Cerita Para Penyintas Longsor Himalaya: 7 Jam Tersulit dalam Hidup Saya

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 16 Februari 2021 | 14:42 WIB
Cerita Para Penyintas Longsor Himalaya: 7 Jam Tersulit dalam Hidup Saya
BBC

Suara.com - Pada Minggu (07/02), Basant Bahadur dan 11 orang lainnya terperangkap selama berjam-jam di sebuah terowongan di India utara. Mereka bertahan dengan berpegangan di atap jeruji besi, sementara yang lain duduk di penggali mekanis di atas air sedingin es, menunggu bantuan datang.

Apa yang mereka tidak tahu saat itu adalah gletser Himalaya longsor ke sungai, memicu banjir besar. Puing-puing yang terbawa air banjir pun meluncur deras ke arah mereka.

Bencana itu menutup dua terowongan yang terhubung ke proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tapovan Vishnugad di negara bagian Uttarakhand, India. Saat sedang bekerja di proyek itu, Basant Bahadur dan kelompoknya sempat terperangkap dan akhirnya diselamatkan melalui terowongan yang lebih kecil.

Tim darurat lalu berfokus untuk menyelamatkan 35 orang lain, yang diyakini terperangkap di tempat yang lebih panjang, sekitar 8,3 kilometer.

Di situ, para penyintas bercerita kepada BBC Hindi pengalaman menegangkan mereka berjam-jam terperangkap dalam kegelapan total.

'Tujuh jam tersulit dalam hidup saya'

Basant Bahadur dan rekannya bekerja sekitar 300 meter (sekitar 900 kaki) di dalam terowongan sepanjang 3,8 kilometer ketika banjir melanda.

Awalnya mereka mengira ada tabung gas meledak, yang menyebabkan ledakan lebih besar sehingga terowongan runtuh.

Mereka pun khawatir jika mencoba keluar dari terowongan akan berisiko tersengat listrik - mereka dapat melihat asap tebal naik. Telinga mereka jadi mati rasa karena suara keras.

"Tiba-tiba gelombang besar air datang ke arah kami di dalam terowongan yang gelap. Kami ketakutan," kata Bahadur. Para pekerja berlari menuju JCB (penggali mekanis) dan memanjatnya untuk tetap berada di atas air yang mengalir masuk.

"Itu adalah tujuh jam tersulit dalam hidup saya. Tapi kami tidak kehilangan harapan. Kami terus menyemangati diri kami sendiri."

Untungnya, Bahadur membawa ponsel.

Namun, jaringan seluler di terowongan yang tertutup itu tidak stabil. Akhirnya, mereka berhasil melakukan kontak dengan tim darurat yang menarik mereka keluar menggunakan tali.

'Air menyembur ke terowongan'

Di antara mereka yang diselamatkan adalah ahli geologi Srinivas Reddy. Dia bekerja di terowongan dengan kedalaman sekitar 350 meter.

Seorang pekerja berlari ke dalam terowongan sambil berteriak agar semua orang keluar, karena air di sungai terdekat naik dengan cepat. Tapi, Reddy dan para pekerja tidak punya cukup waktu untuk melarikan diri.

"Air mengalir ke terowongan, langsung ke arah kami. Kami memegang jeruji besi yang dipasang di langit-langit terowongan dan menarik diri ke atas dan menunggu permukaan air surut."

https://twitter.com/ANI/status/1358978656232632323

Mereka bertahan hidup dengan bergantung di jeruji besi. Setelah beberapa saat, ketika melihat permukaan air telah berhenti naik, mereka berjalan menuju pintu masuk.

Mereka bergerak dalam kegelapan total, karena banjir puing dan air telah memutus aliran listrik ke terowongan. Beberapa pekerja yang terperangkap merasa sesak nafas.

"Kami berada di air yang dingin. Kaki kami membeku. Air dan puing-puing memenuhi sepatu bot kami, yang membebani kami. Kaki kami mulai bengkak," kata Reddy.

Untuk menjaga semangat tetap tinggi, dia mengaku mulai bernyanyi saat mereka menunggu dalam gelap.

"Saya mulai bernyanyi dan mulai melafalkan puisi untuk membuat semua orang terhibur. Sesekali, kami semua melakukan beberapa latihan," katanya. "Saya ingin semua orang tetap aktif dan waspada sehingga kami bisa keluar dari terowongan."

Para pekerja terus berusaha menghubungi tim penyelamat di luar terowongan, tetapi tidak bisa mendapat sinyal seluler. Akhirnya, mereka berhasil mendapatkan panggilan dan ditarik ke tempat aman.

'Air menghantam kami - listrik padam'

Virender Kumar Gautam adalah salah satu yang terakhir diselamatkan.

Sebuah video menunjukkan dia mengangkat tangan ke atas dengan penuh bahagia, berseru gembira setelah ditarik keluar oleh petugas darurat. Video itu pun jadi viral.

Dia berada di terowongan saat air datang. "Begitu air menghantam kami, listrik padam. Di kejauhan, kami bisa mendengar suara-suara keras."

Tenggelam dalam kegelapan, terowongan itu tampak menakutkan saat permukaan air naik.

Gautam berpikir bahwa mungkin awan yang meledak yang menyebabkan banjir bandang. Selama 15 menit, permukaan air terus naik. Lalu berhenti.

"Ketika aliran air mulai surut, kami tahu yang terburuk telah berlalu. Saya mengatakan kepada semua rekan untuk bersabar dan bahwa kami akan keluar dari terowongan," katanya kepada BBC Hindi.

Mereka semua berpegangan pada jeruji besi di sisi terowongan dan perlahan berjalan menuju pintu masuk. Para pekerja mencoba melakukan kontak dengan tim penyelamat tetapi, seperti yang lainnya, mereka kesulitan untuk mendapat sambungan telepon seluler.

Namun, mereka terus mencoba. Setelah menunggu lama, mereka dapat melakukan kontak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:57 WIB

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:45 WIB

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:07 WIB

Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur

Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:49 WIB

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:24 WIB

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:10 WIB

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:42 WIB

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:41 WIB

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:29 WIB