Aktivisme Borjuis: Kenapa Kelas Menengah Gagal Pertahanankan Demokrasi?

Reza Gunadha

Sabtu, 12 Juni 2021 | 15:03 WIB
Aktivisme Borjuis: Kenapa Kelas Menengah Gagal Pertahanankan Demokrasi?
ILUSTRASI - Pengunjuk rasa yang menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja terlibat bentrok dengan polisi di kawasan Harmoni, Jakarta, Kamis (8/10/2020). Demonstrasi tersebut berakhir ricuh. [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso]

Kelas menengah reformis lebih berkepentingan mendorong perubahan-perubahan institusional dan melakukan perlawanan-perlawanan yang sporadis. Tidak seperti yang dibayangkan kalangan liberal pluralis, dominannya bentuk aktivisme borjuis itu membuat elemen-elemen gerakan sosial di Indonesia kurang bisa menghadirkan tantangan dan ancaman yang berarti kepada kepentingan-kepentingan yang berupaya membalik agenda demokratisasi. Tanpa kekuatan politik progresif yang koheren, tidak akan ada perlindungan hak sosial, ekonomi dan politik yang menyeluruh kepada warga, yang adalah aspek-aspek esensial demokrasi.

Demokrasi Pasca 1998

Bagaimana dengan kehadiran demokrasi pasca 1998? Apakah ia semata hasil desakan dari bawah, terutama yang berasal dari elemen gerakan mahasiswa? Beberapa studi – terutama dari perspektif liberal pluralis – dan tentu saja para eksponen aktivis 1998 cenderung mengglorifikasi peran gerakan mahasiswa dalam menjatuhkan rezim otoriter Soeharto yang membuka jalan bagi lahirnya demokrasi.

Padahal, terdapat sejumlah kondisi struktural yang memungkinkan terjadinya pergantian rezim. Pertama, krisis moneter telah membuka jalan adanya tekanan dari International Monetary Fund (IMF) – representasi kapitalisme neoliberal – yang tidak lagi menghendaki kekuasaan politik yang sentralistik dan terlampau interventif dalam mengatur ekonomi. Kedua, menguatnya friksi elemen pendukung rezim, terutama dari kalangan militer.

Dua faktor itu menegaskan bahwa kepentingan kapital turut berkontribusi menghadirkan institusi demokrasi di Indonesia. Di samping itu, tanpa difasilitasi faksi militer yang berseberangan dengan penguasa, hampir mustahil elemen gerakan mahasiswa 1998 dapat menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR).

Sebelumnya, aliansi serupa antara mahasiswa dan militer di tahun 1966 juga telah mengantarkan terjadinya pergantian rezim. Akan tetapi, alih-alih dapat mengawal perubahan, mahasiswa angkatan 1966 justru telah membuka jalan bagi konsolidasi militer di bawah kekuasaan Soeharto yang otoriter.

Fakta sejarah ini meruntuhkan pandangan yang melebih-lebihkan peran mahasiswa dan pemuda secara umum sebagai agen perubahan. Pada kenyataannya, kehadiran institusi demokrasi di Indonesia sangat terbatas, yakni sejauh ia tidak menghambat kepentingan kapital. Ini menunjukkan lemahnya gerakan mahasiswa dan elemen gerakan sosial lainnya dalam mendorong demokrasi untuk lebih jauh mewujudkan perlindungan hak sosial, ekonomi dan politik yang menyeluruh kepada warga.

Lebih jauh, gerakan mahasiswa sebagai aktor dominan dalam sejarah perubahan sosial di Indonesia pasca 1965 juga mesti dipahami dalam kaitannya dengan absennya politik kelas yang lebih berorientasi mendorong perubahan struktural.

Aktivisme Borjuis

baca juga

Dominannya bentuk aktivisme borjuis bukan kasus unik di Indonesia. Tulisan-tulisan Kevin Hewison dan Garry Rodan, ilmuwan sosial yang menekuni studi tentang gerakan sosial di Asia, telah menunjukkan bahwa kecenderungan yang sama dapat ditemui di beberapa tempat seperti di negara-negara Asia Tenggara yang lahir dari kondisi struktural serupa: (1) corak kapitalisme yang menempatkan penguasaan atas akses dan kontrol institusi publik sebagai elemen pokok; serta (2) relatif absennya politik kelas warisan Perang Dingin.

