Rohani Penyandang Disabilitas Aceh dan Pelukis 'Luar Biasa'

Reza Gunadha, BBC

Selasa, 31 Agustus 2021 | 18:24 WIB
Rohani Penyandang Disabilitas Aceh dan Pelukis 'Luar Biasa'
Rohani, pelukis sekaligus penyandang disabilitas di Aceh. [BBC Indonesia]

Suara.com - Rohani, perempuan berusia 40 tahun di Aceh, harus perlahan merangkak dengan bertumpu pada pantatnya, sebab seluruh bagian tubuhnya terasa sakit.

Rohani hanya bisa menggerakkan dua jari di tangan kiri. Tapi, dengan kedua jari itulah dia mampu melukis sehingga menopang ekonomi keluarganya.

"Dimanfaatkan saja dua [jari] ini walaupun sakit. Dulu pakai tangan kanan sewaktu masih sehat, setelah itu kaku. Saya kira tidak akan bisa melukis lagi," kisah Rohani, yang kemudian mencoba menggunakan tangan kirinya.

"Lumayan lah. Dilatih terus, akhirnya bisa," kata Rohani kepada Hidayatullah yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, pertengahan Agustus lalu.

Lukisan hasil karya Rohani yang dipasarkan melalui media sosial, telah terjual sampai ke wilayah Bali, Pekanbaru, dan berbagai daerah di Aceh.

Rohani sendiri tinggal di Desa Pulo, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara — enam jam via jalan darat dari Banda Aceh.

Di rumah panggung dari kayu yang mulai lapuk dimakan usia, Rohani hidup bertiga dengan ibu dan kakak perempuannya.

Aminah, 69 tahun, ibu Rohani, kini sudah tidak mampu lagi melihat dengan baik. Segala pekerjaan di rumah dilakukannya dengan meraba atau mengandalkan naluri, termasuk untuk menyiapkan alat-alat gambar milik putri bungsunya.

Sementara Sawiyan, 47 tahun, kakak Rohani, bertugas membereskan segala urusan rumah tangga dan membantu mengirimkan paket lukisan jika Rohani menerima pesanan.

baca juga

Namun selama pandemi Covid-19 ini, tak ada pesanan lukisan yang diterima Rohani. Keluarga ini pun hanya bergantung pada uang pensiunan PNS sang ayah saja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Dari uang pensiunan almarhum ayah, Rp1,1 juta setiap bulan. Karena sekarang kosong orderan untuk lukisan," jelas Rohani.

Tidur setengah duduk

Mulanya, tak ada yang salah dengan kesehatan Rohani.

Setelah menyelesaikan pendidikan dari SD hingga SMA, Rohani lulus dari Sekolah Pembangunan Pertanian (SPP) pada 1996. Sepuluh tahun menganggur, Rohani sempat menjadi guru honorer di sebuah sekolah dasar di Aceh Utara.

Saat itulah, kata Rohani, dia mulai sakit-sakitan.

"Sakitnya pelan-pelan, kalau tidak salah [ingat], sekitar 2007 atau 2008 mulai sakit," cerita Rohani.

Nyeri itu dimulai dari bagian kaki, lalu merambat ke otot-otot tangan, dan bagian pinggang. Semula Rohani tak menggubris rasa nyeri itu dan hanya membeli obat di apotik untuk meredakan rasa sakitnya.

Lama-kelamaan, kondisi ini semakin parah, sampai-sampai Rohani tak mampu berjalan. Pada 2009, dia harus dirawat di rumah sakit karena sakitnya itu.

Sejak itu, berat badan Rohani mulai menyusut — dari sekitar 52 kilogram menjadi 33 kilogram. Dia menjadi susah bergerak, bahkan tidur pun harus dengan posisi setengah duduk.

"Nggak bisa makan ini itu, cuma makan untuk minum obat saja," imbuh Rohani. "Sudah lumpuh ini, tidak bisa jalan lagi."

Semenjak sakit, Rohani mulai menyentuh lagi peralatan melukis, kegiatan yang sudah disukainya sejak anak-anak.

Saat masih sehat dan sibuk dengan kegiatan sekolah, Rohani mengaku tak punya waktu untuk melakukan hobi ini.

"Karena suntuk, ya coba-coba saja, biar tidak ingat [dengan] sakitnya," lanjutnya.

