alexametrics

Menkes Budi Gunadi: Varian Delta Covid-19 Sudah Beranak Cucu

Chandra Iswinarno | Stephanus Aranditio
Menkes Budi Gunadi: Varian Delta Covid-19 Sudah Beranak Cucu
Tangkapan layar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang dipantau daring, Senin (26/7/2021). (ANTARA/Devi Nindy)

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, varian Delta Covid-19 saat ini sudah beranak-cucu atau terus bermutasi mengikuti keadaan lingkungan sekitarnya.

Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan,  varian Delta Covid-19 saat ini sudah beranak-cucu atau terus bermutasi mengikuti keadaan lingkungan sekitarnya.

Budi menjelaskan, varian dengan kode B1617.2 itu sudah bermutasi menjadi varian AY4, AY23, AY24, kemudian varian AY4 bermutasi lagi menjadi AY4.2 atau yang biasa disebut varian delta plus yang kini mewabah di Inggris.

"Jadi AY4 cucunya keluar AY4.2 itu yang sekarang lagi banyak ada di Inggris disebut varian delta plus. Di Indonesia sendiri AY4 sudah ada, AY23 sudah ada, AY24 sudah ada, AY4.2 belum ada," kata Budi dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/11/2021).

Dia mengatakan, meski sudah bermutasi pencegahannya tetap sama yakni menjalani protokol kesehatan 5M, yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas, serta dapatkan vaksinasi Covid-19.

Baca Juga: Menkes Khawatir Kasus Covid Melonjak dan Ancam KTT G20 di Bali

"Nah, semua varian delta baik orang tuanya, subvarian atau anaknya, subsubvariannya atau cucunya, itu memiliki mutasi genetik yang mirip, jadi kesimpulan kami sampai sekarang adalah kalau misalnya ada masuk anak atau cucunya, InsyaAllah harusnya kekebalan yang sudah terbentuk di masyarakat kita masih cukup menanggulangi penyebaran ini," jelasnya.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes (Balitbangkes) mencatat sebaran kasus mutasi Covid-19 yang tergolong varian of concern (VoC) di Indonesia sudah mencapai 4.830 kasus per 13 November 2021.

Varian Delta paling banyak ditemukan di Indonesia dengan total 4.732 kasus, varian Alfa 76 kasus, dan varian Beta 22 kasus. Sementara varian P1 Gamma yang juga masuk dalam kategori VoC belum terdeteksi di Indonesia.

Ribuan temuan varian itu teridentifikasi melalui metode pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan Balitbangkes terhadap 8.578 spesimen.

Baca Juga: Menkes: Mohon Maaf Bapak-ibu DPR yang Berpenghasikan Cukup, Vaksin Booster Bayar Sendiri

Komentar