Cerita Dokter Forensik RS Polri Identifikasi Jenazah: Hidung Kami Tak Kebal Bau Mayat

Agung Sandy Lesmana, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 17 September 2021 | 11:23 WIB
Cerita Dokter Forensik RS Polri Identifikasi Jenazah: Hidung Kami Tak Kebal Bau Mayat
Cerita Dokter Forensik RS Polri Identifikasi Jenazah: Hidung Kami Tak Kebal Bau Mayat. Ilustrasi jenazah di RS Polri, Jakarta Timur, Selasa (30/10). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Suara.com - Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur dijadikan tempat untuk mengidentifikasi 41 jenazah narapidana yang tewas dalam kebakaran maut di Lapas Klas I Tangerang, beberapa waktu lalu. 

Suasana duka pun masih menyelimuti salah satu ruangan di rumah sakit tersebut pada Kamis kemarin. Di ruangan bertuliskan ‘Rumah Duka’ itu, satu per satu peti jenazah berwarna putih dikeluarkan. Isak tangis keluarga pecah.

Peti berisi jasad itu mereka elus lembut, bersamaan air mata yang mengalir di pipi. Mulut mereka komat-kamit, sepertinya merapal doa-doa, berharap yang berpulang tenang bersama Tuhan.

Jenazah-jenazah itu adalah korban kebakaran di Lembaga Kemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten.

Kamis kemarin dapat dikatakan menjadi hari terakhir prosesi serah terima jenazah para korban. Rabu (15/9) lalu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono menyatakan proses identifikasi 41 jenazah rampung.

Isa, saat memeluk peti mati adik kadungnya, Mohammad Ilham (36) korban kebakaran Lapas Tangerang. (Suara.com/Yaumal)
Isa, saat memeluk peti mati adik kadungnya, Mohammad Ilham (36) korban kebakaran Lapas Tangerang. (Suara.com/Yaumal)

“Karena sudah teridentifikasi semua operasi DVI dalam rangka identifikasi kasus kebakaran Lapas Tangerang dinyatakan telah berakhir dengan hasil 41 korban telah diidentifikasi," kata Rusdi.

Rampungnya proses identifikasi jenazah, setidaknya bisa membuat para keluarga bernapas lega, meski perasaan duka masih menyelimuti mereka.

“Ada perasaan lega, almarhum bisa tenang di sana. Karena jenazahnya bisa segera kami makamkan,” kata Andre, salah satu keluarga korban.

Andre adalah kakak ipar Mohamad Ilham (36), korban kebakaran Lapas Klas 1 Tangerang. Setelah seminggu menanti, akhirnya jenazah adik iparnya bisa dibawa pulang untuk segera dimakamkan. Pengambilan jenazah itu dilakukamn setelah melewati proses identifikasi.

baca juga

Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 41 jenazah secara bertahap, dalam kurun waktu delapan hari setelah peristiwa naas itu terjadi.

“Ini termasuk cepat,” kata Kepala Bidang Pelayanan Kedokteran Kepolisian RS Bhayangkara, dr Agung Wijayanto saat ditemui Suara.com di RS Polri pada Rabu (15/ 9/2021) sore.

Agung adalah dokter spesialis forensik, sekaligus anggota kepolisian. Dia menjadi salah satu anggota di Tim DVI Polri, yang berperan penting dalam mengungkap identitas jenazah para korban.

Telepon Berdering

Seminggu lalu, pada Rabu (8/9) pagi, teleponnya berdering. Dari ujung telepon itu tersiar kabar, Lapas Klas I Tangerang, Banten terbakar.

Dokter spesialis forensik sekaligus anggota tim DVI Polri. Agung Wijayanto. (Suara.com/Yaumal)
Dokter spesialis forensik sekaligus anggota tim DVI Polri. Agung Wijayanto. (Suara.com/Yaumal)

Di berbagai media diwartakan, ada 41 warga binaan meninggal, dan puluhan lainnya mengalami luka ringan hingga luka berat. Kabar itu mengartikan, beberapa hari ke depan Agung akan sibuk, berjibaku dengan jenazah dan data-data pribadi para korban.

“Kami langsung menyiapkan tim, meskipun kami belum tahu jenazah akan dibawa ke sini, tapi seperti biasa kami mempersiapkan diri,” ujarnya.

Benar saja, 41 jenazah langsung dibawa ke RS Polri. Agung mendapat mandat, dipercaya menakhodai Tim Rekonsiliasi, yang bertugas untuk membandingkan data-data postmortem dan data antemortem.

Memasuki hari pertama dan kedua, Agung sangat sibuk, hampir 24 jam bekerja. Dalam benaknya puluhan jenazah harus segera teridentifikasi, sebab ada puluhan keluarga yang menanti kepastian dari nasib saudaranya.

“Tetapi biar kami ingin cepat, kami memiliki tanggung jawab moral, cepat tapi tepat. Jadi kami tidak mau cepat tapi asal-asalan. Jadi harus benar-benar dikombinasikan cepat selesai, tetapi tepat,” tegas Agung.

Dalam proses identifikasi kecepatan dan ketepatan adalah tanggung jawab moral bagi mereka. Tidak boleh ada kesalahan dalam proses itu, karena pastinya akan berakibat fatal.

Tragedi 98 hingga Tsunami Aceh

Menjadi dokter forensik telah berpuluh tahun dijalani Agung. Pria berusia 55 tahun ini, pertama kali bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pada saat itu dia terlibat dalam proses identifikasi jenazah korban tragedi Mei 1998.

