alexametrics

Maria Ressa, AJI dan Koalisi Tiga Negara: Setop Serangan Terhadap Pers dan Demokrasi

Erick Tanjung | Welly Hidayat
Maria Ressa, AJI dan Koalisi Tiga Negara: Setop Serangan Terhadap Pers dan Demokrasi
Maria Ressa, Jurnalis senior Filipina (Bagian bawah di sisi kiri) dalam Forum Regional 'Press In Distress' yang diselenggarakan AJI Indonesia secara daring pada Jumat (8/10/2021). [Bidik layar/AJI]

"Lebih-lebih pada situasi pandemi, dimana orang-orang merasa terisolasi sehingga rawan sekali dimanipulasi lewat media sosial," kata Ressa.

Suara.com - Maria Ressa, Jurnalis senior Filipina menyatakan berdiri dalam satu barisan bersama koalisi tiga negara Indonesia, Malaysia, dan Filipina untuk merespon atas menguatnya tekanan pada pers dan demokrasi di Asia Tenggara.

Peraih penghargaan Nobel Perdamaian 2021 ini, menekankan bahwa pentingnya kerjasama yang solid dalam menghentikan serangan-serangan terhadap jurnalis lewat penyalahgunaan hukum dan manipulasi informasi.

Terkhusus selama pandemi Covid-19 yang berisiko dimanfaatkan untuk kepentingan pihak-pihak yang berbahaya bagi kebebasan pers dan demokrasi.

“Saya menyukai gagasan komunitas yang ingin kita bangun bersama ini. Lebih-lebih pada situasi pandemi, dimana orang-orang merasa terisolasi sehingga rawan sekali dimanipulasi lewat media sosial," kata Ressa dalam Forum Regional 'Press In Distress' secara daring pada Jumat (8/10/2021).

Baca Juga: Jurnalis Maria Ressa dan Dmitry Muratov Dianugerahi Nobel Perdamaian 2021

Sementara itu, Jurnalis senior Tempo dan anggota Dewan Per Arif Zulkifli mengatakan apa yang dialami Maria Ressa di Filipina merupakan potret demokrasi saat ini yang juga terjadi di Indonesia dan negara-negara lain.

Menurut dia serangkaian serangan fisik, digital hingga kriminalisasi terhadap jurnalis dan aktivis di Indonesia yang bersuara keras terhadap kebijakan-kebijakan yang dianggap merugikan publik, seperti RUU Cipta Kerja dan RUU KPK pada 2019 silam.

"Tanpa perlawanan serius, serangan tersebut akan menjadi jalan pintas terhadap pembungkaman media dan siapa saja yang berusaha kritis menyuarakan kebenaran," ucapnya.

Pendiri Malaysiakini Steven Gan menyoroti perlunya penggalangan dukungan publik, termasuk dalam hal pembiayaan. Menurutnya kebebasan pers akan sulit ditegakkan apabila publik tidak melihat jurnalisme sebagai hal yang serius diperhatikan.

Adapun forum regional ini merupakan gagasan sejumlah organisasi jurnalis dan sineas di tiga negara. Terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (Indonesia); Freedom Film Network, Gerakan Media Merdeka (Geramm), Center for Independent Journalism (CIJ) Malaysia; serta Dakila, Active Vista dan Rappler di Filipina.

Baca Juga: AJI: Pasal yang Ancam Kebebasan Pers Harus Dihapus di RUU KUHP dan RUU ITE

Forum ini dibuka dengan pemutaran film dokumenter 'A Thousand Cuts' tentang perjuangan Maria Ressa dan tim Rappler melawan kesewenang-wenangan rezim Presiden Rodrigo Duterte, terutama dalam penanganan isu-isu narkoba.

Komentar