penyidik, R mengaku menjadi korban perundungan secara verbal maupun nonverbal selama bertahun-tahun.

Tekanan yang terus dipendam diduga berkembang menjadi dorongan untuk melakukan aksi balas dendam terhadap teman yang dianggap sering merundungnya.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, melihat pola seperti ini bukan hal baru. Dalam sejumlah kasus kekerasan di sekolah, pelaku kerap merupakan korban perundungan yang tidak pernah memperoleh penanganan memadai.

Meski demikian, penting digarisbawahi bahwa menjadi korban bullying tidak otomatis membuat seseorang melakukan tindakan ekstrem.

Ada faktor lain yang diduga ikut berperan, mulai dari tekanan psikologis berkepanjangan, isolasi sosial, dendam yang dipendam, hingga minimnya ruang untuk memperoleh bantuan.

Polisi pun masih terus mendalami motif sebenarnya.

Belajar Rakit Bom dari Internet

Penyidikan juga mengungkap fakta lain yang mengkhawatirkan. Selama sekitar empat bulan, R mengaku belajar merakit bom secara otodidak melalui internet dan YouTube.

"Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak," ungkap Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana internet dapat menjadi ruang belajar bagi konten-konten berbahaya.

Algoritma media sosial, forum daring yang minim pengawasan, hingga rendahnya literasi digital membuat akses terhadap materi semacam itu semakin mudah.

Persoalannya kini bukan lagi apakah remaja bisa menemukan tutorial merakit bom, melainkan mengapa akses terhadap konten tersebut masih begitu terbuka.

Copycat Crime

Densus 88 juga menemukan bahwa pelaku mengaku terinspirasi oleh kasus ledakan bom di SMAN 72 Jakarta pada 2025.

Fenomena ini dikenal sebagai copycat crime, yakni tindakan meniru kejahatan yang sebelumnya mendapat perhatian luas dari publik.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menilai pengaruh ruang digital terhadap pembentukan perilaku remaja kini semakin nyata.

"Era teknologi hari ini menunjukkan bahwa kita melihat teknologi algoritmanya dengan budaya digital yang itu membentuk kesadaran, narasi, dan juga tindakan dari pelaku itu nyata terjadi," kata Andreas.

Karena itu, pemberitaan kasus kekerasan juga perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak tanpa sengaja memicu aksi serupa.

Meski Densus 88 ikut menangani perkara tersebut, hingga saat ini aparat belum menemukan adanya motif ideologi maupun jaringan terorganisasi yang menjadi ciri tindak pidana terorisme.

Pelibatan Densus lebih ditujukan untuk menelusuri aktivitas digital pelaku dan memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat.

Dengan demikian, sejauh penyelidikan berlangsung, kasus ini masih diproses sebagai perkara pidana yang melibatkan anak, bukan sebagai tindak pidana terorisme.

Infografis-Bom Rakitan di MAN 3 Padang: Apa yang Terjadi dan Mengapa Bisa Terjadi? [Suara.com/Syahda]
Infografis-Bom Rakitan di MAN 3 Padang: Apa yang Terjadi dan Mengapa Bisa Terjadi? [Suara.com/Syahda]

Darurat Kekerasan di Sekolah

Bagi JPPI, kasus ini menjadi bukti bahwa persoalan kekerasan di sekolah sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan.

Ubaid menilai praktik bullying selama ini kerap dianggap persoalan sepele, padahal dampaknya dapat berlangsung bertahun-tahun hingga memicu tindakan ekstrem.

"Jadi kalau sampai anak-anak membuat bom ya kan, kemudian ini akibat perundungan, saya pikir tidak ada kata yang mewakili bahwa Indonesia saat ini ya darurat kekerasan di sekolah gitu ya," sorotnya.

Ia mempertanyakan mengapa kebijakan pencegahan kekerasan di sekolah belum mampu menghentikan praktik perundungan.

Menurutnya, pembiaran terhadap bullying hanya membuat persoalan terus menumpuk hingga akhirnya meledak dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya.

Apa yang Harus Dibenahi?

Kasus MAN 3 Padang menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya berfokus pada penghukuman pelaku. Yang lebih penting ialah membenahi akar persoalan.

