alexametrics

Mantan Teroris Sebut Paham Radikal Masih Masif dan Menyebar

Erick Tanjung | Ummi Hadyah Saleh
Mantan Teroris Sebut Paham Radikal Masih Masif dan Menyebar
Ilustrasi --Penangkapan terduga teroris di Tuban dan Surabaya [Foto: Antara]

Karena sebagai bukti masih ada aksi-aksi teror dan lagi-lagi sasarannya adalah orang-orang yang memang tidak bersalah, ujar Haris.

Suara.com - Mantan Narapidana Teroris (Napiter) dan Pembina Hubbul Wathon Indonesia 19, Haris Amir Falah mengatakan bahwa paham radikalisme masih sangat masif menyebar di tanah air.

Hal itu menyusul adanya aksi teror bom di depan Gereja Katederal pada Minggu (28/3/2021) dan serangan teros di Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021).

"Karena sebagai bukti masih ada aksi-aksi teror dan lagi-lagi sasarannya adalah orang-orang yang memang tidak bersalah, termasuk di dalamnya misalnya di depan Katedral Makassar, kemudian sudah menyasar ke Mabes Polri," kata Haris dalam Diskusi Polemik MNC Trijaya "Bersatu Melawan Teror", Sabtu (3/4).

Haris menuturkan aksi radikalisme bukan bagian dari ajaran agama manapun termasuk Islam. Karenanya melawan terorisme, melawan radikalisme bukan melawan agama.

Baca Juga: Pemprov DKI Bakal Sebar Duta Damai, Ajarkan Anak Sekolah Tidak Radikal

"Kita harus punya kesepakatan untuk memberantas ini semuanya. Karena daya rusaknya itu sangat luar biasa dan saya secara pribadi pernah mengalami itu," ucap dia.

Hari mengatakan dalam melaksanakan aksi teror, kelompok teroris melakukan dua hal yakni menciptakan momentum atau bertemu momentum. Hal tersebut ia alami saat pernah menjadi teroris.

"Aksi teror itu selalu memang dua orang-orang atau kelompok seperti ini ya sebagaimana yang pernah saya rasakan dulu. Pertama adalah menciptakan momentum atau kemudian dia akan bertemu dengan momentum," tuturnya.

Haris menduga bahwa terduga teroris di Makassar dan di Mabes Polri dalam menjalankan aksinya ingin menciptakan momentum yang dianggap mereka ada sebuah ketidakadilan.

"Sangat boleh jadi dua (pelaku teroris) itu bisa terjadi ya mungkin orang ingin menciptakan sebuah momentum, karena ada isu-isu yang yang kelihatannya menurut kacamata orang-orang radikal ini kan misalnya ketidakadilan seperti itu ya. Jadi momentum itu biasanya kalau mau diciptakan mahal ya , mereka lebih lebih memilih bertemu dengan momentum," katanya.

Baca Juga: Pengamat ke Pemerintah: Kenapa Banyak Anak Muda Tidak Tertarik Pancasila?

Ketika ditanya apakah pandemi menjadi momentum para teroris menjalankan aksinya, Haris mengatakan bahwa justru pandemi dijadikan momentum untuk menjalankan aksi teror. Ia pun menyebut para teroris adalah orang yang sudah mati rasa kemanusiannya.

Komentar