alexametrics

Menkes sebut 70 Juta Vaksin Akan datang Bertahap pada Agustus-September

Arief Apriadi | Ummi Hadyah Saleh
Menkes sebut 70 Juta Vaksin Akan datang Bertahap pada Agustus-September
Tangkapan layar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang dipantau daring, Senin (26/7/2021). (ANTARA/Devi Nindy)

Hal ini dikatakan Budi dalam jumpa pers di Youtube Sekretariat Presiden,Senin (2/8/2021) malam.

Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sekitar 70 juta dosis vaksin covid-19 akan datang secara bertahap pada Agustus hingga September 2021.

Hal ini dikatakan Budi dalam jumpa pers di Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/8/2021) malam.

"Vaksinasi yang paling besar memang akan datang di bulan Agustus dan September. Perkiraan kita yang sudah pasti sekitar 70 jutaan di Agustus dan September. Sehingga beban vaksinasinya kita akan sangat tinggi," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Budi menuturkan sejak Januari hingga Juli pemerintah telah menerima 90 juta dosis vaksin atau sekitar 22 persen dari total dosis vaksin yang dibutuhkan.

Baca Juga: Ibu Hamil dan Bayi Kembar di Kediri Meninggal Terpapar COVID-19

"Untuk perbandingan, Januari-Juli ada 90 juta vaksin yang datang. Jadi 90 juta dalam 7 bulan. Sekarang kita harus kejar 70 juta dalam sebulan. 90 juta kita itu sekitar 22 persen. Jadi kalau ada kekurangan di sana sini karena memang baru 20 persen yang datang," tutur dia.

Mantan Wamen BUMN itu juga menyebut hingga Desember 2021 Indonesia akan kedatangan sebanyak 258 juta dosis vaksin.

"Sisanya 80 persen itu datangnya dari Agustus sampai Desember 258 juta sudah pasti," ucap dia.

Lebih lanjut, Budi memaparkan ada tujuh daerah aglomerasi khususnya di Jawa dan Bali yang menjadi konsentrasi pemerintah dalam melakukan vaksinasi.

Yakni Jabodetabek, Bandung Raya, Semarang Raya, Solo Raya, Yogyakarta, Surabaya raya, dan juga Malang Raya dan Bali.

Baca Juga: Terendah Selama PPKM, Kasus Harian Covid-19 di Cirebon Tambah 13 Orang

"Itu adalah daerah yang tingkat kasus aktifnya paling tinggi dan juga kematiannya paling tinggi. Karena kita melakukan vaksinasi berbasis risiko karena daerah-daerah itulah kita sasar duluan untuk dengan cepat mengurangi tekanan penularan dan tekanan kematian," kata Budi.

Komentar