Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor

Agung Sandy Lesmana, Stephanus Aranditio

Kamis, 09 September 2021 | 09:44 WIB
Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor
Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor. Ilustrasi masyarakat Dayak Meratus menyiapkan sajian saat aruh (ritual) Bawanang (pesta panen padi) di Balai Adat Dusun Bayawana, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/7/2021) malam. [antara]

Suara.com - Masyarakat Adat bertahan hidup di tengah virus Covid-19 yang terus masuk ke wilayah adat mereka karena kegagalan pemerintah mengendalikan pandemi.

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi mengatakan sejak awal pandemi hingga Mei 2021 masyarakat adat membatasi diri dengan dunia luar dan terus mengumpulkan makanan agar kuat bertahan.

"Syukurlah masih cukup makanannya bahkan masih bisa berbagi dengan yang berkekurangan, banyak juga wilayah adat yang tergantung dengan ramuan tradisional, ngapain beli vitamin kalau kita sendiri punya vitamin, saat ini adalah kebangkitan kembali menguatnya sistem kesehatan masyarakat adat, jadi ketidakhadiran negara berguna juga dalam situasi krisis," kata Rukka dalam diskusi virtual, Rabu (8/9/2021).

Masyarakat adat pun kerap melakukan ritual sesuai dengan kepercayaannya untuk menangkal wabah, seperti ritual Baangko yang dilakukan Masyarakat Adat Dayak Simpang’k di Kalimantan Barat. Namun, ketika Indonesia diserang varian delta, virus akhirnya tembus masuk ke wilayah adat, banyak masyarakat adat yang sakit dan kesulitan mendapatkan pertolongan medis.

"Pelayanan sangat kurang, bahkan setelah varian delta ini ada banyak sekali teman-teman yang hanya mendapatkan parasetamol dan amoxicillin, itu sangat jauh berkurang, itu orang bisa sembuh dan mati juga, obat virus seperti avigan dan lain-lain itu tidak ada di daerah," jelasnya.

Minimnya testing dan tracing dari pemerintah juga menjadi masalah banyaknya orang dengan gejala Covid-19 di wilayah adat yang tidak terdeteksi, sehingga pendataan menjadi kacau.

"Dalam situasi ini, mau tidak mau, masyarakat adat akan mencari apa yang ada di kampungnya, bahkan di Meratus itu mereka makan buah Limpasu dengan Kecombrang, itu dimakan terus sampai sembuh," ungkap Rukka.

Terkait vaksinasi Covid-19, Rukka meminta pemerintah untuk datang jemput bola membawa vaksin ke wilayah adat karena masyarakat adat kesulitan akses jika harus berangkat ke kota mencari vaksin.

"Negara ini punya sekian ratus motor dan mobil offroad, banyak kapal, kalau perlu kapal tempur itu gunakan, helikopter yang selama ini dipakai untuk membom ladang tradisional, sekali ini gunakanlah untuk membawa vaksin," tegasnya.

baca juga

Deputi I Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Eustobio Rero Renggi juga bercerita semenjak keran investasi dibuka melalui UU Cipta Kerja Omnibus Law, banyak pekerja perkebunan, pertambangan, dan sebagainya yang masuk ke wilayah adat sehingga menulari mereka.

"Kebijakan masuknya investasi pertambangan dan perkebunan ke wilayah adat itu mendatangkan orang luar yang sebenarnya mereka membawa virus ke dalam, itu sangat berdampak," kata Eustobio.

Meski belum terdata secara rinci jumlah masyarakat adat yang positif Covid-19, dia menyebutkan sejumlah daerah pedalaman sudah ada kasus Covid-19.

Dia memastikan bahwa mobilitas masyarakat adat terutama yang tinggal di pedalaman selalu berkegiatan di dalam wilayah adat karena mereka hidup dari alam tidak perlu keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh sebab itu dia meminta pemerintah untuk mempercepat dan mempermudah vaksinasi bagi masyarakat adat yang terancam, mereka sulit mengakses kesehatan ketika terpapar Covid-19.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

WHO Ungkap Penyebab Negara Miskin Sulit Dapat Pasokan Vaksin Covid-19

WHO Ungkap Penyebab Negara Miskin Sulit Dapat Pasokan Vaksin Covid-19

Health | Kamis, 09 September 2021 | 09:08 WIB

Ayo Vaksin Lur! Ini Jadwal dan Lokasi Terbaru Bus Vaksinasi Keliling di Kota Solo

Ayo Vaksin Lur! Ini Jadwal dan Lokasi Terbaru Bus Vaksinasi Keliling di Kota Solo

Surakarta | Kamis, 09 September 2021 | 09:07 WIB

Selamat! Kasus Covid-19 di Kota Depok Terus Mengalami Penurunan

Selamat! Kasus Covid-19 di Kota Depok Terus Mengalami Penurunan

Bogor | Kamis, 09 September 2021 | 08:56 WIB

Muncul Petisi Batalkan Sertifikat Vaksin sebagai Syarat Administrasi, Ini Bahayanya

Muncul Petisi Batalkan Sertifikat Vaksin sebagai Syarat Administrasi, Ini Bahayanya

Lampung | Kamis, 09 September 2021 | 08:45 WIB

Terkini

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:45 WIB

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Bola | Sabtu, 19 September 2026 | 23:10 WIB

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:00 WIB

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:35 WIB

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:29 WIB

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:15 WIB

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:05 WIB

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:34 WIB

×