Lumba-lumba Dekati Pantai, Bahkan Hingga Mati, Kenapa Bisa Terjadi?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 24 Maret 2021 | 10:48 WIB
Lumba-lumba Dekati Pantai, Bahkan Hingga Mati, Kenapa Bisa Terjadi?
BBC

Suara.com - Kematian seekor lumba-lumba jenis hidung botol yang terdampar di pantai di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menambah rangkaian kejadian lumba-lumba terdampar di pantai dan sungai di Indonesia.

Sejak tahun 2013, warga di berbagai daerah melaporkan temuan lumba-lumba terdampar dan kerap menyebutnya sebagai 'kejadian langka'.

Khusus untuk kejadian di Tapanuli Selatan pekan ini, warga setempat mengaku sebelumnya mereka melihat ribuan lumba-lumba lalu-lalang di pantai tersebut.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lumba-lumba hidung botol memang biasa bergabung dalam kawanan dengan jumlah banyak.

Namun tindakan mamalia laut itu mendekat ke pantai dinilai sebagai keputusan terpaksa yang membahayakan diri mereka.

Hari itu, Jumat (19/03), Kepala Desa Muara Upu Husnul Amir Harahap mengaku merasa takjub melihat ribuan ekor lumba-lumba berenang hingga ke tepian pantai. Menurutnya, fenomena ini sangat jarang terjadi di daerah tersebut.

Husnul melihat kawanan lumba-lumba nyaris memenuhi sisi pantai. Biasanya, menurut dia, nelayan setempat hanya melihat satwa itu di tengah laut.

"Kalau sebanyak itu sangat jarang terjadi. Baru kali ini. Jumlahnya mungkin ribuan karena tampak dari pinggir (pantai) sampai ke tengah," kata Husnul kepada wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Husnul memperkirakan munculnya lumba-lumba tersebut tak lain untuk berburu ikan-ikan kecil.

Karena langka, lanjut Husnul, kemunculan lumba-lumba itu sempat menjadi ajang tontonan bagi warga setempat. Di sisi lain, kehadiran mereka menyulitkan para nelayan setempat untuk mencari ikan.

"Tapi yang jadi korbannya juga nelayan karena susah mendapatkan ikan," kata Husnul.

Namun malang, tak lama setelah kemunculan kawanan lumba-lumba, satu di antaranya ditemukan tewas terdampar.

Husnul berpikir hewan mamalia laut itu tewas lantaran terbawa ombak hingga ke daratan.

"Perkiraan saya karena terbawa ombak ke pantai dan tidak bisa kembali lagi," kata Husnul.

Lumba-lumba yang tewas itu memiliki panjang sekitar satu meter. Sedangkan bobotnya diperkirakan mencapai 30 kilogram. Kulitnya berwarna putih kehitaman.

Sekujur kulit bangkai lumba-lumba itu sudah mengelupas dan kini telah dikubur di pantai tak jauh dari lokasi penemuan.

"Seumur hidup saya baru tiga kali melihat (lumba-lumba). Inilah yang ketiga," katanya.

Muara Upu merupakan satu-satunya desa di Kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di pesisir. Desa ini memiliki garis pantai sepanjang 19 kilometer. Di samping panorama khas Pantai Barat Sumatera, kawasan desa ini juga menjadi tempat bertelur bagi satwa langka Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

Kejadian pertama

Kepala Seksi Wilayah V Sipirok BBKSDA Sumatera Utara Refdi Azmi mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi terdamparnya lumba-lumba di Desa Muara Upu.

Saat ini, bangkai lumba-lumba itu sudah dikubur di pantai tersebut. Refdi memperkirakan bahwa lumba-lumba itu memiliki panjang satu meter dengan bobot mencapai 30 kilogram.

Karena kondisinya mulai membusuk, Refdi tidak bisa mengidentifikasi jenis kelaminnya.

Menurut Refdi, lumba-lumba sangat jarang mendekati kawasan pantai Desa Muara Upu. Sejauh ini, katanya, baru satu ekor mamalia laut yang ditemukan mati terdampar di lokasi tersebut.

"Itu memang ada satu ekor yang terdampar karena diperkirakan pada Jumat itu ada gelombang tinggi di sana, pasang besar. Jadi diduga dia terdampar dan tidak bisa balik lagi," kata Refdi kepada wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (23/3/2021).

