Berkebun di Atap Masjid Jami Baitussalam Jakarta, Demi Kemakmuran Jemaah

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Kamis, 22 April 2021 | 15:49 WIB
Berkebun di Atap Masjid Jami Baitussalam Jakarta, Demi Kemakmuran Jemaah
Masjid Jami Baitussalam yang berlokasi di Keagungan, Tamansari, Jakarta Barat. [BBC]

Suara.com - Ruang komunal dan lahan pertanian produktif di Jakarta telah tergerus oleh kepadatan penduduk. Tapi di lain sisi, pandemi covid-19 menampar keras perekomian warga.

Covid-19 yang mewabah sejak setahun terakhir, membuat banyak warga ibu kota kehilangan pekerjaan, termasuk Sofyan.

Sebelum covid-19 menyerang, Sofyan merupakan pekerja jasa pembuatan paspor.

"Kan kerjaan itu bergerak di pariwisata, otomatis berdampak banget kalau pariwisata itu," tutur Sofyan kepada BBC News Indonesia, Minggu (10/4/2021).

Tapi, beruntung, Sofyan tak sendirian. Sejumlah jemaah Masjid Jami Baitussalam yang berlokasi di Keagungan, Tamansari, Jakarta Barat, juga mengalami hal serupa.

Pada awal pandemi, virus corona juga telah menghentikan operasional masjid - yang berdiri di sana sejak tahun 1960-an - membuatnya menjadi sepi tanpa pemasukan untuk biaya operasional.

Hingga akhirnya, salah seorang pengurus masjid mencetuskan ide memberdayakan jemaah yang kehilangan pekerjaan, dalam aktivitas bercocok tanam tanpa tanah - atau hidroponik - dengan memanfaatkan lahan seluas sekitar 200 m2 di atap masjid.

Ini sekaligus menandai dimulainya Masjid Baitussalam Farm (MB Farm). Sofyan menjadi ketua kelompok petani yang aktif di kebun hidroponik tersebut.

"Kita kan awalnya jemaah aktif di Masjid Baitussalam ini, akhirnya setiap ada kegiatan di masjid saya ikut berpartisipasi, ikut membantu."

"Apalagi ini karena Covid-19, main hidroponik, otomatis saya langsung terjun main hidroponik ini," ujar pria berusia 47 ini menuturkan awal mula dirinya beralih profesi menjadi petani hidroponik.

Pencetus ide pembuatan kebun hidroponik di atap Masjid Baitussalam adalah Dwi Sudaryono.

Pria yang menjabat sebagai Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Baitussalam ini menuturkan motivasinya mencetuskan gagasan tersebut.

"Sebenarnya ide awalnya memang selain untuk mencari kesibukan bagi para pengurus DKM dan jamaah, ada juga supaya ada sumbangsih ke masjid dan juga untuk petaninya sendiri," jelas Dwi.

"Jadi banyak jamaah yang kena PHK, lagi kosong, bisa diberdayakan di atas. Keuntungan ini bisa menyumbang masjid, pengurus atau petaninya bisa mendapatkan hasil daripada tidak ada kegiatan, jadi ada income tambahan," ujarnya kemudian.

Bercocok tanam dengan hidroponik dipilih karena menurutnya "sangat mudah dan tidak memerlukan lahan yang besar". Di sisi lain, sayuran yang ditanam lebih cepat dipanen.

"Saya pikir sangat sederhana dan cepat panen, 20-25 hari sudah menghasilkan panen," kata Dwi.

Saat ini, telah ada enam sistem hidroponik di atap masjid dengan total lebih dari 2.000 lubang yang dapat ditanami sayur caisim, pakcoy, kangkung dan selada.

Belajar dari internet

Awalnya, para petani yang aktif di MB Farm tak memiliki pengetahuan sama sekali tentang hidroponik.

Ilmu tentang bercocok tanam hidroponik, kata Sofyan, didapatnya dari internet sambil langsung mempraktikannya di atap masjid.

"Ya pasti ada kegagalan lah, pas penyemaian itu kita kurang maksimal, pakai nutrisi atau pakai air," katanya, menceritakan kegagalan yang ia alami pada awal MB Farm berdiri.

Kendati begitu, Sofyan mengatakan bahwa bercocok tanam dengan hidroponik sangat mudah. Akan tetapi, lokasi kebun hidroponik di atap masjid, menurutnya, menciptakan tantangan tersendiri.