Tidak adanya pengorganisasian berbasis kelas dalam arena politik ini yang kemudian melahirkan model aktivisme borjuis, terutama dalam bentuk organisasi-organisasi masyarakat sipil yang dikenal sebagai non-government organization (NGO), lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau civil society organization (CSO). Konsep “masyarakat sipil” menggantikan organisasi kelas yang sekaligus melunakkan tuntutan revolusi menjadi reformasi.

Kelas menengah reformis lebih berkepentingan mengadvokasi isu-isu hak asasi manusia, pemerintahan yang baik, pluralisme, anti-korupsi, keadilan lingkungan, serta isu-isu sektoral lainnya dengan mendorong reformasi institusi serta membuat suatu desain kebijakan yang dianggap dapat menopang penguatan demokrasi ketimbang berkeinginan mengubah secara radikal tatanan ekonomi politik dan struktur kekuasaan. Mereka juga cenderung tidak memiliki strategi jangka panjang dalam memajukan agenda demokratisasi.

Strategi Politik yang Sporadis

Nihilnya strategi jangka panjang membuat kelas menengah reformis sangat terfragmentasi sebagai kekuatan politik. Strategi politik yang dijalankan juga cenderung elitis, sporadis, dan reaksioner.

Kelas menengah reformis menggunakan lobi-lobi – terutama saat telah bekerja di lembaga donor – atau memasuki gelanggang politik formal untuk mempengaruhi kebijakan publik meski tanpa ditopang kekuatan politik progresif yang kuat. Karena tidak memiliki kendaraan politik formal, saat pemilihan umum, elemen aktivisme borjuis kerap berharap perubahan dapat dilakukan oleh seorang politisi yang dianggap reformis. Akan tetapi, alih-alih dapat mendorong perubahan dan memajukan agenda demokratisasi, mereka yang memasuki gelanggang politik formal serta politisi reformis itu menduplikasi praktik-praktik predatorisme.

Strategi lainnya dalam memperkuat demokrasi dilakukan melalui perlawanan-perlawanan yang sporadis dan reaksioner. Bentuk perlawanan umumnya berupa aksi demonstrasi di jalanan, kampanye media, pernyataan sikap serta petisi dan tagar yang cenderung tidak memberi ancaman berarti kepada kekuatan anti-demokrasi dan karena itu mudah diabaikan.

Antara satu aksi perlawanan dengan aksi lainnya seringkali juga tidak berkait meski dilakukan oleh aktor gerakan yang sama. Tidak ada upaya mengorganisasikan berbagai elemen perlawanan itu sebagai satu kekuatan politik di bawah satu komando dengan agenda dan strategi jangka panjang. Aksi-aksi demonstrasi besar sejak #ReformasiDikorupsi tahun 2019, misalnya, cenderung cair dan tidak memiliki pemimpin. Cara ini menurut mereka untuk mencegah kooptasi gerakan oleh elite. Padahal, tanpa kepemimpinan politik, gerakan perlawanan berisiko menjadi sekadar kerumunan.

Sementara itu, beberapa elemen gerakan sosial yang mendorong adanya kepemimpinan politik memang telah membangun partai politik alternatif. Tapi sebagian besar partai ini tak punya basis sosial dan kapital yang kuat dan kurang terhubung dengan elemen gerakan sosial lainnya, yang pada akhirnya juga terjebak dalam gaya politik kelas menengah atau model partai pada umumnya. Berbagai eksperimen pembangunan partai alternatif cenderung menghadapi jalan buntu, membuat mereka hanya dikenal di lingkungan yang amat terbatas.

Namun demikian, alih-alih berefleksi, elemen-elemen gerakan sosial cenderung menilai minimnya capaian tuntutan dan target gerakan sebagai semata soal waktu. Bagi mereka, kemenangan-kemenangan kecil dapat menjadi tangga menuju kemenangan yang lebih besar. Tapi kelas menengah reformis tidak pernah punya ukuran yang jelas, kapan dan dengan cara apa pertarungan melawan kekuatan anti-demokrasi dapat dimenangkan.

