Cerita Perempuan yang Hidup saat Taliban Kuasai Afganistan Tahun 1999

Reza Gunadha, BBC

Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:48 WIB
Cerita Perempuan yang Hidup saat Taliban Kuasai Afganistan Tahun 1999
Wanita Afganistan yang memunyai pengalaman hidup di bawah kekuasaan Taliban era 1990-an. [BBC]

Suara.com - Seorang perempuan menceritakan kisah kehancuran keluarganya setelah sang ayah menghilang kala Taliban berkuasa tahun 1999.

Friba, kini tinggal London, ketika itu ia masih berusia 10 tahun. Dia terakhir kali melihat ayahnya di rumah mereka di Herat, kota terbesar ketiga di Afghanistan.

Pihak keluarga dan Friba meyakini ayahnya telah diculik oleh Taliban.

Inilah kisahnya. Sejumlah nama disamarkan untuk melindungi identitas mereka yang terlibat.

"Hidup di bawah rezim Taliban seperti memiliki hubungan dengan kekerasan. Pada awalnya baik. Mereka mengumbar janji, mereka melangkah dengan hati-hati, mereka bahkan menepati beberapa janji.

"Tapi ketika Anda dibuai rasa aman yang palsu, di situlah mereka membuat perencanaan.

Segera, dan sedikit demi sedikit, ketika dunia mulai bosan dengan Afghanistan, dan media mengalihkan perhatiannya, mereka mencengkeramkan kekuatan dari hari ke hari, dan siklus kebiadaban dimulai lagi.

"Ayah saya lahir di Herat. Dia lulusan Univeritas Kabul.

"Setelah lulus, dia menikah dan mulai bekerja di dalam sebuah tim kecil untuk pemerintahan Afghanistan saat itu.

"Ketika pasukan Rusia pergi, dan para Mujahid mengambil kekuasaan, ayah saya mendapat pekerjaan di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

"Saat Taliban bergerak ke Herat, ayah saya punya kesempatan untuk pergi, tapi ia memilih untuk tetap tinggal. Dia sangat mencintai pekerjaannya, dan dia mencintai Herat.

Saya tak akan pernah lupa wajah ibu

"Hidup berjalan sangat kejam di bawah rezim Taliban. Ayah saya punya empat anak perempuan yang hak pendidikannya telah dirampas, dan seorang bayi laki-laki.

"Tetapi pekerjaan itu bermanfaat, dia punya ambisi, untuk dirinya sendiri dan untuk kami, dan bekerja dengan hewan-hewan membuat hidup lumayan.

"Suatu pagi di pertengahan Juni 1999, ayah saya baru saja selesai sarapan, dan bersiap untuk pergi bekerja.

"Dia menatap saya, dan tersenyum ketika dia menaiki sepeda dan pergi.

"Beberapa menit kemudian, beberapa orang tetangga mendatangi rumah kami dengan membawa sepeda ayah saya. Mereka mengatakan, Taliban telah membawanya.

"Saya tak akan lupa wajah ibu saya saat itu. Wajah ibu membeku karena kaget.

"Dia meraih tangan adik laki-laki saya yang berusia lima tahun, lalu lari keluar pintu, putus asa untuk menemukan ayah.

"Malam harinya ibu saya kembali, seolah dengan beban di pundaknya.

"Tak ada kabar berita tentang ayah saya, tak ada kabar dia ada di mana atau apakah dia masih hidup.

"Paman saya dan teman-temannya tak berhasil mencari tahu di mana ia ditahan.

"Saban hari, ibu saya pergi ke kantor Taliban. Mereka menolak untuk mendengarkan ibu saya.

"Setelah lelah lelah berjalan, paman saya pergi ke Kandahar di mana dia mendapat informasi Taliban memindahkan beberapa tahan. Tapi itu juga tak ada kabar.

"Kemudian, dia pergi ke Kabul dan Mazar-i-Sharif. Tapi hasilnya sama-sama nihil.

"Tetangga kami yang menyaksikan penangkapan ayah, yakin betul. Mereka telah melihat anggota Taliban yang sama yang menangkap tetangga lainnya, dan kemudian melepaskan mereka dari penjara di Herat.

"Ibu saya sangat kuat, seperti singa, dia tak akan membiarkan ayah hilang begitu saja.

"Ia melawan nasihat dari keluarga. Dia membawa adik laki-laki saya (karena di bawah pemerintahan Taliban, perempuan hanya boleh bepergian dengan laki-laki meskipun itu hanya anak laki-laki) dan pergi ke Kandahar ke kantor pimpinan Taliban, Mullah Omar.

"Taliban memukul dan mengancamnya. Mereka mengatakan, jika ibu memunculkan diri lagi, maka akan dihukum rajam.