“Saat itu ada banyak korban,” kata Agung mengingat masa itu.

Banyak peristiwa yang dilaluinya sebagai dokter forensik. asi. Mulai dari kecelakaan pesawat Sriwijaya (9/1/2021), kecelakaan pesawat Lion Air (29/10/2018), kecelakaan derek di Mekkah, Arab Saudi (11/9/2021), hingga bencana Tsunami di Aceh (26/12/2004) dan berbagai peristiwa besar lainnya.

Kebal Bau Mayat 

Menjadi dokter forensik, identik dengan jenazah dalam bentuk aneka rupa dan baunya.

Tentu yang menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana mereka bertahan dengan aneka aroma dari mayat dan bentuknya yang sudah tidak utuh.

Petugas menurunkan kantong jenazah korban kebakaran lapas di RSUD Kabupaten Tangerang, Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww/am.)
Petugas menurunkan kantong jenazah korban kebakaran lapas di RSUD Kabupaten Tangerang, Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww/am.)

“Itu juga banyak persepsi awam yang salah, bahwa kami khususnya dokter forensik yang berkecimpung di jenazah, sebenarnya hidung masih normal, tidak kebal juga,” jawab Agung ketika Suara.com menyebutnya dan rekan seprofesinya kebal dari bau yang tidak enak, khususnya dari aroma dari jasad yang telah lama meninggal.

“Yang kebal itu adalah mindset (pola pikir), tetapi hidung tetap normal. Kenapa kami kebal dalam arti mindset-nya tidak merasa bau dengan aroma tidak enak, karena adaptasi lagi. Karena kami melihat bahwa ini adalah pekerjaan yang harus kami hadapi, pada saat ini baunya tidak enak, ya biasa saja,” paparnya menjelaskan.

Agung pun lantas memberikan trik, untuk bisa bertahan dan mulai terbiasa dengan aroma yang tidak sedap.

“Kuncinya itu adalah ketika mencium bau tidak enak, jangan sampai dilawan. Jadi tetap saja dihirup, jangan meludah itu saja. Kalau di awal tidak tahan ulangi, kalau bisa jangan sampai meludah,” ujar Agung membocorkan triknya itu.

Penampakan salah satu jenazah korban kebakaran Lapas Tangerang saat diserahkan ke keluarga. (Suara.com/Yaumal)
Penampakan salah satu jenazah korban kebakaran Lapas Tangerang saat diserahkan ke keluarga. (Suara.com/Yaumal)

Ikut Bersedih

Layaknya manusia pada umumnya, dokter forensik juga memiliki perasaan, yang terkadang membuat mereka larut dalam emosi.

“Kadang-kadang kami juga bisa larut,” ujar Agung.

Pada sebuah tragedi, seperti dalam kecelakaan pesawat, korban dapat beraneka ragam latar belakangnya, mulai dari anak-anak sampai orang tua yang memasuki usia senja.

Tangis keluarga pecah saat menjemput jenazah korban kebakaran Lapas Tangerang di RS Polri, Jakarta. (Suara.com/Yaumal)
Tangis keluarga pecah saat menjemput jenazah korban kebakaran Lapas Tangerang di RS Polri, Jakarta. (Suara.com/Yaumal)

Tentunya para korban adalah orang-orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Kepergian mereka adalah kehilangan mendalam bagi yang ditinggalkan.

Namun kata Agung, perasaan itu harus mereka lawan, jika tidak, akan mempengaruhi proses identifikasi yang sedang berlangsung. Dalam arti mereka harus objektif, menarik diri dari perasaan itu, demi kelancaran proses identifikasi.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini berkata, pada situasi itu mereka harus berpikir logis, menjalani tugas dengan menganggapnya bagian dari proses ilmiah.

“Tapi kami kembali lagi ke tugas utama kami, untuk mengidentifikasi. Hal-hal semacam itu (rasa duka, perasan sedih) bisa kami singkirkan,” ujarnya.

Obrolan kami dengan dr Agung Wijayonto berakhir bersamaan dengan azan Magrib yang berkumandang. Setelah panjang lebar menceritakan pekerjaannya yang bersinggungan dengan orang mati, Agung pun lekas beranjak dari tempat duduknya, menuju salah satu musala kecil untuk melaksanakan salat. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penampungan Hewan di Orlando Terbakar, 20 Lebih Kucing Mati Terpanggang

Penampungan Hewan di Orlando Terbakar, 20 Lebih Kucing Mati Terpanggang

News | Jum'at, 17 September 2021 | 09:11 WIB

Jenazah WNA Portugal Napi Korban Kebakaran Lapas Tangerang akan Dikirim ke Negaranya Sabtu

Jenazah WNA Portugal Napi Korban Kebakaran Lapas Tangerang akan Dikirim ke Negaranya Sabtu

News | Kamis, 16 September 2021 | 20:33 WIB

Penyebab Kebakaran Pasar Bawah Bukittinggi Belum Jelas, Polisi Masih Kumpulkan Barang Bukt

Penyebab Kebakaran Pasar Bawah Bukittinggi Belum Jelas, Polisi Masih Kumpulkan Barang Bukt

Sumbar | Kamis, 16 September 2021 | 17:25 WIB

Tragedi Napi Terbakar di Blok C2: Ilham jadi Marbot hingga Janji Bersih Narkoba usai Bebas

Tragedi Napi Terbakar di Blok C2: Ilham jadi Marbot hingga Janji Bersih Narkoba usai Bebas

News | Kamis, 16 September 2021 | 17:24 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×