Mereka kerap menyalahkan penguasa dan negara yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan rakyat, tapi secara kontradiktif tuntutan-tuntutan yang diajukan seringkali dibuat dengan mengharapkan budi baik dan belas kasihan penguasa. Padahal, secara natural negara jelas cenderung memfasilitasi kepentingan kelompok dominan. Tidak adanya kekuatan politik progresif yang mampu memberikan tekanan signifikan membuat negara dan institusi-institusi publik tidak bekerja untuk melayani kepentingan rakyat. Bentuk aktivisme borjuis juga kerap bersikukuh menempuh berbagai upaya litigasi dalam melakukan perlawanan, meski jelas berbagai instrumen hukum dan demokrasi telah dibajak.

Secara historis, kekuatan pengancam yang signifikan dalam masyarakat kapitalis terletak pada buruh yang berserikat. Posisi sosial buruh yang esensial dalam sirkulasi kapital memungkinkan mereka dapat memberikan ancaman yang serius ketika melakukan pemogokan dan sabotase. Negara-negara kesejahteraan di Eropa Barat dan Amerika Utara yang memberikan perlindungan sosial-ekonomi yang relatif menyeluruh kepada warganya, meski dengan derajat yang berbeda, adalah hasil perjuangan politik serikat-serikat buruh yang kuat. Adanya supremasi hukum dan demokrasi yang melindungi hak warga di negara-negara itu juga hasil dari perjuangan buruh.

Tapi di era neoliberal, jumlah buruh formal – mereka yang paling potensial membangun serikat – di berbagai tempat termasuk di Indonesia semakin mengecil. Jauh sebelum itu, pengalaman kekerasan negara tahun 1965 kepada kelompok yang terafiliasi dengan komunis telah menciptakan trauma sejarah berkepanjangan yang mencegah terbentuknya serikat-serikat buruh yang progresif. Sebagian besar serikat buruh yang terbentuk pasca Orde Baru cenderung konservatif dan sekadar menjadi kepanjangan tangan negara, sementara yang lain terjebak dalam politik identitas. Serikat yang lebih progresif jumlahnya terlampau kecil untuk bisa membangun pengorganisasian yang kuat sementara yang lainnya amat bergantung pada mobilisasi oleh NGO.

Situasi ini yang membuat gerakan sosial di Indonesia didominasi oleh bentuk-bentuk aktivisme borjuis. Ini juga sesuai dengan anjuran apolitis dari para teknokrat lembaga-lembaga donor yang mendorong penguatan “masyarakat sipil” – bukan gerakan buruh yang progresif – sebagai tulang punggung demokrasi. Akibatnya, demokrasi di Indonesia tidak pernah benar-benar kuat memberi perlindungan hak-hak sosial-ekonomi warga secara menyeluruh.

Menguatnya Tendensi Otoriter

Menguatnya tendensi otoriter pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, dengan demikian, adalah indikator lemahnya bentuk-bentuk aktivisme borjuis dalam mempertahankan demokrasi. Meskipun mahasiswa bersama organisasi masyarakat sipil lainnya berhasil mengorganisasikan rangkaian demonstrasi di berbagai tempat, terutama sejak demonstrasi bertajuk #ReformasiDikorupsi, gerakan ini mudah dipatahkan. Tidak satu pun tuntutan dasar mereka berhasil dicapai meski paling tidak lima mahasiswa telah mati, ratusan lainnya luka-luka serta puluhan demonstran ditangkap dan ditahan hingga kini.

Tidak adanya strategi politik jangka panjang membuat kelas menengah reformis hanya mampu melakukan perlawanan-perlawanan yang sporadis atau bergantung pada suatu desain kebijakan dan lembaga tertentu serta pada aktor politik yang dianggap reformis. Terserapnya banyak aktivis dan akademisi ke dalam kekuasaan yang juga turut mereproduksi politik identitas dan predatorisme adalah konsekuensi lebih jauh dari pendekatan gerakan berwatak kelas menengah itu. Konteks ini menjelaskan mengapa pelemahan KPK dan rangkaian kebijakan bertendensi otoriter lainnya makin intensif terjadi dalam beberapa tahun belakangan.


