Lava Letusan Gunung dan Laut Saat Bertemu Begitu Mempesona, Tapi Mematikan

Siswanto, BBC

Jum'at, 24 September 2021 | 09:59 WIB
Lava Letusan Gunung dan Laut Saat Bertemu Begitu Mempesona, Tapi Mematikan
BBC

Suara.com - Sungai-sungai merah dari bebatuan cair membentuk delta sebelum terjun ke air. Gumpalan gas naik ketika batu-batu terlempar sampai sejauh 250m dari titik tumbukan.

Ketika lava mengalir ke air laut, itu bisa menjadi tontonan yang memukau. Tapi fenomena ini juga berpotensi mematikan - gasnya bisa menjadi racun, airnya mendidih dan batu-batu yang beterbangan sangat besar.

Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Dan bagaimana Anda bisa memastikan bahwa Anda tetap aman, jika Anda pernah menyaksikannya secara langsung?

Gas berbahaya

Lava yang memasuki lautan dapat menciptakan serangkaian bahaya khusus yang diketahui telah melukai atau membunuh orang-orang yang tak menaruh curiga di dekatnya, ujar US Geological Survey (USGS).

Pertemuan magma panas (batuan cair) dan air dingin menghasilkan kabut berbahaya yang disebut "laze" - yang jauh lebih berbahaya ketimbanng kedengarannya.

Baca juga:

"Ketika magma bertemu laut, itu menghasilkan kolom-kolom uap, lantaran air garam menguap dalam skala besar.

"Ini karena perbedaan suhu yang besar: lava memiliki suhu lebih dari 900C, sementara air sekitar 23C," kata José Mangas, profesor geologi di Universitas Las Palmas de Gran Canaria di Kepulauan Canary, di mana gunung berapi Cumbre Vieja saat ini tengah meletus.

"Karena air mengandung klorida, sulfat, karbonat, fluorida dan yodium, antara lain, gas beracun juga menjadi mudah menguap dan naik," kata Mangas kepada BBC.

baca juga

Gas-gas tersebut dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan.

Mangas memberikan contoh wilayah laut yang terletak di dekat gunung berapi Hawaii, di mana pengunjung yang tidak menaruh curiga, meninggal setelah menghirup gas beracun.

Gas-gas ini juga meninggalkan bau busuk di daerah terdekat - yang akhirnya hilang, untungnya.

Video ini menunjukkan lahar dari gunung berapi Kilauea di Hawaii yang mengalir ke laut di Teluk Kapoho, menyebabkan kabut asam klorida yang berlarut-larut.

https://www.youtube.com/watch?v=dJnTNUjixBY

Batu-batu beterbangan dan ledakan bertubi-tubi

Serangkaian bahaya lainnya disebabkan oleh penumpukan lava di sepanjang lereng laut, menciptakan delta yang tidak stabil.

Saat lava didinginkan dengan cepat melalui kontak dengan air, delta pecah dan runtuh, kadang-kadang dalam ledakan, melemparkan fragmen lava dan batu ke darat atau laut.

Para ilmuwan tidak dapat memprediksi waktu atau ukuran keruntuhan delta.

Baca juga:

USGS mengatakan orang-orang harus tinggal setidaknya 300 meter dari tempat lava bertemu lautan, bahkan jika mereka berada di atas kapal. Ini adalah tentang seberapa jauh capaian bebatuan dan puing-puing itu terlempar sebelumnya.

Héctor Lamolda Ordóñez, dari National Geographic Institute dan juga seorang profesor di Universidad Complutense de Madrid, mengatakan gas beracun yang terperangkap di dalam bebatuan juga dapat dilepaskan selama keruntuhan delta.

Menurut USGS, delta lava mungkin terlihat stabil dari amatan mata yang tidak terlatih, tetapi sebetulnya sangat rapuh.

