Kisah Anggota Gereja Saksi Yehuwa Masuk Penjara Setelah Menolak Wamil

Siswanto, BBC

Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:57 WIB
Kisah Anggota Gereja Saksi Yehuwa Masuk Penjara Setelah Menolak Wamil
BBC

Suara.com - Yeo Zheng Ye yang tumbuh besar di Singapura mengetahui dia harus masuk penjara.

Sebagai anggota gereja Saksi Yehuwa, keyakinannya itu tidak memungkinkannya membawa senjata dan bergabung dengan organisasi apa pun yang bertujuan untuk berperang.

Jadi pada usia 20 tahun, dia menolak ikut wajib militer dengan alasan tak sesuai hati nurani, lalu dijebloskan ke penjara.

Walaupun Singapura tidak berperang, wajib militer di negara itu diharuskan kepada semua warga laki-laki berbadan sehat maupun dari generasi kedua pendatang yang sudah berstatus penduduk tetap saat usianya memasuki 18 tahun.

Sejak 1970, rata-rata enam orang anggota Saksi Yehuwa telah dikirim ke penjara militer setiap tahun, meskipun tidak ada seorang pun yang memiliki catatan kriminal permanen.

Yeo menghabiskan hampir tiga tahun di penjara, satu tahun lebih lama dari program pelatihan nasional.

'Saya seringkali menangis'

Di dalam penjara, dia bangun jam lima pagi untuk membersihkan toilet dan mengepel koridor sepanjang 200 meter yang acap dikotori sepatu bot berlumpur.

Setelah menjalani absen harian di dalam selnya setiap jam delapan pagi, dia harus melakukan pekerjaan lain seperti berkebun dan mencuci pakaian.

"Anggota Saksi Yehuwa tidak diminta berpartisipasi dalam berbagai tugas dan latihan beban mengangkut karung pasir yang harus dilakukan narapidana lainnya setiap hari," ungkap seorang mantan perwira polisi militer yang menolak disebutkan namanya.

Baca juga:

Yeo mengaku butuh waktu - sekitar setahun - untuk terbiasa berada di penjara.

"Saya seringkali menangis, selama berhari-hari. Saya menangis sebelum masuk penjara, menyadari bahwa saya tidak akan menemui dan melihat keluarga dan teman-teman saya selama dua setengah tahun ke depan," katanya.

Ada sisi baiknya. Kakak laki-laki Yeo, yang sangat dekat dengannya dan hari ulang tahunnya sama, serta juga anggota gereja. Dia dijebloskan ke penjara setahun sebelum Yeo.

"Kupikir setidaknya saya bisa bertemu saudaraku."

Keluarga penganut yang taat

Semenjak kanak-kanak, Yeo dan saudara laki-lakinya sudah dikenalkan dengan keyakinannya itu.

Ayah mereka bergabung dengan gereja setelah menjalani kehidupannya sebagai tentara.

Dalam wajib militer yang diawali penyelesaian periode pelatihan selama dua tahun, mereka harus bertugas sebagai pasukan cadangan selama beberapa pekan setahun sekali. Itu berlangsung selama sepuluh tahun.

Dan ayah Yeo juga mengalami hidup di dalam penjara lantaran mengikuti pantangan dalam agamanya.

"Ibuku bukan anggota gereja, tapi dia tahu [hukuman penjara] akan menimpaku dan saudara laki-lakiku karena ayahku kembali ke lokasi penahanan beberapa kali, kadang-kadang dengan mempertaruhkan pekerjaannya," kata Yeo.

Para pimpinan perusahaan di negara itu secara hukum wajib mengizinkan karyawannya mengikuti pelatihan cadangan tahunan.

Namun, para anggota Saksi Yehuwa yang menolak pelatihan itu, sehingga dijebloskan ke penjara militer selama 40 hari atau lebih, dan mereka kehilangan perlindungan itu.

Jordan Chia, seorang anggota Saksi Yehuwa dan guru musik, menerima hukuman tujuh bulan, karena menolak kembali mengikuti tugas cadangan untuk kedua kalinya.

"Ini adalah tantangan karena saya tidak tahu persis berapa lama saya akan ditahan. Saya mengatakan kepada atasan saya bahwa mereka tidak berkewajiban untuk melindungi saya," kata Chia kepada BBC.