"Ibu saya kembali ke rumah dengan kecewa, dan pasrah

'Kami tak akan pernah melupakan Taliban'

"Hidup di bawah Taliban itu seperti hidup di neraka yang bergerak ke lubang hitam penuh keputusasaan."

"Ibu saya, mengkhawatirkan hidup kami, memutuskan untuk meninggalkan Afghanistan dan membawa kami ke Mashhad, Iran.

"Pada 2004 ketika keadaan membaik di Afghanistan, kami pulang. Kami ingin melanjutkan pendidikan dan membuat sesuatu yang berarti bagi diri kami sendiri.

"Ayah punya harapan pada kami, untuk kami penuhi,

"Saya masih ingat senyum manisnya, dan saya masih punya pena yang pernah ia berikan pada saya.

"Kami tak bisa menangisinya, dan kami tak akan melupakannya.

"Saat kami melihat berita Taliban mengambil alih kekuasan Afghanistan lagi, saya khawatir sejarah yang kami alami akan terulang.

"Saya sudah menikah sekarang, dan tinggal di Inggris. Tapi saya khawatir dengan ibu saya, saudara-saudara saya yang masih ada di Afghanistan, dan jutaan keluarga yang akan menderita dan kehilangan, seperti yang kami alami.

"Satu-satunya kejahatan mereka adalah lahir di Afghanistan."

Diproduksi oleh Rozina Sini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Singa Lembah Panjshir, Mujahidin Nyatakan Siap Perang Lawan Taliban

Singa Lembah Panjshir, Mujahidin Nyatakan Siap Perang Lawan Taliban

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:42 WIB

Indonesia Dulu Ajarkan Islam Moderat ke Taliban, Efeknya Tak Signifikan

Indonesia Dulu Ajarkan Islam Moderat ke Taliban, Efeknya Tak Signifikan

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:34 WIB

Taliban Kembali Berkuasa, Akankah Afganistan Jadi Ladang Teroris?

Taliban Kembali Berkuasa, Akankah Afganistan Jadi Ladang Teroris?

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:15 WIB

Viral Video Diduga Gadis Afghanistan Sesenggukan Meminta Tolong ke Tentara Amerika

Viral Video Diduga Gadis Afghanistan Sesenggukan Meminta Tolong ke Tentara Amerika

Your Say | Selasa, 24 Agustus 2021 | 12:41 WIB

Demo Imigran Afghanistan di Jakarta Dibubarkan Polisi, 10 Anak Diamankan

Demo Imigran Afghanistan di Jakarta Dibubarkan Polisi, 10 Anak Diamankan

Jabar | Selasa, 24 Agustus 2021 | 12:26 WIB

Demo di UNHCR Dibubarkan Paksa, 3 Imigran Afghanistan Diseret ke Mobil Polisi

Demo di UNHCR Dibubarkan Paksa, 3 Imigran Afghanistan Diseret ke Mobil Polisi

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 11:31 WIB

Fadli Zon Puji Wawancara Petinggi Taliban: Intelek, Sangat Terukur dan Beradab

Fadli Zon Puji Wawancara Petinggi Taliban: Intelek, Sangat Terukur dan Beradab

Riau | Selasa, 24 Agustus 2021 | 10:08 WIB

Bendera Afghanistan Diganti, Bendera Lama Kini jadi Simbol Pembangkangan

Bendera Afghanistan Diganti, Bendera Lama Kini jadi Simbol Pembangkangan

News | Selasa, 24 Agustus 2021 | 08:46 WIB

Polri Diminta Tumpas Gerakan Pendukung Taliban di Indonesia, Ini Alasannya

Polri Diminta Tumpas Gerakan Pendukung Taliban di Indonesia, Ini Alasannya

Riau | Senin, 23 Agustus 2021 | 21:59 WIB

Terkini

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:00 WIB

PSI Lampung Siaga Satu Sambut Jokowi, Siapkan Agenda Besar Bareng Relawan Gibran

PSI Lampung Siaga Satu Sambut Jokowi, Siapkan Agenda Besar Bareng Relawan Gibran

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:42 WIB

Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD

Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:38 WIB

Tragedi Pantai Ampenan Berakhir Duka, Jasad Bocah 9 Tahun Ditemukan Mengapung di Perairan Bintaro

Tragedi Pantai Ampenan Berakhir Duka, Jasad Bocah 9 Tahun Ditemukan Mengapung di Perairan Bintaro

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:30 WIB

Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru

Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:10 WIB

Terduga Pembunuh Wanita Muda di Hotel Kebayoran Baru Ditangkap

Terduga Pembunuh Wanita Muda di Hotel Kebayoran Baru Ditangkap

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:00 WIB

Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial

Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:35 WIB

Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi

Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:25 WIB

Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat

Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:20 WIB

Skandal WO Marwah: 58 Calon Pengantin Tertipu, Total Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar

Skandal WO Marwah: 58 Calon Pengantin Tertipu, Total Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 13:50 WIB