Krisis Air di Iran Membuat Buaya Mengganas dan Memangsa Manusia

Siswanto, BBC

Selasa, 28 Desember 2021 | 18:36 WIB
Krisis Air di Iran Membuat Buaya Mengganas dan Memangsa Manusia
BBC

Suara.com - Terbaring di lantai rumahnya yang sederhana, Siahouk merintih menahan rasa sakit luka di tangan kanannya.

Dua hari sebelumnya, pada suatu sore yang sangat panas di bulan Agustus, penggembala berusia 70 tahun itu pergi mengambil air dari sebuah kolam.

Saat itu ia diterkam oleh seekor "gando" - sebutan buaya air tawar di wilayah Baluchistan, Iran.

"Saya tak melihatnya saat muncul," katanya mengingat kejadian traumatis dua tahun lalu, dengan kengerian dan ketidakpercayaan yang masih terpancar dari matanya.

Siahouk baru bisa terlepas dari gigitan buaya saat ia "berhasil menyelipkan botol [air] plastik di antara rahang buaya" kenangnya, sambil menggosok wajahnya dengan tangan kiri yang sudah keriput.

Saat kehilangan banyak darah Siahok sempat pingsan sekitar setengah jam.

Dia ditemukan setelah domba-dombanya pulang ke desanya di Dombak, tanpa gembala.

Hidup berdampingan yang mematikan

Peristiwa yang dialami Siahouk merupakan gambaran dari korban-korban lainnya, kebanyakan anak kecil. Anak-anak kecil yang menderita luka mengerikan karena serangan buaya kerap mewarnai halaman depan media-media di Iran, tapi beritanya dengan cepat menghilang.

Pada 2016, seorang bocah bernama Alireza, 9 tahun, ditelan oleh salah satu buaya jenis yang sama. Dan pada Juli 2019, Hawa, 10 tahun, kehilangan lengan kanannya akibat diserang buaya.

baca juga

Saat sedang mengangkut air untuk mencuci, dia hampir diseret oleh buaya sebelum akhirnya diselamatkan oleh teman-temannya seperti permainan tarik tambang.

Serangan hewan predator terhadap manusia ini terjadi saat Iran mengalami krisis air.

Akibatnya, habitat alami gando ikut menyusut, membuat pasokan makanannya berkurang. Hewan-hewan yang kelaparan menjadikan manusia yang mendekati teritori mereka sebagai mangsa atau sebagai ancaman dari sumber daya mereka yang menyusut.

Habitat gando tersebar di Iran dan India. Gando adalah jenis buaya bermoncong lebar, dan dimasukkan ke dalam kategori "rentan" oleh Lembaga Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Di Iran setidaknya terdapat 400 buaya jenis ini, atau 5% dari total spesies ini.

Departemen Lingkungan Iran mengatakan berupaya menyeimbangkan perlindungan gando dan melindungi masyarakat lokal.

Terlepas dari semua peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir, hanya sedikit janji pemerintah yang diterapkan. Saat menelusuri tepian Sungai Bahu-Kalat, habitat utama gando di Iran, sangat sulit menemukan adanya palang peringatan.

Dengan strategi pemerintah yang belum optimal, para relawan berupaya untuk menyelamatkan predator ini dengan memenuhi rasa haus dan lapar mereka.

Di Desa Bahu-Kalat - nama desa yang sama dengan nama sungai - di atas jalan tanah dari Dombak, saya duduk bersama Malek-Dinas, yang telah hidup bersama dengan gando selama bertahun-tahun.

"Saya mengubah kebun saya untuk dijadikan kobakan buat tempat buaya-buaya ini," katanya.

Dulunya itu adalah kebun yang subur dan pernah ditanami pisang, lemon dan mangga.

Sungai di sekitarnya adalah rumah bagi sejumlah buaya yang biasa diberi umpan dengan dada ayam, karena cuaca "panas yang mematikan telah membuat katak, dan mangsa mereka menjadi langka".

"Ayo, ayo ke sini," Malek- Dinar berulang kali memanggil buaya-buaya, sambil meminta saya untuk tetap menjaga jarak aman. Dalam sekejap, dua buaya muncul, menunggu untuk diberi makan ayam dari ember putih yang sudah mereka kenali.

'Siapa yang bisa bertahan tanpa air?'

Kelangkaan air bukan hanya terjadi di Baluchistan. Unjuk rasa meletus di barat daya provinsi Khuzestan yang kaya minyak, pada Juli lalu.

Dan pada akhir November, polisi anti huru-hara di pusat kota Isfahan memuntahkan peluru karet dan gas air mata ke kerumunan pengunjuk rasa di dasar Sungai Zayandeh-Roud yang mengering. Para pengunjuk rasa meminta pemerintah untuk mengatasi masalah kekeringan.

