alexametrics

Banyak Klaster Sekolah, Epidemiolog Minta Pemerintah Evaluasi PTM Terbatas

Dwi Bowo Raharjo | Stephanus Aranditio
Banyak Klaster Sekolah, Epidemiolog Minta Pemerintah Evaluasi PTM Terbatas
Pembelajaran tatap muka (PTM) digelar di Bandar Lampung, Senin (13/9/2021). [ANTARA]

Dicky mengapresiasi sistem pencatatan Kemendikbudristek yang cekatan mendeteksi klaster penularan Covid-19 yang hingga kini sudah mencapai 1.296 sekolah.

Suara.com - Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman meminta pemerintah untuk segera mengevaluasi pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas menyusul banyak klaster penularan Covid-19 di sekolah.

Dicky mengatakan jika ada dua kasus positif Covid-19, maka sekolah itu harus segera ditutup, disterilkan, dan dilakukan kontak tracing terhadap semua orang yang masuk sekolah.

"Mau itu siswa atau guru, itu harus di suspend atau tutup dulu, minimal dua kasus, kalau satu kasus ya kelasnya saja yang dikarantina, karena perlu ada desinfeksi, kemudian melakukan testing tracing isolasi dan karantina," kata Dicky saat dihubungi, Rabu (22/9/2021).

Selain itu, pemerintah pusat maupun daerah harus mengevaluasi pelaksanaan PTM Terbatas di sekolah satu per satu agar penularan tidak terulang lagi.

Baca Juga: Kemendikbudristek Catat Baru 42 Persen Sekolah Dibuka PTM Terbatas

"Ini yang harus dicari di Indonesia, kalau penyebabnya belum ketemu ya jangan dimulai, ini harus dicari, karena penting untuk pembelajaran bisa diperbaiki, ini penting untuk pembelajaran, jangan ambil resiko," tuturnya.

Di sisi lain, dia juga mengapresiasi sistem pencatatan Kemendikbudristek yang cekatan mendeteksi klaster penularan Covid-19 yang hingga kini sudah mencapai 1.296 sekolah.

Suasana PTM di Kabupaten Gresik, banyak siswa senang bisa mengikuti proses belajar mengajar secara langsung [SuaraJatim/Amin Alamsyah]
Suasana PTM di Kabupaten Gresik, banyak siswa senang bisa mengikuti proses belajar mengajar secara langsung [SuaraJatim/Amin Alamsyah]

"Berarti sistem deteksinya berjalan dengan adanya laporan ini, kita berhasil membangun ini karena mendeteksi ini modal penting, ini harus dijaga," ucap Dicky.

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Paud Dikdasmen) Kemendikbudristek, Jumeri mengungkapkan bahwa sudah ada 1.296 sekolah yang melaporkan klaster Covid-19 saat PTM Terbatas, total ada 11.615 siswa positif Covid-19.

"Kasus penularan itu kira-kira 2,78 persen yang melaporkan," kata Jumeri.

Baca Juga: 18 September 2021, Kasus Positif Covid-19 RI Bertambah 3.385 orang

Data ini didapatkan dari 46.500 sekolah yang sudah melakukan PTM Terbatas per tanggal 20 September 2021.

Dia merinci jumlah klaster Covid-19 paling banyak ada di Sekolah Dasar (SD) sebanyak 581 sekolah, lalu di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 525 sekolah, dan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 241 sekolah.

Sementara di Sekolah Menengah Atas (SMA) ada 170 sekolah, di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada 70 sekolah, dan di Sekolah Luar Biasa (SLB) ada sebanyak 13 sekolah.

Pelajar SD menjadi yang paling banyak terkena Covid-19 akibat PTM Terbatas yakni sebanyak 6.908 orang, dan 3.174 guru SD juga positif Covid-19.

Di tingkat SMP terdapat 2.220 siswa dan 1.502 guru positif Covid-19, PAUD terdapat 953 siswa dan 2.007 positif Covid-19.

Lalu, 1.915 guru dan 794 siswa SMA positif Covid-19, 609 siswa dan 1.594 guru SMK positif Covid-19, dan 131 siswa dan 112 guru SLB positif Covid-19.

Komentar