"Tapi untungnya mereka melakukannya."

Gereja dan Negara

Pertanyaan seputar perlunya mengirim para penentang yang didasari alasan hati nurani ke penjara telah diajukan ke Parlemen Singapura dalam beberapa kesempatan.

Tetapi para menteri berkeras perlunya kebijakan wajib militer yang ketat, dengan mengatakan bahwa "dinas nasional ini sangat penting demi keamanan negara kecil seperti Singapura".

"Tidak ada warga Singapura yang boleh menyebutkan alasan apa pun untuk membebaskan dirinya dari keharusan berkontribusi pada upaya pertahanan nasional.

"Karena, setiap warga Singapura mendapat manfaat dari perdamaian dan keamanan yang telah dijamin oleh Dinas Nasional," Matthias Yao Chih mengatakan kepada Parlemen pada 1998 ketika dia menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

BBC menghubungi Kementerian Pertahanan Singapura terkait artikel ini dan mereka mengatakan: "Alasan untuk melarang pembebasan dari wajib militer berdasarkan alasan agama telah dibahas di Parlemen, dan tetap tidak berubah."

Para anggota Saksi Yehuwa telah meminta adanya perubahan pada kebijakan ini, dengan merujuk Korea Selatan sebagai contoh.

Dalam perubahan radikal pada Oktober lalu, Seoul berhenti mengirim para anggota Saksi Yehuwa ke penjara.

Sebagai gantinya, Korsel memperkenalkan skema baru yang memungkinkan mereka yang menolak wajib militer berdasarkan iman atau alasan pribadi, untuk melayani sebagai administrator penjara sebagai gantinya selama tiga tahun.

Mereka saat ini bekerja dan tinggal di penjara yang terpisah dari narapidana lain, dan diberi cuti tahunan selama beberapa pekan.

"Anggota kami di Singapura secara konsisten menyatakan keinginannya kepada pihak berwenang untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat," kata juru bicara Asosiasi Saksi Yehuwa Asia-Pasifik.

Yeo mengatakan dia juga berulang kali meminta untuk memberikan pelayanan sipil seperti pemadam kebakaran, di mana sejumlah pria di negara itu wajib melakukannya.

Dan sejauh ini ada dukungan internasional untuk tugas-tugas alternatif tersebut.

Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa mengatakan, negara harus memberikan bentuk layanan alternatif bagi warga negara yang meyakini bahwa "penggunaan kekuatan mematikan dapat sangat bertentangan dengan kebebasan hati nurani dan hak untuk menjalankan agama atau kepercayaan seseorang."

Namun, Singapura secara teknis tidak melanggar kewajiban internasionalnya karena belum menandatangani konvensi ini, menurut Dr Paul Hedges, profesor studi antaragama di S.Rajaratnam School of International Studies, sekolah pascasarjana dan lembaga think-tank di Singapura.

"Dinas nasional dibangun begitu kuat ke dalam struktur narasi nasional negara seputar keamanan, sehingga sulit bagi pemerintah untuk berkompromi di sekitar norma sekuler dan batasan-batasannya sendiri," kata Hedges.

"Tanpa perubahan besar dalam arah oleh kedua belah pihak, kompromi akan sulit dicapai," tambahnya.

'Kebebasan itu luar biasa'

Yeo dibebaskan April lalu, sehari sebelum Singapura memasuki lockdown pertama terkait Covid.

"Hal pertama yang saya lakukan ketika keluar adalah pergi ke restoran favorit saya bersama keluarga, karena saya tahu saya tidak akan bisa melakukannya untuk sementara waktu," kata Yeo.

Di bawah pembatasan yang berlangsung hingga Juni, masyarakat hanya diizinkan meninggalkan rumahnya untuk kegiatan penting seperti berbelanja bahan makanan dan berolahraga.

"Saya sangat menantikan pertemuan dengan teman-teman saya," kata Yeo, "Rumah saya terasa sangat kecil dibandingkan dengan penjara."

Namun meski begitu, dia mengatakan kebebasan setengah hari yang dia alami sebelum lockdown sangat luar biasa.

