Bisakah Bahan Bakar Ramah Lingkungan untuk Pesawat Jadi Solusi, Ternyata Pakar Bilang Ini

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 19 Maret 2026 | 20:05 WIB
Bisakah Bahan Bakar Ramah Lingkungan untuk Pesawat Jadi Solusi, Ternyata Pakar Bilang Ini
Ilustrasi pesawat -(Unsplash)
baca 10 detik
  • Laporan Aéro Décarbo dan The Shift Project menyoroti keterbatasan produksi Sustainable Aviation Fuels (SAF).
  • Produksi SAF membutuhkan energi listrik sangat besar, setara sepertiga total listrik dunia saat ini.
  • Para peneliti menyimpulkan pengurangan lalu lintas penerbangan adalah cara realistis menekan emisi jangka pendek.

Suara.com - Upaya mengganti bahan bakar pesawat berbasis fosil dengan alternatif ramah lingkungan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Sebuah laporan terbaru menyebut, kebutuhan energi untuk menggantikan seluruh bahan bakar jet di dunia dengan bahan bakar bersih bisa mencapai sepertiga dari total listrik yang saat ini diproduksi di seluruh dunia, dan itu pun belum cukup untuk memenuhi pertumbuhan industri penerbangan.

Laporan yang disusun oleh Aéro Décarbo bersama The Shift Project ini menyoroti keterbatasan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuels (SAF).

Ilustrasi Pesawat Terbang (Pexels/Pascal Borener)
Ilustrasi Pesawat Terbang (Pexels/Pascal Borener)

Selama ini, SAF dianggap sebagai solusi utama untuk menekan emisi karbon di sektor penerbangan.

Namun, para peneliti menilai produksi SAF tidak akan mampu mengejar laju pertumbuhan lalu lintas penerbangan. “SAF sangat penting untuk dekarbonisasi penerbangan, tetapi tidak akan tersedia cukup cepat untuk menurunkan emisi dalam jangka pendek dan menengah,” tulis laporan tersebut.

Saat ini, sektor penerbangan menyumbang sekitar 2 hingga 3 persen emisi karbon global, dan angkanya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penerbangan. Di sisi lain, industri ini termasuk yang paling sulit untuk didekarbonisasi.

Secara umum, SAF terbagi menjadi dua jenis. Pertama, bioSAF yang berasal dari bahan biologis seperti limbah pertanian atau minyak goreng bekas. Kedua, e-SAF yang dibuat dari hidrogen dan karbon dioksida dengan bantuan listrik.

Kedua jenis ini memiliki tantangan masing-masing. BioSAF terbatas oleh ketersediaan bahan baku seperti lahan dan air, serta berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan. Sementara itu, e-SAF sangat bergantung pada ketersediaan listrik dalam jumlah besar.

Salah satu penulis laporan, Loïc Bonifacio, menjelaskan bahwa kebutuhan listrik untuk memproduksi bahan bakar sintetis sangat besar. “Untuk menggantikan konsumsi bahan bakar jet global saat ini, dibutuhkan sekitar 10.000 terawatt-jam listrik per tahun, atau sekitar sepertiga produksi listrik dunia,” ujarnya.

baca juga

Bahkan dengan skenario paling optimistis, emisi dari sektor penerbangan diperkirakan hanya turun sekitar 9 persen hingga tahun 2050—jauh dari target pengurangan emisi yang ditetapkan dalam Paris Agreement.

Dalam kondisi ini, laporan menyimpulkan bahwa satu-satunya cara realistis untuk menekan emisi adalah dengan mengurangi jumlah penerbangan, setidaknya untuk sementara waktu. “Selama SAF belum tersedia dalam jumlah besar, kita perlu mengurangi lalu lintas udara,” kata Bonifacio.

Peneliti memperkirakan, untuk menjaga kenaikan suhu global tetap terkendali, jumlah penerbangan dunia perlu dikurangi setidaknya 15 persen dalam lima tahun ke depan. Bahkan, untuk target yang lebih ambisius, pengurangan bisa mencapai 60 persen pada 2035.

Temuan ini juga menyoroti ketimpangan dalam penggunaan transportasi udara. Data menunjukkan hanya sekitar 11 persen populasi dunia yang pernah naik pesawat, dan 1 persen di antaranya menyumbang setengah dari total emisi penerbangan.

Dengan berbagai keterbatasan tersebut, para peneliti menilai penting bagi pemerintah dan industri untuk mulai memikirkan ulang kebijakan transportasi udara. Termasuk di antaranya meninjau kembali ekspansi bandara dan promosi perjalanan udara, setidaknya sampai solusi energi bersih benar-benar siap digunakan secara luas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang Nyepi, Bandara Ngurah Rai Dipadati Puluhan Ribu Penumpang

Jelang Nyepi, Bandara Ngurah Rai Dipadati Puluhan Ribu Penumpang

Foto | Rabu, 18 Maret 2026 | 22:28 WIB

Perang Iran vs AS-Israel Picu Krisis Energi, PBB: Saatnya Beralih ke Energi Terbarukan

Perang Iran vs AS-Israel Picu Krisis Energi, PBB: Saatnya Beralih ke Energi Terbarukan

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 15:15 WIB

Peneliti Ungkap Cara Sederhana Tekan Dampak Iklim Penerbangan, Bagaimana Solusinya?

Peneliti Ungkap Cara Sederhana Tekan Dampak Iklim Penerbangan, Bagaimana Solusinya?

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 15:30 WIB

Terkini

9 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas

9 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 19:21 WIB

Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan

Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 19:20 WIB

Catatan Kelam Malioboro: 8 Luka Berat, Turis Disiksa, Janji Pengobatan Menguap?

Catatan Kelam Malioboro: 8 Luka Berat, Turis Disiksa, Janji Pengobatan Menguap?

News | Selasa, 03 November 2026 | 19:18 WIB

Angkot Sepi Penumpang, Dua Pria di Bogor Sulap Kendaraan Tua Jadi Lapak Kelapa Muda

Angkot Sepi Penumpang, Dua Pria di Bogor Sulap Kendaraan Tua Jadi Lapak Kelapa Muda

Bogor | Selasa, 03 November 2026 | 19:16 WIB

Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist

Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 19:15 WIB

Impor Melonjak 4 Kali Lebih Cepat dari Ekspor: Siapa Sebenarnya Penikmat Surplus RI?

Impor Melonjak 4 Kali Lebih Cepat dari Ekspor: Siapa Sebenarnya Penikmat Surplus RI?

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 19:13 WIB

Belum Ada Konferensi Pers Penangkapan Pelaku, Koalisi Pers Sumsel Siapkan Aksi 11 November

Belum Ada Konferensi Pers Penangkapan Pelaku, Koalisi Pers Sumsel Siapkan Aksi 11 November

Sumsel | Selasa, 03 November 2026 | 19:12 WIB

Dibunuh Era Orba, Wartawan Udin Kini Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Dibunuh Era Orba, Wartawan Udin Kini Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

News | Selasa, 03 November 2026 | 19:12 WIB

Polisi Selidiki Dugaan Pengeroyokan Kepala Dispar Sultra di Kantor

Polisi Selidiki Dugaan Pengeroyokan Kepala Dispar Sultra di Kantor

Sulsel | Selasa, 03 November 2026 | 19:11 WIB

Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?

Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 19:10 WIB

×