Abdil Mughis Mudhoffir adalah seorang dosen Sosiologi di Universitas Negeri Jakarta dan honorary fellow di Asia Institute, University of Melbourne.

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hidup Orang Rimba Kala Covid-19: Terhindar dari Wabah Tapi Kelaparan dalam Hutan

Hidup Orang Rimba Kala Covid-19: Terhindar dari Wabah Tapi Kelaparan dalam Hutan

News | Jum'at, 28 Mei 2021 | 21:26 WIB

Menempuh Jalan Pikukuh, Cara Warga Adat Baduy Bebas dari Covid-19

Menempuh Jalan Pikukuh, Cara Warga Adat Baduy Bebas dari Covid-19

News | Jum'at, 21 Mei 2021 | 20:57 WIB

Tim Advokasi Sebut 390 Warga Alami Kekerasan Polisi di Aksi September 2019

Tim Advokasi Sebut 390 Warga Alami Kekerasan Polisi di Aksi September 2019

News | Selasa, 10 Maret 2020 | 17:17 WIB

Kibarkan Spanduk Raksasa, Detik-detik Aksi Greenpeace di Patung Bundaran HI

Kibarkan Spanduk Raksasa, Detik-detik Aksi Greenpeace di Patung Bundaran HI

News | Rabu, 23 Oktober 2019 | 11:29 WIB

Tuntutan Belum Direspons Presiden, Mahasiswa Kembali Bergerak Besok

Tuntutan Belum Direspons Presiden, Mahasiswa Kembali Bergerak Besok

Jatim | Rabu, 09 Oktober 2019 | 11:31 WIB

Pengakuan Mahasiswa yang Ditangkap: Minta Minum Ditampar, Kencing Ditendang

Pengakuan Mahasiswa yang Ditangkap: Minta Minum Ditampar, Kencing Ditendang

News | Sabtu, 05 Oktober 2019 | 14:21 WIB

Desakan Perppu KPK, Moeldoko: Bukan Cuma Mahasiswa yang Didengar Presiden

Desakan Perppu KPK, Moeldoko: Bukan Cuma Mahasiswa yang Didengar Presiden

News | Jum'at, 04 Oktober 2019 | 17:16 WIB

Terkini

Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi

Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:20 WIB

Kemenkes Soroti Lemahnya Sistem Perlindungan Nakes usai Dugaan Intimidasi dr. Icha

Kemenkes Soroti Lemahnya Sistem Perlindungan Nakes usai Dugaan Intimidasi dr. Icha

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:12 WIB

Tarif Transjakarta Diusul Rp 5.000, Transjabodetabek Rp 10.000

Tarif Transjakarta Diusul Rp 5.000, Transjabodetabek Rp 10.000

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:10 WIB

Bukan yang Pertama! Polisi Duga Ada Korban Penyekapan Lain di Percetakan Senen

Bukan yang Pertama! Polisi Duga Ada Korban Penyekapan Lain di Percetakan Senen

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:56 WIB

Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!

Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:41 WIB

Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan

Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:40 WIB

Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR

Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:32 WIB

Menhut Raja Juli Soal Pertemuan dengan Bupati Kuansing: Amplop Dikembalikan, Tak Ada Pelepasan Hutan

Menhut Raja Juli Soal Pertemuan dengan Bupati Kuansing: Amplop Dikembalikan, Tak Ada Pelepasan Hutan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:30 WIB

Ibu Hamil Tewas Tertembak di Papua, DPR Minta Diusut Transparan

Ibu Hamil Tewas Tertembak di Papua, DPR Minta Diusut Transparan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:24 WIB

Said Didu Blak-blakan: Sebut Safari Politik Jokowi Disokong Oligarki hingga Para Koruptor

Said Didu Blak-blakan: Sebut Safari Politik Jokowi Disokong Oligarki hingga Para Koruptor

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:19 WIB

×