Banyak Rakyat Papua Tak Mau Divaksinasi karena Trauma Keterlibatan Militer

Reza Gunadha | ABC | Suara.com

Jum'at, 30 Juli 2021 | 13:31 WIB
Banyak Rakyat Papua Tak Mau Divaksinasi karena Trauma Keterlibatan Militer
ILUSTRASI - Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Suara.com - Tingkat vaksinasi covid-19 di tanah Papua tergolong rendah, di tengah malapetaka wabah sejak tahun 2020. Tapi penyebabnya bukan hanya peredaran informasi salah atau hoaks soal vaksin, tapi militerisme.

Meski tingkat vaksinasi rendah, Papua tetap dijadikan tuan rumah Pekan Olahraga Nasional, Oktober mendatang. 

Menurut data Kementerian Kesehatan RI hingga Jumat hari ini (30/7/2021), baru 6,35 persen atau sekitar 160 ribu warga Papua yang sudah menerima dua dosis vaksin dari target lebih dari 2,5 juta orang.

Sementara mereka yang baru menerima dosis pertama tercatat sebanyak 13,8 persen atau sekitar 354.000 orang. 

Ambrosius Mulait, salah satu aktivis Papua mengatakan selain maraknya hoaks yang beredar soal vaksinasi, sebagian warga Papua khawatir mendatangi tempat vaksinasi yang melibatkan aparat TNI/ Polri.

"Lebih pada [karena] trauma," kata Ambros, panggilan akrabnya.

"Yang mereka takutkan itu akibat dari banyaknya operasi [keamanan] di Papua, sehingga apa pun program yang dilakukan Pemerintah Indonesia, itu menjadi sangat sensitif untuk orang asli Papua."

"Apalagi sebelumnya itu ada orang sehat yang masuk ke rumah sakit, keluarnya mayat," tutur Ambros.

Ambros merujuk pada laporan kematian tiga orang kakak beradik di tangan aparat keamanan pada Februari 2021, menurut kelompok hak asasi dan saksi mata.

Saat itu Janius Bagau, korban luka tembak dari Amaesiga, dibawa ke sebuah klinik di Intan Jaya oleh saudara kandungnya, Soni Bagau dan Justinus Bagau.

Mereka diduga telah diperiksa, diinterogasi lalu dipukul di dalam Puskesmas Bilogai, hingga ketiganya dinyatakan meninggal dunia. 

Dalam pernyataan kepada kantor berita Reuters, juru bicara TNI Komando Wilayah Papua, Kolonel Gusti Nyoman Suriastawa mengatakan "ketiganya berusaha kabur, menyerang dan berusaha merebut senjata dari tim Gabungan TNI-Polri yang menjaga Puskesmas."

Tapi Rut Sondegau, istri Janius mengatakan itu tidak benar, ketiganya tidak pernah berupaya untuk kabur dan mereka tak tahu keberadaan senjata.

'Cara Pemerintah membunuh kita'

Ambros mengaku sudah mencoba meyakinkan Ibunya yang tinggal di Jayapura untuk mau divaksinasi.

Tetapi ia mengaku sulit meyakinkannya karena masalah ketidakpercayaan pada aparat."

"Saya sudah menjelaskan pentingnya vaksinasi, tapi Ibu saya bilang 'ah kamu anak kecil tau apa, ini bisa jadi salah satu cara pemerintah membunuh kita' begitu kata Ibu saya," ujar Ambros.

Ia bisa memahami kecurigaan ibunya, yang mengalami dan menyaksikan kekerasan aparat di Papua sejak tahun 1970an sampai sekarang.

Salah satu tokoh gereja di Papua, Pendeta Benny Giay, mengatakan pelibatan aparat TNI dan Polri dalam pelaksanaan program vaksinasi juga menjadi salah satu pertimbangan banyak jemaatnya untuk tidak divaksinasi.

"Ini anggapan umum dan persoalan besar."

"Kami tahu COVID ini penting dan berbahaya, tapi kami [pihak gereja] hanya bisa mempromosikan soal protokol kesehatan, 3M, hanya itu," ujar Pendeta Benny.

Ia juga menyayangkan ketidakpekaan Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu yang lalu memerintahkan Badan Intelijen Nasional (BIN) untuk mengetuk pintu-pintu rumah warga agar divaksinasi.

Dengan riwayat konflik dan kekerasan di tanah Papua selama ini, Benny menilai arahan ini tidak bijak, mengingat trauma sebagian besar warga.