Refdi juga mendengar informasi dari masyarakat soal kemunculan kawanan lumba-lumba di sekitar pantai sebelum penemuan bangkai. Meski demikian, Refdi tidak bisa memastikan lantaran pihaknya tidak ada di lokasi saat peristiwa terjadi.

"Katanya seperti itu (ada ribuan ekor lumba-lumba). Tapi kita tidak melihat langsung. Cuma dengar dari masyarakat saja," kata Refdi.

Menurut Refdi, kemunculan lumba-lumba di Desa Muara Upu tergolong langka. Hewan itu biasa terlihat hanya di tengah laut. Sebab, Samudera Hindia memang menjadi habitat bagi mamalia laut seperti lumba-lumba.

Seharusnya mampu mengidentifikasi bahaya

Peneliti LIPI Rr Sekar Mira mengatakan, lumba-lumba yang terdampar di pantai kawasan Desa Muara Upu berjenis Lumba-lumba Hidung Botol atau Indo-Pacific bottlenose dolphin.

Jenis ini umum ditemukan di laut Indonesia. Lumba-lumba ini biasa biasa hidup berkelompok. Satu kawanan bahkan bisa mencapai ribuan anggota. Sedangkan untuk kelompok kecil biasanya terdiri atas 5-15 ekor.

Di samping itu, menurut Mira, kawanan Indo-Pacific bottlenose dolphin terkadang juga bergabung dengan kawanan saudara dekatnya, Common bottlenose dolphin (Tursiops truncatus).

Karena berkelompok dalam jumlah banyak, lumba-lumba ini memiliki strategi tersendiri untuk berburu mangsa.

"Strategi mereka mencari makan dengan menggiring ikan-ikan kecil ke daerah dangkal. Memang hal ini berisiko juga untuk mereka (lumba-lumba). Karena kelompok besar bisa terdampar," ujar Mira.

Mira mengatakan, fenomena kemunculan ribuan lumba-lumba bisa terjadi lantaran dua kawanan bergabung jadi satu untuk berburu mangsa.

"Soal ribuan ekor itu, karena lumba-lumba jenis Indo-Pacific bottlenose dolphin yang kadang bercampur antara Tursiops aduncus dan Tursiops truncatus, jadi wajar sih melihat mereka dalam jumlah besar," kata Mira.

Menurut Mira, hewan ini memiliki insting berburu dan dikaruniai sonar biologis yang disebut ekolokasi. Dengan insting yang dimiliki, kawanan lumba-lumba sejatinya mampu mengidentifikasi kedangkalan daerah yang mereka tuju.

Masyarakat bisa membantu

Namun karena kondisi tertentu, seperti jumlah ikan buruan yang kian sedikit, menyebabkan hewan tersebut terpaksa melakukan tindakan yang membahayakan mereka.

"Jadi mungkin dengan jumlah ikan yang semakin sedikit, tentu dibutuhkan effort dari lumba-lumba, lebih sulit untuk mereka mencari makan. Mungkin ini yang menyebabkan mereka bisa sampai terdampar," kata Mira.

Menurut Mira, masyarakat di sekitar pantai juga memiliki peran membantu lumba-lumba atau mamalia laut lain agar tidak terdampar. Yakni dengan menggiring mereka kembali ke tengah laut jika sudah mendekati areal pantai.

Solusi lainnya, lanjut Mira, yakni penggunaan alat bantu khusus yang disebut Pinger.

"Alat ini mampu mengeluarkan bunyi-bunyian yang akan membuat lumba-lumba aware agar tidak mendekat ke daerah tersebut," kata Mira.

Meski kejadian lumba-lumba terdampar baru pertama kali terjadi di Tapanuli Selatan, tapi data menunjukkan rangkaian kejadian sebelumnya sejak Mei 2013.

Rata-rata temuan lumba-lumba terdampar di pantai atau sungai ini antara satu hingga tiga ekor dengan jenis beragam seperti lumba-lumba hidung botol dan spinner.