"Hidup itu sederhana di penjara. Ketika saya keluar, rasanya seperti berlebih. Mobil, bus, berjalan bebas tanpa borgol dan tanpa jam malam."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Park Ji Hoon Bertekad Jalani Wamil 2027, Incar Pasukan Elite Marinir Korea

Park Ji Hoon Bertekad Jalani Wamil 2027, Incar Pasukan Elite Marinir Korea

Your Say | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:15 WIB

5 Anggota SEVENTEEN Umumkan Jadwal Wamil, OT13 Ditargetkan Kembali 2028

5 Anggota SEVENTEEN Umumkan Jadwal Wamil, OT13 Ditargetkan Kembali 2028

Your Say | Selasa, 02 Juni 2026 | 07:20 WIB

Siap Daftar Wamil Tahun Depan, Park Ji Hoon Incar Unit Pengintai Marinir

Siap Daftar Wamil Tahun Depan, Park Ji Hoon Incar Unit Pengintai Marinir

Your Say | Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:51 WIB

Lee Jae Wook Jalani Wajib Militer pada 18 Mei, Ini Proyek Terakhirnya!

Lee Jae Wook Jalani Wajib Militer pada 18 Mei, Ini Proyek Terakhirnya!

Your Say | Senin, 04 Mei 2026 | 11:34 WIB

Ravi Bagikan Aktivitas Terbaru Usai Kasus Wajib Militer, Tanda Comeback?

Ravi Bagikan Aktivitas Terbaru Usai Kasus Wajib Militer, Tanda Comeback?

Your Say | Senin, 04 Mei 2026 | 08:52 WIB

Siap Aktif Kembali Jadi Idol, Jaehyun NCT Resmi Selesaikan Wajib Militer

Siap Aktif Kembali Jadi Idol, Jaehyun NCT Resmi Selesaikan Wajib Militer

Your Say | Senin, 04 Mei 2026 | 07:20 WIB

Mino WINNER Dituntut 1,5 Tahun Penjara atas Pelanggaran Wajib Militer

Mino WINNER Dituntut 1,5 Tahun Penjara atas Pelanggaran Wajib Militer

Your Say | Selasa, 21 April 2026 | 19:45 WIB

Tersandung Kasus Wajib Militer, Mino WINNER Minta Maaf di Sidang Perdana

Tersandung Kasus Wajib Militer, Mino WINNER Minta Maaf di Sidang Perdana

Your Say | Selasa, 21 April 2026 | 13:12 WIB

Ravi Selesaikan Tugas Wamil, Kembali Minta Maaf soal Pemalsuan Data Medis

Ravi Selesaikan Tugas Wamil, Kembali Minta Maaf soal Pemalsuan Data Medis

Your Say | Selasa, 31 Maret 2026 | 07:00 WIB

Kim Young Dae Umumkan Wajib Militer April 2026, Sampai Jumpa di 2027!

Kim Young Dae Umumkan Wajib Militer April 2026, Sampai Jumpa di 2027!

Your Say | Rabu, 25 Maret 2026 | 10:57 WIB

Terkini

Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan

Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:56 WIB

Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet

Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:30 WIB

Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan

Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:56 WIB

Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:30 WIB

'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:27 WIB

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:15 WIB

Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif

Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:01 WIB

Niat Cari Cuan di Kapal Cumi, Pemuda Garut Malah Kena 'Zonk' Loker Medsos, HP Sampai Disita

Niat Cari Cuan di Kapal Cumi, Pemuda Garut Malah Kena 'Zonk' Loker Medsos, HP Sampai Disita

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 17:51 WIB

IDAI Minta Anak di Bawah 2 Tahun Bebas dari Gawai, Cegah Speech Delay hingga Virtual Autism

IDAI Minta Anak di Bawah 2 Tahun Bebas dari Gawai, Cegah Speech Delay hingga Virtual Autism

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 17:30 WIB

Haris Rusly Moti: Anomali Gerakan Sosial Saat Ini Justru Anti-Rakyat dan Adopsi Narasi Neoliberal

Haris Rusly Moti: Anomali Gerakan Sosial Saat Ini Justru Anti-Rakyat dan Adopsi Narasi Neoliberal

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 16:51 WIB