"[Kebijakan] ini bukan hanya tidak sensitif, tapi saya sampai ke tahap mencurigai itu [dilakukan] secara sistematis, " ujarnya.

"Karena [Pemerintah] Indonesia secara intelek sudah tahu orang Papua akan merasa terteror tetapi memaksakan dengan polisi dan tentara, ini sendiri cara untuk membunuh orang Papua lagi."

"Kami jadi seolah tidak punya opsi lain. Kami berhadapan dengan tembok besar di masyarakat, tembok kecurigaan dan ketidakpercayaan pada pemerintah."

Trauma terhadap aparat keamanan yang turun temurun

Kekhawatiran warga Papua takut dibunuh di klinik lewat program vaksinasi menurut Amnesty Internasional Indonesia memiliki alasan yang mendasar.

"Sangat-sangat mendasar," ujar Novel Matindas, Koordinator Kampanye Amnesty International Indonesia.

“Karena trauma atas kekerasan hak asasi manusia di Papua itu jelas ada dan itu dikatakan sebagai trauma turun temurun yang bisa diwariskan dari orang tua pada anak."

“Mereka adalah korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, yang tidak diselesaikan secara benar dan adil," jelas Novel.

“Sehingga mereka masih menyimpan rasa takut dan tidak mungkin ada beberapa orang yang menyimpan rasa dendam terhadap apparat keamanan yang melakukan pelanggaran HAM.”

Dinkes Papua: 'Tidak ada masalah'

Dokter Aaron Rumainum, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua menilai tidak ada masalah dengan pelaksanaan vaksinasi di Papua.

"Aparat membantu percepatan. Tidak ada masalah."

"Yang kerjakan kan puskesmas, bukan aparat. Kami juga waktu vaksinasi tidak melibatkan aparat," kata dr Aaron melalui layanan pesan kepada ABC Indonesia.

Ia menambahkan ada masyarakat yang suka disuntik aparat dan ada juga yang tidak.

"Bebas-bebas saja, to. Jangan-jangan [soal keterlibatan aparat] ini [hanya] alasan orang yang anti-vaksin," ujar dr Aaron, yang jadi orang pertama di Provinsi Papua yang disuntik vaksin COVID-19.

Sementara itu, untuk mengatasi tingkat vaksinasi yang rendah karena kecurigaan dan ketidakpercayaan pada aparat, banyak warga di Papua, seperti Ambros dan Pendeta Benny, menyarankan agar program vaksinasi diserahkan kepada organisasi yang independen seperti PBB, Palang Merah Internasional, atau lembaga seperti Amnesty Internasional.

Novel mengatakan Amnesty Internasional Indonesia tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan medis karena bukan lembaga kesehatan. 

Tapi dirinya juga setuju jika Pemerintah Indonesia merangkul lembaga independen dalam program vaksinasi di Papua.

“Sebaiknya lembaga independen yang dilibatkan untuk melakukan vaksinasi daripada melibatkan BIN atau TNI."

“Aparat Keamanan boleh dilibatkan kalau hanya untuk mengamankan lokasi, misalnya memastikan supply vaksin itu aman, tidak dicuri, tidak disalahgunakan, tidak dikorupsi," ujar Novel.

Total angka positif COVID-19 di Papua menurut catatan Kementerian Kesehatan sudah mencapai hampir 26 ribu dengan lebih dari 200 kematian. Penambahan kasus rata-rata harian selama sepekan terakhir mencapai lebih dari 270 orang.

Laporan tambahan oleh Erwin Renaldi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pria Difabel yang Kepalanya Diinjak Dikasih TV hingga Babi, TNI Disebut Rendahkan Korban

Pria Difabel yang Kepalanya Diinjak Dikasih TV hingga Babi, TNI Disebut Rendahkan Korban

News | Jum'at, 30 Juli 2021 | 12:50 WIB

Ramai Isu Vaksin Covid-19 Ada Microchip, Peneliti AstraZeneca Indra Rudiansyah Buka Suara

Ramai Isu Vaksin Covid-19 Ada Microchip, Peneliti AstraZeneca Indra Rudiansyah Buka Suara

Health | Sabtu, 31 Juli 2021 | 08:15 WIB

Amerika Beri 100 Dollar untuk Warga yang Mau Divaksinasi Covid-19

Amerika Beri 100 Dollar untuk Warga yang Mau Divaksinasi Covid-19

Sumut | Jum'at, 30 Juli 2021 | 11:18 WIB

Tasikmalaya Jadi Daerah Vaksinasi Terendah di Jabar, Pemkab: Pasokan Vaksin Minim

