Wabah Covid-19, AS Dicurigai Mendanai Penelitian Virus Berbahaya di Wuhan

Reza Gunadha, BBC

Sabtu, 24 Juli 2021 | 12:27 WIB
Wabah Covid-19, AS Dicurigai Mendanai Penelitian Virus Berbahaya di Wuhan
Wuhan Institute of Virology [BBC]

Suara.com - Asal-usul covid-19 hingga kekinian belum diketahui, tapi polemik mengenai hal tersebut berpusar pada laboratorium di Wuhan, China.

Wuhan adalah wilayah pertama di dunia yang diterpa wabah corona pada akhir tahun 2019. 

Termutakhir, polemik baru yang muncul adalah Amerika Serikat mendanai penelitian virus berbahaya di China.

Desas-desus itu merujuk pada penelitian virus dari kelelawar di Institut Virologi Wuhan.

Senator Partai Republik, Rand Paul, menuduh uang pemerintah AS mendanai penelitian di lembaga itu.

Paul menuding, riset tersebut akhirnya membuat beberapa virus (bukan virus corona) lebih menular dan lebih mematikan. Proses itu dikenal sebagai gain-of-function atau mutasi yang meningkatkan fungsi virus.

Namun tuduhan Paul itu sudah dibantah dengan tegas oleh Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Anthony Fauci.

Apa yang dimaksud riset'gain-of-function'?

"Gain-of-function" merupakan proses saat suatu organisme mengembangkan kemampuan baru (atau fungsi).

baca juga

Proses ini dapat terjadi di alam, tapi juga bisa di laboratorium, saat para ilmuwan memodifikasi kode genetik atau menempatkan organisme di lingkungan yang berbeda. Ini dilakukan untuk mengubah genetik dengan cara tertentu.

Salah satu contoh riset ini adalah saat para ilmuwan mencoba membuat tanaman tahan kekeringan.

Contoh lainnya adalah penelitian untuk memodifikasi agen penular penyakit pada nyamuk agar peluangnya menularkan infeksi lebih kecil.

Sementara jika riset itu dilakukan terhadap virus yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, virus itu dapat berpotensi lebih menular dan berbahaya.

Banyak ilmuwan menjustifikasi penelitian semacam ini dengan berkata bahwa riset ini dapat mempersiapkan penanganan wabah dan pandemi pada masa depan.

Melalui riset ini, menurut mereka, ilmuwan dapat memahami bagaimana virus berevolusi. Oleh karenanya, mereka bisa mengembangkan prosedur perawatan dan vaksin yang mumpuni.

Apakah AS mendanai penelitian virus di China?

Ya, AS memang menyumbangkan sejumlah dana.

Fauci, selain sebagai penasihat untuk Presiden Joe Biden, adalah direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS (NIAID).

Lembaga itu merupakan bagian dari Institut Kesehatan Nasional AS (NIH).

Institut Kesehatan Nasional AS memang memberikan sejumlah dana untuk EcoHealth Alliance, sebuah organisasi yang bekerja sama dengan Institut Virologi Wuhan.

EcoHealth Alliance yang berbasis di AS pada tahun 2014 mendapatkan dana untuk melihat potensi munculnya virus corona dari kelelawar.

EcoHealth menerima US$3,7 juta (Rp53,6 miliar) dari NIH. Setidaknya US$600.000 di antaranya atau sekitar Rp8,6 miliar mereka berikan kepada Institut Virologi Wuhan.

Pada 2019, proyek tersebut diperbarui hingga 2024, tapi kemudian dibatalkan pada April 2020 karena pandemi Covid-19.

Apakah uang AS digunakan untuk riset peningkatan fungsi virus?

Pada bulan Mei lalu, Fauci menyatakan bahwa Institut Kesehatan Nasional AS tidak pernah mendanai penelitian fungsi virus di Institut Virologi Wuhan.

Pekan ini, senator Rand Paul bertanya kepada Fauci, apakah dia berencana meralat pernyataan tersebut. "Seperti yang Anda ketahui, berbohong kepada Kongres adalah kejahatan," ujarnya kepada Fauci.