"Sebenarnya sih gampang kalau main hidroponik. Mungkin tiap hari kita cek air, nutrisi. Mungkin kalau di atas sini kan terkendala cuaca, ada angin kenceng, hujan," kata dia, seraya menambahkan bahwa sayuran organik dari kebun hidroponik biasanya bebas pestisida, higienis, dan aman bagi kesehatan.

Lebih lanjut Sofyan menambahkan, bibit sayuran disemai terlebih dulu selama empat hari.

Setelah itu, tanaman dipindahkan ke sistem dan dipanen setelah 20 hari.

Muhammad Faizin, petani hidroponik yang juga menangani segala kegiatan peribadatan dan syiar keagamaan di Masjid Baitussalam, mengatakan bahwa tujuan utama dari MB Farm adalah untuk sosial.

Namun seiring jumlah sistem hidroponik yang kian bertambah, bercocok tanam di atap masjid dipandang memiliki potensi ekonomi.

"Artinya, setelah kita perbanyak sistemnya hasilnya kalau untuk kalangan sendiri sudah terlalu banyak. Jadi awalnya kita bagi ke masyarakat, akhirnya ada pikiran ide bagaimana untuk dipasarkan," kata Faizin.

Pemasaran terkendala

Para petani kemudian memasarkan sayuran yang mereka panen dengan berbagai cara, mulai dari mulut ke mulut, media sosial, hingga lewat pengumuman masjid.

"Kami siarkan di acara salat Jumat, kita tidak segan-segan tawarkan pada jemaah, dan ini kan masuk unit usaha masjid, bahwa masjid punya dagangan nih, sayuran, caisim, kangkung dan lain sebagainya," jelas Faizin.

Setiap dua minggu, MB Farm bisa memproduksi sekitar 10-20 paket sayuran organik. Paket-paket ini masing-masing dijual seharga Rp10.000 dengan berat sekitar 400 gram.

Sayangnya, sayuran organik masih sedikit diminati warga lantaran harganya yang lebih mahal ketimbang sayuran yang biasa dijual di pasar.

"Karena memang dari disparitas harga ini sangat jauh. Kalau di pasaran, harga caisim itu dibawah Rp10.000 sekilo, tapi kita jual Rp25.000, disparitas harganya jauh," aku Faizin.

Faizin yang juga bertugas sebagai ketua tim pemasaran MB Farm, terpaksa harus memutar otak agar produknya bisa dipasarkan di supermarket dan pusat perbelanjaan modern.

"Kalau bisa maksimal, kita bisa masuk ke mall-mall. Apalagi kita nempel dengan [Mall] Grand Paragon. Mereka juga jual produk-produk hidroponik, harganya Masya Allah sampai Rp60.000 per kilo," kata dia.

"Artinya, pintu masuk sudah ada. Tinggal bagaimana nanti kita untuk bisa mengembangkan dan menjaga mutu dari produk kita ini," ujar Faizin kemudian.

Untuk menambah penghasilan, para petani berencana menjual jus dari sayuran organik hasil kebun yang dicampur dengan madu dan nanas.

"Jadi mungkin di awal Ramadan ini kita akan coba tidak semata-mata jualan ini, tapi pasca panen juga akan kita jadikan komoditas lain seperti jus sayur, yang harganya lebih menjanjikan," ujar Faizin.

"Mudah-mudahan bisa laku di bulan Ramadan ini," katanya.

Ikhlas demi kemakmuran masjid

Sofyan menambahkan, saat ini sayuran organik dari MB Farm baru dipasarkan ke sejumlah pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar masjid, seperti penjual bakso, mie ayam, dan warung makan.

"Otomotis kita potong lebih murah. Daripada barang kita numpuk, yang penting terjual untuk menambah semangat teman-teman. Kalau barang kita numpuk di sini kan kaya kita tambah nggak semangat," aku Sofyan.

Lebih lanjut Sofyan menjelaskan, selama empat bulan terakhir biaya operasional masjid seperti air untuk wudlu, telah dapat dicukupi dari hasil penjualan sayur.

Namun, bagi para petani, keuntungan dari penjualan sayur baru bisa untuk "jajan", belum untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kendati begitu, Sofyan mengaku ikhlas menjalani aktivitasnya di kebun hidroponik, demi "kemakmuran masjid".

"Kalau buat kemakmuran teman-teman belum maksimal banget sih."

