Suara.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim mengungkapkan berbagai persoalan yang dihadapi pelajar dan mahasiswa saat pembelajaran jarak jauh atau sekolah online selama pandemi Covid-19.
Nadiem menilai kebijakan pembelajaran jarak jauh tidak maksimal karena berbagai keterbatasan seperti kendala jaringan internet, hingga fasilitas gawai yang tidak merata.
"Jadi ada berbagai macam faktor yang membuat PJJ ini tidak optimal bagi banyak bagian dari masyarakat kita, apalagi bagi daerah terluar dan tertinggal dimana infrastruktur teknologi kurang memadai," kata Nadiem dalam diskusi Hardiknas bersama PDIP, Rabu (5/5/2021).
Kondisi seperti ini, lanjut Nadiem, tidak bisa dibiarkan begitu saja karena telah menimbulkan ketertinggalan pelajaran hingga permasalahan domestik rumah tangga.
"Mereka juga banyak yang kesepian dan mengalami depresi karena tidak ketemu dengan teman-teman, dengan guru, ada juga berbagai macam permasalahan domestik, dan juga mengalami berbagai laporan kekerasan domestik yang terjadi di berbagai macam rumah tangga," ungkapnya.
Menurut Nadiem, hingga saat ini baru 25 persen sekolah yang sudah memulai lagi pembelajaran tatap muka, angka ini sangat kecil sebab pemerintah pusat sudah memberikan wewenang ke daerah untuk membuka sekolah tatap muka dengan protokol kesehatan ketat sejak Januari 2021 lalu.
"Sebenarnya 25 persen dari sekolah kita sudah melakukan tatap muka dan angka itu harus bergeser, tatap muka terbatas ya, prokes terhadap pembelajaran tatap muka itu sangat ketat," tuturnya.
Mantan Bos Gojek itu berharap vaksinasi Covid-19 terhadap guru dan tenaga pendidik bisa berjalan sesuai dengan target, sehingga pada Juli 2021, seluruh sekolah di Indonesia bisa buka kembali dengan prokes ketat.
Meski begitu, Nadiem menjelaskan dalam Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang sekolah di masa pandemi disebutkan bahwa keputusan terakhir buka sekolah diserahkan penuh kepada orang tua atau wali murid.
Dalam SKB tersebut mewajibkan sekolah tetap memberikan dua opsi yakni pembelajaran tatap muka (offline) atau jarak jauh (online) sesuai dengan izin orang tua atau wali murid.