Rohani menggunakan berbagai media lukis, dari sketsa dengan pensil, lukisan dengan cat di atas kanvas, hingga lukisan dari kain perca.

Untuk yang terakhir ini, dia mengaku belajar dari seorang seniman di Jawa, yang dikenalnya melalui Facebook.

"Di Aceh, mungkin baru saya yang bikin lukisan dari kain perca ini. Namanya lukisan gombal," jelas Rohani.

Pada 2015, Rohani mengaku mulai aktif melukis dan menjual hasil karyanya. Satu lukisan sketsa dihargai Rp50 ribu, sementara sebuah lukisan perca dibanderol harga Rp2-3 juta.

Meski, kata dia, konsumen musti bersedia menunggu agak lama untuk menikmati hasil lukisan Rohani. Karena kondisinya, Rohani hanya mampu melukis selama kira-kira dua jam per hari.

"Karena saya tidak bisa duduk lama-lama. Kadang dua, tiga jam saja duduknya. Kalau melukis kan harus menunduk, ini bahu sakit," terangnya.

"Kalau misalnya sehat, pasti satu hari sudah selesai."

Maka, untuk menyelesaikan satu buah lukisan sketsa, Rohani membutuhkan waktu tiga sampai empat hari, sementara lukisan perca baru bisa kelar dalam waktu dua bulan.

'Ingin lebih banyak pesanan'

Sebelas tahun lumpuh membuat Rohani harus menguburkan cita-citanya menjadi guru. Kini, Rohani mengaku ingin lebih dikenal sebagai pelukis saja.

"Lebih apa ya, ingin lebih banyak yang memesan lukisan saya… dan ada yang suka dengan seni saya ini," harap Rohani.

Keinginan sederhana ini, lanjut dia, demi membantu mencukupi kebutuhan harian keluarganya.

Selama hampir dua tahun pandemi ini, meski tak ada pesanan, Rohani mengisi waktu dengan menyelesaikan tiga karya lukisan berukuran besar.

'Bukan menderma'

Salah satu yang pernah membeli lukisan Rohani adalah Maimun. Menurutnya, sebagai seorang yang menyandang disabilitas, "Karya Rohani sangat luar biasa."

Maimun memesan sketsa lukisan kepada Rohani untuk acara pernikahan — lukisan itu dipajang di pintu masuk rumah untuk menyambut para tetamu.

"Kalau kita bicara orang yang normal dengan karya seperti itu, itu saja luar biasa. Ini, kita bicara tentang orang dengan keterbatasan [namun karyanya] seperti itu. Jauh di atas luar biasa menurut saya," kata Maimun.

Maimun pun menolak jika dikatakan memesan lukisan Rohani untuk berderma.

"Kalau ingin menderma kan bisa ke masjid, banyak orang lain yang bisa menerima, alasan saya ambil karya beliau ya karena memang bagus, layak untuk dipesan. Kalau masalah disabilitas itu nomor sekian."

Jatuh hati dengan hasil karya Rohani, Maimun pun berencana memesan sketsa keduanya. Kali ini gambar dirinya, istri, dengan anaknya.

Selain berdampak pada perekonomian keluarganya, tak banyak yang berubah dalam kehidupan Rohani karena pandemi Covid-19.

Ia jarang bepergian ke luar rumah, sebutnya, yang menjadi alasan dirinya tak mendaftar program vaksinasi.

"Enggak mungkin kena [Covid], di rumah saja ini, hanya melukis saja," kilah Rohani.

Di Aceh Utara sendiri, capaian vaksinasi masih tergolong rendah. Hingga akhir Juli 2021, menurut Dinas Kesehatan Aceh Utara, baru sekitar 13% warga yang sudah divaksin.