Evaluasi perlu dilakukan terhadap penguatan layanan Bimbingan Konseling (BK), sistem pelaporan bullying yang benar-benar berjalan, pendampingan kesehatan mental di sekolah, peningkatan literasi digital bagi siswa maupun orang tua, hingga pengawasan aktivitas anak di ruang siber tanpa mengabaikan hak privasinya.

Kolaborasi sekolah, keluarga, pemerintah, dan platform digital menjadi kunci agar tanda-tanda bahaya dapat dideteksi lebih dini.

Andreas menilai selama ini penanganan kekerasan di sekolah masih bersifat reaktif.

"Selama ini kita hanya mengobati atau menangani simtom-simtomnya saja, akar masalahnya nggak tersentuh. Kita butuh evaluasi secara radikal sekolah-sekolah kita," tegas Andreas.

Kasus MAN 3 Padang menjadi pengingat bahwa ledakan bom bukanlah peristiwa yang lahir dalam semalam.

Di baliknya terdapat rangkaian persoalan yang saling berkaitan, mulai dari bullying yang berlangsung bertahun-tahun, tekanan mental yang tak tertangani, hingga paparan konten berbahaya di ruang digital.

Tanpa pembenahan terhadap akar persoalan tersebut, ancaman terulangnya kasus serupa akan tetap terbuka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm, Pakar Minta Sekolah Perkuat Ruang Dialog

Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm, Pakar Minta Sekolah Perkuat Ruang Dialog

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:43 WIB

Bom Rakitan Siswa MAN 3 Padang Jadi Alarm, Sosiolog UGM Soroti Bahaya Copycat Crime

Bom Rakitan Siswa MAN 3 Padang Jadi Alarm, Sosiolog UGM Soroti Bahaya Copycat Crime

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 18:16 WIB

Sentil Polisi dan Lembaga Negara, MenHAM Pigai Curhat Jadi Korban Rasisme: Kenapa Tak Mau Hentikan?

Sentil Polisi dan Lembaga Negara, MenHAM Pigai Curhat Jadi Korban Rasisme: Kenapa Tak Mau Hentikan?

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 17:42 WIB

Terkini

Krisis Air Bersih! Warga Cilegon Jalan Kaki Demi Setetes Air

Krisis Air Bersih! Warga Cilegon Jalan Kaki Demi Setetes Air

Foto | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:00 WIB

The Odyssey: Hadir dengan Tema Kesetiaan dan Perjalanan Heroik yang Epik!

The Odyssey: Hadir dengan Tema Kesetiaan dan Perjalanan Heroik yang Epik!

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:00 WIB

Kemlu Iran: Tidak Ada  Negosiasi Damai dengan Amerika!

Kemlu Iran: Tidak Ada Negosiasi Damai dengan Amerika!

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:56 WIB

Masa Depan Bandara Kertajati di Tangan AHY

Masa Depan Bandara Kertajati di Tangan AHY

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:56 WIB

LG Perkuat Pembelajaran Berbasis Teknologi di SMK, Kelas Multimedia Berstandar Industri Hadir

LG Perkuat Pembelajaran Berbasis Teknologi di SMK, Kelas Multimedia Berstandar Industri Hadir

Tekno | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Pangeran William dan Keir Starmer Sangat Kecewa Setelah Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026

Pangeran William dan Keir Starmer Sangat Kecewa Setelah Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:49 WIB

Eks Jenderal TNI Jadi Bos Peruri, Ini Alasan BP BUMN

Eks Jenderal TNI Jadi Bos Peruri, Ini Alasan BP BUMN

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:47 WIB

5 Cara Atasi Pompa Air Nyala Tapi Air Tidak Mau Naik, Gratis Tanpa Panggil Tukang Servis

5 Cara Atasi Pompa Air Nyala Tapi Air Tidak Mau Naik, Gratis Tanpa Panggil Tukang Servis

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:43 WIB

Usai Dicek FBI, Don Ritto Berikut Tumpukan Emas dan Dolar Dilimpahkan ke Kejagung Besok!

Usai Dicek FBI, Don Ritto Berikut Tumpukan Emas dan Dolar Dilimpahkan ke Kejagung Besok!

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:40 WIB

Resmi! Iran Siap Angkat Senjata Melawan Amerika Serikat

Resmi! Iran Siap Angkat Senjata Melawan Amerika Serikat

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 08:39 WIB

×