Senator Paul yakin penelitian tersebut memenuhi beberapa kriteria penelitian penambahan fungsi virus.

Dia merujuk dua makalah akademis yang disusun Institut Virologi Wuhan. Salah satu makalah itu dibuat tahun 2015 bersama peneliti dari University of North Carolina dan satu lagi dikerjakan tahun 2017.

Salah satu ilmuwan terkemuka mendukung pernyataan Paul. Dia adalah Profesor Richard Ebright dari Rutgers University.

Kepada BBC, dia berkata bahwa penelitian dalam dua makalah menunjukkan bahwa virus baru (yang belum ada secara alami) diciptakan.

Penelitian itu disebutnya berisiko menciptakan patogen potensial baru yang lebih menular.

"Penelitian dalam kedua makalah tersebut merupakan penelitian 'gain-of-function'," ujarnya.

Ebright berkata, keduanya memenuhi definisi resmi dari penelitian tahun 2014, saat pemerintah AS menghentikan pendanaan untuk riset serupa karena masalah keamanan hayati.

Pendanaan dihentikan sampai kerangka kerja baru selesai disusun untuk penelitian semacam itu.

Mengapa Fauci menolak tuduhan ini?

Fauci bertestimoni kepada Senat bahwa penelitian itu "telah dievaluasi beberapa kali oleh orang-orang yang memenuhi syarat agar mutasi yang meningkatkan fungsi virus tidak terjadi".

Fauci juga berkata, "secara molekuler tidak mungkin" virus-virus ini menghasilkan virus corona, meskipun dia tidak menjelaskan argumentasinya secara lebih lanjut.

Institut Kesehatan Nasional AS dan EcoHealth Alliance juga telah menolak tuduhan bahwa mendukung atau mendanai penelitian "peningkatan fungsi virus" di China.

Dua badan itu menyatakan, mereka mendanai sebuah proyek untuk memeriksa "pada tingkat molekuler" terkait virus kelelawar yang baru ditemukan dan protein lonjakannya yang membantu virus mengikat sel hidup.

Riset itu, menurut klaim mereka, dilakukan "tanpa mempengaruhi lingkungan atau perkembangan atau keadaan fisiologis organisme".

Salah satu ilmuwan AS yang berkolaborasi dengan institut Virologi Wuhan dalam penelitian virus kelelawar tahun 2015 adalah Ralph Baric dari University of North Carolina.

Dia mengungkapkan sejumlah penjelasan kepada surat kabar Washington Post.

Baric berkata, pekerjaan yang mereka lakukan ditinjau Institut Kesehatan Nasional AS dan komite keamanan hayati universitasnya.

Peninjauan itu, menurutnya, dilakukan untuk melihat potensi kemungkinan penelitian yang meningkatkan fungsi virus dan bukan riset yang jelas-jelas mengubah virus.

Baric berkata, tidak ada virus yang diteliti dalam studi terkait Sars-Cov-2 pada tahun 2015.

Sars-Cov-2 adalah penyebab pandemi Covid-19.

Baric mengakui, penelitian mereka menunjukkan bahwa virus memiliki "sifat intrinsik" yang memberi mereka kemampuan untuk menginfeksi manusia.

Namun, kata Baric, "Kami tidak pernah memasukkan mutasi ke lonjakan virus untuk meningkatkan pertumbuhan mereka dalam sel manusia."

Peneliti dan ahli biologi AS di Broad Institute of MIT dan Harvard, Alina Chan, menyoroti alasan pemerintahannya untuk menghentikan sementara pendanaan riset tersebut pada tahun 2014.

Pemerintah AS kala itu menyebut bahwa mereka menghentikan pendanaan untuk riset yang mungkin memberikan atribut pada virus influenza, MERS, atau SARS sehingga virus itu dapat mengembangkan patogenisitas dan/atau kemampuan menulari mamalia melalui pernapasan.

Pernyataan itu dapat menyiratkan bahwa penelitian tentang virus mungkin tidak bermaksud untuk menghasilkan "keuntungan fungsi", walau riset itu bisa menyebabkan hal tersebut.

Poin yang lebih umum adalah bahwa setiap evaluasi penelitian dan risiko yang terlibat dapat bersifat subjektif.