Mereka ditemukan di sejumlah perairan di berbagai provinsi Indonesia, seperti Aceh, Nias Utara, Batam, dan Padang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan

Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 12:24 WIB

Nelayan Terombang-ambing 15 Jam di Perairan Manokwari, Tim SAR Turun Tangan

Nelayan Terombang-ambing 15 Jam di Perairan Manokwari, Tim SAR Turun Tangan

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 18:33 WIB

Paus Sperma Sepanjang 10 Meter Terdampar di Kolaka

Paus Sperma Sepanjang 10 Meter Terdampar di Kolaka

Foto | Rabu, 04 Maret 2026 | 09:30 WIB

Tawa Penonton, Tangis Lumba-Lumba: Ironi Atraksi Atas Nama Edukasi

Tawa Penonton, Tangis Lumba-Lumba: Ironi Atraksi Atas Nama Edukasi

Your Say | Senin, 12 Januari 2026 | 14:50 WIB

Lebih Setia dari Manusia? Ini 10 Hewan yang Kisah Loyalitasnya Bikin Hati Luluh

Lebih Setia dari Manusia? Ini 10 Hewan yang Kisah Loyalitasnya Bikin Hati Luluh

Your Say | Selasa, 21 Oktober 2025 | 08:05 WIB

Viral 8 Ekor Lumba-lumba Terdampar di Perairan Asahan, Apa Sebabnya?

Viral 8 Ekor Lumba-lumba Terdampar di Perairan Asahan, Apa Sebabnya?

News | Kamis, 14 Agustus 2025 | 11:26 WIB

Viral Tragedi Fiktif Jessica Radcliffe Dimakan Paus Gegara Popularitas Insiden Nyata, Benarkah?

Viral Tragedi Fiktif Jessica Radcliffe Dimakan Paus Gegara Popularitas Insiden Nyata, Benarkah?

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 13:10 WIB

Siapa Penyebar Pertama Video Viral Jessica Radcliffe Pelatih Lumba-Lumba Dimangsa Paus?

Siapa Penyebar Pertama Video Viral Jessica Radcliffe Pelatih Lumba-Lumba Dimangsa Paus?

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 11:34 WIB

Video Detik-detik Pelatih Jessica Radcliffe Tewas Dimakan Paus Orca Viral, Hoaks Canggih Buatan AI

Video Detik-detik Pelatih Jessica Radcliffe Tewas Dimakan Paus Orca Viral, Hoaks Canggih Buatan AI

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 10:34 WIB

Kenapa Orang Percaya Pelatih Lumba-lumba Jessica Radcliffe Tewas Dimakan Paus Orca? Ini Penyebabnya

Kenapa Orang Percaya Pelatih Lumba-lumba Jessica Radcliffe Tewas Dimakan Paus Orca? Ini Penyebabnya

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 09:57 WIB

Terkini

Mengapa 9 WNI Ditangkap Militer Israel? Kronologi, Misi, dan Jerat Hukum Internasional

Mengapa 9 WNI Ditangkap Militer Israel? Kronologi, Misi, dan Jerat Hukum Internasional

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 22:11 WIB

Menlu Sugiono Geram, Kutuk Tindakan Israel yang Rendahkan Martabat 9 WNI

Menlu Sugiono Geram, Kutuk Tindakan Israel yang Rendahkan Martabat 9 WNI

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 22:05 WIB

Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?

Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 21:54 WIB

LKPP Akui Sistem Belum User Friendly, Padahal Anggaran Pengadaan Capai Rp1.200 Triliun

LKPP Akui Sistem Belum User Friendly, Padahal Anggaran Pengadaan Capai Rp1.200 Triliun

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 21:35 WIB

Sedang Tidur Pulas, Gunawan Dihujani 9 Bacokan Celurit di Kontrakan Tomang

Sedang Tidur Pulas, Gunawan Dihujani 9 Bacokan Celurit di Kontrakan Tomang

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 21:24 WIB

Pelapor Mafia Tanah Malah jadi Tersangka, Kini Pasrah Kehilangan Harta

Pelapor Mafia Tanah Malah jadi Tersangka, Kini Pasrah Kehilangan Harta

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 21:17 WIB

Menteri LH: Sampah Organik Jadi Kunci Utama Penurunan Emisi Metana Indonesia

Menteri LH: Sampah Organik Jadi Kunci Utama Penurunan Emisi Metana Indonesia

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:52 WIB

9 WNI Bebas dari 'Neraka' Penjara Ktziot Israel, Alami Kekerasan dan Pelecehan

9 WNI Bebas dari 'Neraka' Penjara Ktziot Israel, Alami Kekerasan dan Pelecehan

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:52 WIB

Terkuak, Instruksi 'Rem Dikit-dikit' di Balik Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur

Terkuak, Instruksi 'Rem Dikit-dikit' di Balik Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:33 WIB

Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir

Geger Dugaan Tender Janggal Kemenkes Rp267 M di RSUD Rodo Fabo, Gugatan PTUN Bergulir

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 20:24 WIB