*Hidayatullah, wartawan di Aceh, berkontribusi untuk liputan ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kemnaker Dukung Kebijakan Ekonomi Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

Kemnaker Dukung Kebijakan Ekonomi Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

Bisnis | Minggu, 29 Agustus 2021 | 18:59 WIB

Sejarah Paralympic, Berangkat dari Usulan Seorang Dokter Asal Inggris

Sejarah Paralympic, Berangkat dari Usulan Seorang Dokter Asal Inggris

Your Say | Sabtu, 28 Agustus 2021 | 10:51 WIB

Komnas HAM Sebut Praktik Pemasungan Kepada ODGJ Masih Jadi Persoalan Serius

Komnas HAM Sebut Praktik Pemasungan Kepada ODGJ Masih Jadi Persoalan Serius

News | Jum'at, 27 Agustus 2021 | 19:33 WIB

Daftar Lengkap Lokasi Mural di Solo, Gibran Akan Tambah Lokasi Lagi

Daftar Lengkap Lokasi Mural di Solo, Gibran Akan Tambah Lokasi Lagi

Surakarta | Jum'at, 27 Agustus 2021 | 17:05 WIB

Semangat Penyandang Disabilitas Ikuti Pelatihan Membatik

Semangat Penyandang Disabilitas Ikuti Pelatihan Membatik

Foto | Rabu, 25 Agustus 2021 | 15:21 WIB

Kemnaker Percepat Unit Layanan di Daerah untuk Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas

Kemnaker Percepat Unit Layanan di Daerah untuk Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas

Bisnis | Minggu, 22 Agustus 2021 | 10:36 WIB

YEC Konsisten Bantu Penyandang Disabilitas Tingkatkan Kompetensi dan Keterampilan Kerja

YEC Konsisten Bantu Penyandang Disabilitas Tingkatkan Kompetensi dan Keterampilan Kerja

Lifestyle | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 15:40 WIB

Info Lokasi dan Jadwal Vaksinasi Bagi Penyandang Disabilitas di Kota Malang

Info Lokasi dan Jadwal Vaksinasi Bagi Penyandang Disabilitas di Kota Malang

Malang | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 15:00 WIB

Tunggu Sinopharm Datang, 3.800 Difabel di Jogja Segera Terima Vaksin Lagi

Tunggu Sinopharm Datang, 3.800 Difabel di Jogja Segera Terima Vaksin Lagi

Jogja | Kamis, 19 Agustus 2021 | 20:35 WIB

Terkini

Ulasan Gadis Minimarket: Ketika Menjadi Berbeda Bukan Berarti Salah

Ulasan Gadis Minimarket: Ketika Menjadi Berbeda Bukan Berarti Salah

Your Say | Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:00 WIB

5.000 Data Warga Palu Digunakan untuk Main Judi Online

5.000 Data Warga Palu Digunakan untuk Main Judi Online

Sulsel | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:58 WIB

Fitur Darurat yang Jadi 'Biang Kerok' Salah Paham Pengguna Jalan, Sisi Gelap Penggunaan Hazard Motor

Fitur Darurat yang Jadi 'Biang Kerok' Salah Paham Pengguna Jalan, Sisi Gelap Penggunaan Hazard Motor

Otomotif | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:56 WIB

Mesin Meledak di Sprint Race GP Aragon, Fabio Quartararo: Saya Sudah Tahu

Mesin Meledak di Sprint Race GP Aragon, Fabio Quartararo: Saya Sudah Tahu

Your Say | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:45 WIB

Harga Emas Antam Stagnan, Masih Dibanderol Rp2.670.000/Gram

Harga Emas Antam Stagnan, Masih Dibanderol Rp2.670.000/Gram

Bisnis | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Apa Boleh Menggoreng di Rice Cooker? Pahami Dulu Risikonya

Apa Boleh Menggoreng di Rice Cooker? Pahami Dulu Risikonya

Lifestyle | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:35 WIB

IHSG Sepekan Anjlok, Rp18 Triliun Raib dari Bursa Saham

IHSG Sepekan Anjlok, Rp18 Triliun Raib dari Bursa Saham

Bisnis | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:32 WIB

Perempuan dan Beauty Fatigue: Saat Tren Kecantikan Mulai Terasa Melelahkan

Perempuan dan Beauty Fatigue: Saat Tren Kecantikan Mulai Terasa Melelahkan

Your Say | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:30 WIB

Status Bencana Tak Ditentukan karena Desakan Publik, Harus Ada Data Lapangan

Status Bencana Tak Ditentukan karena Desakan Publik, Harus Ada Data Lapangan

News | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Pemkot Kendari Wajibkan ASN Setor Sampah Tiap Hari Jumat

Pemkot Kendari Wajibkan ASN Setor Sampah Tiap Hari Jumat

Sulsel | Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:04 WIB

×