"Tidak selalu ada konsensus pada penelitian keuntungan fungsi virus, bahkan di antara para ahli, dan lembaga untuk menafsirkan dan menerapkan kebijakan secara berbeda," kata Rebecca Moritz dari Colorado State University kepada BBC.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Percepat Vaksinasi, BIN Kepri Akan Gelar Program Vaksin Covid-19 ke Rumah Warga

Percepat Vaksinasi, BIN Kepri Akan Gelar Program Vaksin Covid-19 ke Rumah Warga

Batam | Sabtu, 24 Juli 2021 | 12:16 WIB

Gara-gara Kabar Hoaks, Vaksinasi di Pizza Hut Bandar Lampung Timbulkan Kerumunan

Gara-gara Kabar Hoaks, Vaksinasi di Pizza Hut Bandar Lampung Timbulkan Kerumunan

Lampung | Sabtu, 24 Juli 2021 | 12:15 WIB

Epidemiolog Masdalina Pane: Terpenting Aturannya, Jangan Melulu Salahkan Masyarakat

Epidemiolog Masdalina Pane: Terpenting Aturannya, Jangan Melulu Salahkan Masyarakat

wawancara | Sabtu, 24 Juli 2021 | 11:55 WIB

4 Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh di Masa Pandemi Covid-19

4 Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh di Masa Pandemi Covid-19

Health | Sabtu, 24 Juli 2021 | 11:42 WIB

Pasien COVID-19 yang Sedang Isoman bisa Beli Tabung Oksigen di Apotek, Ini Syaratnya

Pasien COVID-19 yang Sedang Isoman bisa Beli Tabung Oksigen di Apotek, Ini Syaratnya

Lampung | Sabtu, 24 Juli 2021 | 11:27 WIB

Rizieq Shihab Dikabarkan Lumpuh di Penjara, Berikut Faktanya

Rizieq Shihab Dikabarkan Lumpuh di Penjara, Berikut Faktanya

Sumsel | Sabtu, 24 Juli 2021 | 11:24 WIB

Ramai Isu Vaksin Palsu, Warga Ramai-ramai Ingin Dokumentasikan Proses Vaksinasi

Ramai Isu Vaksin Palsu, Warga Ramai-ramai Ingin Dokumentasikan Proses Vaksinasi

Batam | Sabtu, 24 Juli 2021 | 10:30 WIB

Dosis Penuh Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Lawan Varian Delta COVID-19

Dosis Penuh Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Lawan Varian Delta COVID-19

Health | Sabtu, 24 Juli 2021 | 10:45 WIB

Terkini

Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan

Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Industri F&B RI Terus Naik, Tapi UMKM Masih Minim Adopsi ke Digital

Industri F&B RI Terus Naik, Tapi UMKM Masih Minim Adopsi ke Digital

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:58 WIB

6 Trik Meningkatkan Kecerdasan Emosional agar Lebih Tenang Menghadapi Tekanan Hidup

6 Trik Meningkatkan Kecerdasan Emosional agar Lebih Tenang Menghadapi Tekanan Hidup

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:57 WIB

Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar

Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:56 WIB

5 Sabun Cuci Muka dengan Ekstrak Semangka, Ampuh Cerahkan Wajah Kusam

5 Sabun Cuci Muka dengan Ekstrak Semangka, Ampuh Cerahkan Wajah Kusam

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:55 WIB

Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam

Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam

Kaltim | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:52 WIB

Bawa Enam Tuntutan, FPR dan ILPS Akan Gelar Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Bawa Enam Tuntutan, FPR dan ILPS Akan Gelar Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Bantai Landak Jawa Pakai Senapan Modifikasi, Dua Pemburu Liar Diciduk di Hutan Malang

Bantai Landak Jawa Pakai Senapan Modifikasi, Dua Pemburu Liar Diciduk di Hutan Malang

Malang | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:35 WIB

Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak

Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:35 WIB

Wajah Baru Bandar Lampung: Proyek Jalan Beton dan Trotoar Megah Dikebut!

Wajah Baru Bandar Lampung: Proyek Jalan Beton dan Trotoar Megah Dikebut!

Lampung | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:30 WIB

×