Brasil Ungkap Persentase Efektivitas Vaksin Covid-19 Sinovac Rendah

Reza Gunadha, Hikmawan Muhamad Firdaus

Rabu, 13 Januari 2021 | 14:28 WIB
Brasil Ungkap Persentase Efektivitas Vaksin Covid-19 Sinovac Rendah
Vaksin Covid-19 Sinovac tiba di Turki. (Anadolu Agency/Aytug Can Sencar)

Suara.com - Brasil mengumumkan vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech China memiliki efektivitas hanya 50,4 persen dalam mencegah infeksi covid-19.

Menyadur Al Jazeera, Rabu (13/1/2021), angka tersebut diungkapkan oleh para ilmuan dari Butantan Institue pada hari Selasa (12/1) dan langsung mengundang kekecewaan sejumlah pihak.

Sebab, vaksin buatan China tersebut adalah satu dari dua yang telah disiapkan pemerintah federal untuk memulai imunisasi warganya.

Beberapa ilmuwan dan pengamat mengkritik pusat biomedis yang merilis sebagian data beberapa hari lalu yang dinilai menghasilkan ekspektasi yang tidak realistis.

Kebingungan mungkin menambah keraguan di Brasil tentang vaksin China, yang dikritik oleh Presiden Jair Bolsonaro, mempertanyakan "asal-usulnya".

"Kami memiliki vaksin yang bagus. Bukan vaksin terbaik di dunia. Bukan vaksin yang ideal," kata ahli mikrobiologi Natalia Pasternak, dengan nada mengkritik Butantan.

Minggu lalu, para peneliti Brasil mengungkapkan bahwa vaksin tersebut 78 persen manjur melawan kasus Covid-19 dengan kategori "ringan hingga parah".

Tetapi pada saat itu mereka peneliti mengatakan apa-apa tentang kelompok infeksi dengan kategori "sangat ringan" di antara mereka yang telah menerima vaksin tetapi tidak memerlukan bantuan klinis.

Ricardo Palacios, direktur medis untuk penelitian klinis di Butantan, mengatakan pada hari Selasa bahwa angka efektivitas yang rendah tersebut setelah digabung dengan data pada kasus "sangat ringan".

baca juga

"Kami membutuhkan komunikator yang lebih baik," kata Gonzalo Vecina Neto, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Sao Paulo dan mantan kepala regulator kesehatan Brazil Anvisa.

Pengungkapan sedikit demi sedikit tentang uji coba vaksin China secara global telah menimbulkan kekhawatiran bahwa uji coba tersebut belum menjadi sasaran pengawasan publik yang sama seperti yang dikembangkan oleh produsen AS dan Eropa.

Palacios dan pejabat di pemerintah negara bagian Sao Paulo, yang mendanai Butantan, menekankan bahwa tidak ada sukarelawan yang dirawat di rumah sakit setelah disuntik vaksin.

Pakar kesehatan masyarakat mengatakan hal tersebut sudah sedikit membantu rumah sakit Brasil yang berada di bawah tekanan beban kasus yang melonjak.

Namun, para pejabat juga mengatakan perlu waktu lebih lama untuk mengekang pandemi dengan vaksin. "Ini adalah vaksin yang akan memulai proses mengatasi pandemi," kata Pasternak.

Sementara itu, para peneliti Turki mengatakan bulan lalu bahwa vaksin itu efektif 91,25 persen berdasarkan analisis sementara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hasil Uji Klinis Vaksin Sinovac Brasil Keluar, Kemanjuran 50,4 Persen

Hasil Uji Klinis Vaksin Sinovac Brasil Keluar, Kemanjuran 50,4 Persen

Health | Rabu, 13 Januari 2021 | 14:13 WIB

Brasil Selesai Uji Klinis Tahap Akhir Vaksin Sinovac, Ini Hasilnya

Brasil Selesai Uji Klinis Tahap Akhir Vaksin Sinovac, Ini Hasilnya

News | Rabu, 13 Januari 2021 | 11:02 WIB

Ford Hentikan Produksinya di Brasil, Apa Sebab?

Ford Hentikan Produksinya di Brasil, Apa Sebab?

Otomotif | Selasa, 12 Januari 2021 | 17:50 WIB

Terkini

Jawa Barat Sumbang 12 Persen untuk Penjualan Yamaha Nasional, NMax dan Aerox Jadi Andalan

Jawa Barat Sumbang 12 Persen untuk Penjualan Yamaha Nasional, NMax dan Aerox Jadi Andalan

Otomotif | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:29 WIB

Flek Hitam di Wajah Karena Apa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Flek Hitam di Wajah Karena Apa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25 WIB

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:23 WIB

Polemik Londo Ireng: Ketika Kritik Media Dibalas Stigma dari Penguasa

Polemik Londo Ireng: Ketika Kritik Media Dibalas Stigma dari Penguasa

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:20 WIB

Blokade Laut AS ke Iran Masih Berlaku, Pasukan Donald Trump Siaga Tempur

Blokade Laut AS ke Iran Masih Berlaku, Pasukan Donald Trump Siaga Tempur

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05 WIB

Pemerintah Punya Tiga Opsi Hadapi Tekanan Fiskal, Salah Satunya Tambah Utang

Pemerintah Punya Tiga Opsi Hadapi Tekanan Fiskal, Salah Satunya Tambah Utang

Bisnis | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00 WIB

Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer

Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:50 WIB

Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo

Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:45 WIB

Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel

Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel

Bisnis | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:36 WIB

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:30 WIB

×