Waktu Hampir Habis untuk Selamatkan Hiu dan Ikan Pari

Siswanto, BBC

Senin, 01 Februari 2021 | 10:18 WIB
Waktu Hampir Habis untuk Selamatkan Hiu dan Ikan Pari
BBC

Suara.com - Para ilmuwan mengatakan hiu dan ikan pari mulai menghilang dari lautan dunia dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan.

Jumlah hiu yang ditemukan di laut terbuka menyusut hingga 71% hanya dalam kurun waktu 50 tahun terakhir karena penangkapan berlebihan, menurut sebuah penelitian terbaru.

Tiga perempat spesies hiu yang diteliti sekarang terancam punah.

Dan para peneliti mengatakan perlu tindakan cepat untuk mengamankan masa depan yang cerah bagi "hewan luar biasa dan tak tergantikan".

Mereka menyerukan kepada berbagai negara untuk menerapkan batasan penangkapan ikan.

Salah satu peneliti, Dr Richard Sherley dari Universitas Exeter, Inggris, mengatakan jumlah hiu di lautan ini makin menyusut tampaknya sangat didorong oleh penangkapan ikan yang berlebihan.

Dia mengatakan kepada BBC News: "Itulah yang mendorong penurunan hingga 70% dalam waktu 50 tahun terakhir. Dari setiap 10 ekor hiu di lautan terbuka pada tahun 1970an, hari ini kamu hanya menemukan tiga ekor saja, dari seluruh spesies ini."

Hiu dan pari yang ditangkap untuk diambil daging, sirip dan minyaknya. Orang-orang juga menangkap dalam rangka pemancingan rekreasi, atau tersangkut jaring kapal ikan yang sebenarnya tidak menargetkan mereka.

Dari 31 jenis hiu yang diteliti, 24 di antaranya saat ini diambang kepunahan, dan tiga jenis hiu (hiu putih, hiu martil, dan hiu martil besar) jumlahnya telah menurun tajam, sehingga mereka sekarang diklasifikasikan terancam punah - kategori ancaman tertinggi, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

baca juga

Prof Nicholas Dulvy dari Simon Fraser University di British Columbia, Kanada, mengatakan hiu dan pari di laut lepas berada pada risiko kepunahan yang sangat tinggi, jauh lebih parah dari burung, mamalia atau katak.

"Penangkapan hiu dan pari yang berlebihan, membahayakan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan, serta ketahanan pangan untuk beberapa negara miskin dunia," katanya.

'Peringatan untuk mengambil tindakan'

Para peneliti mengumpulkan data global hiu dan pari yang ditemukan di laut terbuka (bukan seperti hiu karang yang biasanya ditemukan di dekat pantai)

Dari 1.200 jenis hiu dan pari di dunia, 31 di antaranya adalah jenis penjelajah samudra, menempuh jarak yang jauh melintasi perairan.

"Ini adalah jenis predator laut lepas yang besar, penting, yang akan dikenal orang," kata Dr Sherley. "Jenis hiu yang mungkin digambarkan orang sebagai yang menakjubkan atau karismatik."

Dia mengatakan kemauan politik dibutuhkan untuk memulihkan populasi hiu dan pari.

"Ilmu pengetahun ada di sana, perlu ada kemauan untuk mengukur jumlah mereka, untuk menerapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mengurangi penangkapan hiu, dan kemauan politik harus datang dari tekanan masyarakat," jelas Dr Sherley.

Terlepas dari gambaran "suram" ini, para peneliti mengatakan beberapa cerita konservasi hiu telah membawa harapan.

Sonja Fordham, Presiden dari Shark Advocates International, sebuah proyek nirlaba dari The Ocean Foundation, mengatakan sejumlah spesies termasuk hiu putih besar, populasinya sudah relatif membaik. Ini karena adanya pembatasan penangkapan ikan berbasis sains.

"Usaha perlindungan yang relatif sederhana dapat membantu menyelamatkan hiu dan pari, tapi waktunya sudah hampir habis," katanya.

"Kami membutuhkan tindakan konservasi di seluruh dunia, untuk mencegah berbagai konsekuensi negatif yang tak terhitung jumlahnya, dan menjamin masa depan yang lebih cerah untuk hewan luar biasa dan tak tergantikan ini.

Hiu berada di puncak rantai makanan, dan keberadaannya sangat krusial bagi kesehatan lautan. Kepunahan mereka berdampak terhadap hewan laut lainnya, yang merupakan sumber makanan bagi manusia.

"Hiu dan pari laut lepas sangat berperan penting bagi kesehatan ekosistem laut, tapi karena mereka hidup tersembunyi di bawah permukaan laut, sulit untuk mengukur dan memantau status mereka," kata Nathan Pacoureau dari Simon Fraser University, Kanada.

"Penelitian kami menggambarkan teori global pertama dari kondisi spesies penting ini, pada saat negara-negara harus menangani kemajuan yang tidak cukup, menuju tujuan global yang berkelanjutan.

"Sedangkan, awalnya kami bermaksud menjadikan ini sebagai kartu laporan yang berguna, sekarang kami harus berharap ini juga berfungsi sebagai peringatan mendesak untuk mengambil tindakan."

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Nature

Ikuti Helen di Twitter.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaya Akan Protein, Berikut Ini 3 Manfaat Mengonsumsi Daging Ikan Pari

Kaya Akan Protein, Berikut Ini 3 Manfaat Mengonsumsi Daging Ikan Pari

Your Say | Jum'at, 27 Oktober 2023 | 08:22 WIB

Ikan Pari Terbesar di Dunia Ditemukan di Kamboja

Ikan Pari Terbesar di Dunia Ditemukan di Kamboja

Video | Selasa, 21 Juni 2022 | 21:35 WIB

Ikan Air Tawar Terbesar Sedunia Ditemukan di Kamboja

Ikan Air Tawar Terbesar Sedunia Ditemukan di Kamboja

News | Selasa, 21 Juni 2022 | 16:52 WIB

Ilmuwan: Ditemukan Ikan Pari Terbesar di Dunia

Ilmuwan: Ditemukan Ikan Pari Terbesar di Dunia

Tekno | Selasa, 21 Juni 2022 | 06:26 WIB

Terkini

Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul

Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 02:23 WIB

Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD

Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 02:16 WIB

Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!

Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 01:51 WIB

Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing

Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 01:41 WIB

Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah

Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 00:58 WIB

Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU

Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 23:30 WIB

Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal

Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 23:30 WIB

Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!

Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 22:59 WIB

Bareskrim Rampungkan Berkas Kasus Impor Handphone Ilegal, Tiga Tersangka Segera Disidang

Bareskrim Rampungkan Berkas Kasus Impor Handphone Ilegal, Tiga Tersangka Segera Disidang

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 22:59 WIB

Mengapa Pengembalian Amplop Belum Tentu Membebaskan Raja Juli Antoni dari Pidana?

Mengapa Pengembalian Amplop Belum Tentu Membebaskan Raja Juli Antoni dari Pidana?

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 22:26 WIB

×