Tasikmalaya Jadi Daerah Vaksinasi Terendah di Jabar, Pemkab: Pasokan Vaksin Minim

Jabar | Jum'at, 30 Juli 2021 | 10:22 WIB

Viral Aksi Kursi Terbang saat Vaksinasi COVID-19, Istri Pergoki Suami Selingkuh

Viral Aksi Kursi Terbang saat Vaksinasi COVID-19, Istri Pergoki Suami Selingkuh

Bekaci | Jum'at, 30 Juli 2021 | 10:12 WIB

Polres Badung Bingkiskan Sembako untuk Pemotor Dilengkapi Surat Vaksinasi COVID-19

Polres Badung Bingkiskan Sembako untuk Pemotor Dilengkapi Surat Vaksinasi COVID-19

Bali | Jum'at, 30 Juli 2021 | 09:47 WIB

Dukung Program Vaksinasi, Aurel Dewanda Siap Disuntik Vaksin Covid-19

Dukung Program Vaksinasi, Aurel Dewanda Siap Disuntik Vaksin Covid-19

Lampung | Jum'at, 30 Juli 2021 | 08:32 WIB

TII: Implementasi Otsus Papua Harus Tetap Mendengarkan Aspirasi Masyarakat Papua

TII: Implementasi Otsus Papua Harus Tetap Mendengarkan Aspirasi Masyarakat Papua

News | Jum'at, 30 Juli 2021 | 00:05 WIB

Wapres Ingin Herd Immunity di Bali Segera Tercapai Untuk Pulihkan Pariwisata

Wapres Ingin Herd Immunity di Bali Segera Tercapai Untuk Pulihkan Pariwisata

News | Kamis, 29 Juli 2021 | 21:17 WIB

Terkini

Soroti Doxing dan Persekusi, Prof Ani: Rakyat Belum Bebas dari Rasa Takut

Soroti Doxing dan Persekusi, Prof Ani: Rakyat Belum Bebas dari Rasa Takut

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:51 WIB

Menkeu Mau Pajaki Kapal Selat Malaka, TB Hasanuddin: Bisa Picu Konflik dan Boikot Internasional

Menkeu Mau Pajaki Kapal Selat Malaka, TB Hasanuddin: Bisa Picu Konflik dan Boikot Internasional

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:48 WIB

Geger! 2 PRT di Benhil Nekat Terjun dari Lantai 4, Benarkah Karena Majikan Sadis?

Geger! 2 PRT di Benhil Nekat Terjun dari Lantai 4, Benarkah Karena Majikan Sadis?

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:42 WIB

GKR Hemas Raih KWP Award 2026: Budaya Bukan Cuma Warisan, Tapi Kekuatan Masa Depan

GKR Hemas Raih KWP Award 2026: Budaya Bukan Cuma Warisan, Tapi Kekuatan Masa Depan

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:38 WIB

Kritik Penyangkalan Negara, Guru Besar UI Desak Pengakuan atas Tragedi Pemerkosaan Massal 1998

Kritik Penyangkalan Negara, Guru Besar UI Desak Pengakuan atas Tragedi Pemerkosaan Massal 1998

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:12 WIB

KPK Dinilai Lampaui Kewenangan Soal Batas Jabatan Ketum Parpol, DPR: Itu Ahistoris

KPK Dinilai Lampaui Kewenangan Soal Batas Jabatan Ketum Parpol, DPR: Itu Ahistoris

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:12 WIB

Kanker Paru Bukan Lagi Penyakit Perokok: Menagih Hak Konstitusi Atas Terapi Inovatif

Kanker Paru Bukan Lagi Penyakit Perokok: Menagih Hak Konstitusi Atas Terapi Inovatif

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:09 WIB

Burhanuddin Muhtadi Sebut Regenerasi Parpol Gridlock: Bukan Lagi Macet, Tapi Buntu Total

Burhanuddin Muhtadi Sebut Regenerasi Parpol Gridlock: Bukan Lagi Macet, Tapi Buntu Total

News | Kamis, 23 April 2026 | 18:02 WIB

Deteksi Dini Preeklamsia, Kunci Tekan Stunting dan Selamatkan Ibu Sejak Masa Kehamilan

Deteksi Dini Preeklamsia, Kunci Tekan Stunting dan Selamatkan Ibu Sejak Masa Kehamilan

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:46 WIB

Kereta Api Adu Banteng di Denmark, Banyak Korban Luka Hingga Kritis

Kereta Api Adu Banteng di Denmark, Banyak Korban Luka Hingga Kritis

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:40 WIB