alexametrics

Muncul Varian Omicron di Berbagai Negara, Bos Perusahaan Vaksin BioNTech: Jangan panik

Reza Gunadha | Hikmawan Muhamad Firdaus
Muncul Varian Omicron di Berbagai Negara, Bos Perusahaan Vaksin BioNTech: Jangan panik
Ilustrasi vaksin Covid-19 (Unsplash.com/@3dparadise).

"Pesan kami adalah jangan panik, rencananya tetap sama yakni percepat pemberian suntikan booster ketiga,"

Suara.com - Bos perusahaan vaksin Covid-19 BioNTech berpesan kepada masyarakat agar tetap tenang meskipun muncul varian Omicron di Afrika Selatan.

Menyadur Aljazeera Rabu (1/12/2021), Ugur Sahin, pendiri BioNTech yang menemukan salah satu vaksin Covid-19, berpesan agar tetap tenang setelah munculnya varian Omicron.

Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (30/11/2021), Sahin mengungkapkan jika orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19 tetap terlindungi.

"Pesan kami adalah jangan panik, rencananya tetap sama yakni percepat pemberian suntikan booster ketiga," kata Sahin kepada WSJ.

Baca Juga: Antisipasi Varian Omicron, Testing dan Tracing Penerbangan Internasional Penting Dilakukan

Sahin mengatakan bahwa vaksin BioNTech mRNA, telah terbukti dapat melindungi dari penyakit parah pada varian lain.

Dia mencatat bahwa sementara Omicron kemungkinan akan dapat menghindari antibodi yang dihasilkan oleh vaksin lebih baik daripada Delta, karena jumlah mutasi varian baru yang lebih tinggi, Omicron tidak mungkin dapat mengelilingi respons imun sel-T tubuh terhadap infeksi.

"Keyakinan kami [bahwa vaksin bekerja melawan Omicron] berakar pada sains: Jika virus berhasil lolos dari kekebalan, virus itu berhasil melawan antibodi, tetapi ada respons kekebalan tingkat kedua yang melindungi dari penyakit parah—sel-T," katanya kepada WSJ.

Pernyataan Sahin tersebut muncul setelah CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan bahwa kemungkinan vaksin saat ini kurang efektif melawan Omicron.

Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Bancel memperingatkan bahwa vaksin Covid-19 saat ini kurang efektif terhadap Omicron.

Baca Juga: Grab Resmi IPO Di Bursa Saham Amerika Serikat

"Tidak ada dunia, saya pikir, di mana [keefektifannya] berada pada level yang sama … yang kami miliki pada varian Delta," katanya.

"Saya pikir itu akan menjadi penurunan materi. Saya tidak tahu berapa karena kami harus menunggu datanya," ujarnya.

Dalam wawancaranya dengan WSJ, Sahin beranggapan tidak perlu membuat vaksin yang bisa beradaptasi dengan varian Omicron, yang menurutnya membutuhkan waktu 100 hari.

"Kami memiliki rencana untuk memberikan suntikan ketiga kepada orang-orang, dan kami harus tetap berpegang pada rencana ini dan mempercepatnya," katanya.

"Apakah kita akan membutuhkan perlindungan ekstra menggunakan vaksin yang diadaptasi, ini masih harus dilihat nanti," pungkasnya.

Komentar