"Mungkin kita dari rupiah nggak terima, Insya Allah Tuhan yang balas kerja keras kita di MB Farm ini," cetusnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sambil Tertawa, Jeff Smith: Ganja Tak Layak Dikategorikan Narkotika!

Sambil Tertawa, Jeff Smith: Ganja Tak Layak Dikategorikan Narkotika!

Bogor | Selasa, 20 April 2021 | 02:34 WIB

Heboh! Jeff Smith: Ganja Tak layak Dikategorikan Narkotika

Heboh! Jeff Smith: Ganja Tak layak Dikategorikan Narkotika

Banten | Senin, 19 April 2021 | 16:42 WIB

Nekat Balapan Liar Jelang Sahur, 40 Pemuda di Jakbar Diciduk Polisi

Nekat Balapan Liar Jelang Sahur, 40 Pemuda di Jakbar Diciduk Polisi

News | Senin, 19 April 2021 | 13:26 WIB

Pasca Kebakaran Taman Sari, Pemukiman Warga Gelap Gulita dan Sahur Seadanya

Pasca Kebakaran Taman Sari, Pemukiman Warga Gelap Gulita dan Sahur Seadanya

Jakarta | Senin, 19 April 2021 | 03:20 WIB

Saksi Mata Kebakaran Hebat di Taman Sari Jakbar: Warga Kalut dan Pingsan

Saksi Mata Kebakaran Hebat di Taman Sari Jakbar: Warga Kalut dan Pingsan

Jakarta | Senin, 19 April 2021 | 03:10 WIB

23 Kendaraan Damkar Jakbar Dikerahkan Atasi Kebakaran Taman Sari

23 Kendaraan Damkar Jakbar Dikerahkan Atasi Kebakaran Taman Sari

Jakarta | Minggu, 18 April 2021 | 21:58 WIB

Jeff Smith Ditangkap Narkoba, Ibunda Minta Maaf

Jeff Smith Ditangkap Narkoba, Ibunda Minta Maaf

Video | Jum'at, 16 April 2021 | 19:15 WIB

Terkini

TB Hasanuddin Sentil Menhan dan Menlu Jarang Rapat di Komisi I: Kami Merasa Tertutup untuk Diskusi!

TB Hasanuddin Sentil Menhan dan Menlu Jarang Rapat di Komisi I: Kami Merasa Tertutup untuk Diskusi!

News | Sabtu, 18 April 2026 | 21:06 WIB

Megawati Kritik Lemhannas: Jangan Dipersempit Hanya Jadi Lembaga Pencetak Sertifikat

Megawati Kritik Lemhannas: Jangan Dipersempit Hanya Jadi Lembaga Pencetak Sertifikat

News | Sabtu, 18 April 2026 | 20:53 WIB

Aktivis KontraS Disiram Air Keras, TB Hasanuddin: Momentum Revisi UU Peradilan Militer

Aktivis KontraS Disiram Air Keras, TB Hasanuddin: Momentum Revisi UU Peradilan Militer

News | Sabtu, 18 April 2026 | 20:25 WIB

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi di Papua Imbas 12 Warga Sipil Meninggal

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi di Papua Imbas 12 Warga Sipil Meninggal

News | Sabtu, 18 April 2026 | 20:19 WIB

Warga Lebanon Pulang di Tengah Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Israel Masih Terjadi

Warga Lebanon Pulang di Tengah Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Israel Masih Terjadi

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:49 WIB

Geram! JK Ungkit Jasa Bawa Jokowi dari Solo ke Jakarta: Kasih Tahu Semua Sama Termul-termul Itu

Geram! JK Ungkit Jasa Bawa Jokowi dari Solo ke Jakarta: Kasih Tahu Semua Sama Termul-termul Itu

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:45 WIB

Minta Jokowi Perlihatkan Ijazah, JK: Saya Tidak Melawan, Saya Senior yang Menasihati

Minta Jokowi Perlihatkan Ijazah, JK: Saya Tidak Melawan, Saya Senior yang Menasihati

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:32 WIB

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:30 WIB

Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman

Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:22 WIB

Dipolisikan Kasus Penistaan Agama, JK Larang Umat Islam Demo Bela Dirinya: Jangan!

Dipolisikan Kasus Penistaan Agama, JK Larang Umat Islam Demo Bela Dirinya: Jangan!

News | Sabtu, 18 April 2026 | 19:17 WIB