Baca juga:

Pada 1993 seorang fotografer tersapu ke dalam laut dan tidak pernah ditemukan setelah delta runtuh di daerah Hawaii yang sudah ditandai dengan seksama.

Lusinan pengunjung juga terluka ketika mereka mencoba melarikan diri dari bebatuan panas, percikan dan puing-puing.

Dan pada 2018, juga di Hawaii, 23 orang terluka ketika bongkahan bebatuan cair seukuran bola bisbol, yang dikenal sebagai bom lava, menabrak atap kapal wisata.

Gelombang panas

Tidak kalah berbahayanya adalah gelombang air panas yang menyapu permukaan delta lava.

Orang-orang yang berdiri di dekat area tersebut di masa lalu telah menderita luka bakar tingkat dua akibat air dan uap yang menyertainya, kata USGS.

Keruntuhan delta dapat menghasilkan gelombang di daratan dan lepas pantai, membahayakan kapal di daerah tersebut.

'Medan perang'

Menariknya, sungai lava cair yang mengalir ke air laut melibatkan beberapa proses alam yang ganas.

Di Hawaii, pertemuan-pertemuan itu digambarkan sebagai "medan perang" - sebuah kiasan untuk dewa gunung berapi Hawaii (Pele) dan laut (Nmakaokaha'i), menurut USGS.

Ini adalah ekspresi yang secara sempurna menangkap interaksi fisik bergejolak yang disebabkan oleh pertemuan lava dan air laut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Mahfud MD Bongkar 2 Kelemahan Mendasar Purbaya Usai Dicopot Prabowo, Komunikasi dan Substansi

Mahfud MD Bongkar 2 Kelemahan Mendasar Purbaya Usai Dicopot Prabowo, Komunikasi dan Substansi

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:42 WIB

Link Live Streaming FC Seoul vs Persib Bandung Sore Ini, Cara Nonton dan Jadwal Lengkap

Link Live Streaming FC Seoul vs Persib Bandung Sore Ini, Cara Nonton dan Jadwal Lengkap

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 15:42 WIB

BEI Siapkan Short Selling, Tak Semua Saham LQ45 Bisa Diperdagangkan

BEI Siapkan Short Selling, Tak Semua Saham LQ45 Bisa Diperdagangkan

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 15:41 WIB

Cara Ampuh Bersihkan Jamur Kaca Spion Mobil dengan Bahan Sederhana

Cara Ampuh Bersihkan Jamur Kaca Spion Mobil dengan Bahan Sederhana

Otomotif | Rabu, 16 September 2026 | 15:39 WIB

Kasus Nelayan Aceh Ditangkap di Thailand: 13 Bebas, 5 Masih Ditahan

Kasus Nelayan Aceh Ditangkap di Thailand: 13 Bebas, 5 Masih Ditahan

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:38 WIB

OTT Ke-20 KPK Terkait HGB Bogor: Seret Pejabat BPN, Eks Bupati Kebumen, dan Bos Summarecon

OTT Ke-20 KPK Terkait HGB Bogor: Seret Pejabat BPN, Eks Bupati Kebumen, dan Bos Summarecon

Bogor | Rabu, 16 September 2026 | 15:37 WIB

Menteri Diktisaintek Ungkap Dampak Kemiskinan: Anak Sulit Dapat Pendidikan, Pilihan Kerja Terbatas

Menteri Diktisaintek Ungkap Dampak Kemiskinan: Anak Sulit Dapat Pendidikan, Pilihan Kerja Terbatas

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:35 WIB

Helikopter Milik Stasiun TV Jatuh di Los Angeles, 3 Orang Tewas

Helikopter Milik Stasiun TV Jatuh di Los Angeles, 3 Orang Tewas

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:33 WIB

ESDM Ungkap Alasan RKAB BYAN Belum Terbit, Masih Dievaluasi

ESDM Ungkap Alasan RKAB BYAN Belum Terbit, Masih Dievaluasi

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 15:33 WIB

Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka

Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 15:27 WIB

×