Dengan perubahan iklim yang telah menunjukkan wajah buruknya di Iran, implikasinya di Baluchistan bisa menjadi bencana besar kalau terjadi masalah pengelolaan air selama beberapa dekade.

Setelah menepi di Shir-Mohammad Bazar untuk berlindung dari badai pasir, saya bertemu perempuan yang mencuci di tempat terbuka.

"Ada infrastruktur perpipaan, tapi tidak ada airnya," kata Malek-Naz, 35 tahun kepada saya. Suaminya, Osman, menyeringai saat menjawab pertanyaan saya mengenai persoalan mandi.

Ia menunjuk seorang perempuan yang sedang memandikan seorang anak di sebuah bejana berisi air asin di sebelah rumah.

Osman yang memiliki lima anak dan sepupunya, Noushervan yang ikut dalam obrolan, bertahan hidup dengan mengangkut bahan bakar ke negara tetangga, Pakistan. Harga jual bahan bakar di sana lebih mahal dibandingkan di negaranya.

"Ada banyak risiko," Noushervan mengakui dengan nada menantang. "Tapi biarkan saja ketika tidak ada pekerjaan."

Dan risikonya itu sudah nyata. Pada Februari lalu, penjaga perbatasan Iran menembak kelompok "penyelundup bahan bakar," yang menewaskan setidaknya 10 orang.

Tindakan keras seperti itu merupakan hal lumrah di area perbatasan yang sensitif, di mana pemerintah Iran khawatir dengan persoalan keamanan.

"Mereka menutup mata atas penderitaan kami. Percayalah, kami bukanlah musuh negara," kata Osman mengeluhkan mengenai apa yang ia dan banyak orang Baluchistan gambarkan kekecewaan atas "pengabaian sistematis" terhadap komunitas.

Namun, baginya dan banyak warga Baluchistan, pengangguran lebih sedikit tantangannya dibandingkan menghadapi krisis air yang turut mengubah gando - makhluk "bersahaja" yang pernah hidup berdampingan secara damai - kini melawan mereka.

"Kami tidak berharap uluran tangan pemerintah. Kami tak mengharap mereka memberi pekerjaan pada kami," kata Noushervan.

"Kami, warga Baluchistan bisa bertahan hidup dengan memakan roti di gurun. Tapi air merupakan inti dari kehidupan. Kami tak akan mampu bertahan tanpanya, dan siapa juga yang akan mampu?"


Berita terkait yang mungkin menarik Anda simak:

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Body Lotion dengan Kandungan Aloe Vera, Memberi Sensasi Sejuk di Kulit!

5 Body Lotion dengan Kandungan Aloe Vera, Memberi Sensasi Sejuk di Kulit!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:40 WIB

Dominasi Netanyahu di Parlemen Israel Ambruk, Warga Gaza dan Timur Tengah Menanti Dampaknya

Dominasi Netanyahu di Parlemen Israel Ambruk, Warga Gaza dan Timur Tengah Menanti Dampaknya

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 18:30 WIB

Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan

Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 13:02 WIB

Sinyal Damai Iran Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sinyal Damai Iran Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:06 WIB

Arti Mimpi Melihat Buaya di Air Keruh Menurut Islam dan Primbon, Waspada Musuh dalam Selimut?

Arti Mimpi Melihat Buaya di Air Keruh Menurut Islam dan Primbon, Waspada Musuh dalam Selimut?

Lifestyle | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:55 WIB

Krisis Air dan Udara Panas di Cimahi: Cerita dari Lapang Rumput yang Hilang

Krisis Air dan Udara Panas di Cimahi: Cerita dari Lapang Rumput yang Hilang

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Presiden AS Donald Trump Ejek Nama Nabi Muhammad

Presiden AS Donald Trump Ejek Nama Nabi Muhammad

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 10:57 WIB

Serangan Houthi dan Taktik Baru Iran Kerek Harga Minyak Dunia

Serangan Houthi dan Taktik Baru Iran Kerek Harga Minyak Dunia

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Pakistan Desak AS dan Iran Patuhi MoU Islamabad di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Pakistan Desak AS dan Iran Patuhi MoU Islamabad di Tengah Ketegangan Timur Tengah

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Sangat Butuh Air Bersih! Warga Bantargebang Tagih Kepastian Waktu Perbaikan Sumur Artesis

Sangat Butuh Air Bersih! Warga Bantargebang Tagih Kepastian Waktu Perbaikan Sumur Artesis

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:37 WIB

Terkini

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:17 WIB

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Health | Minggu, 01 November 2026 | 06:10 WIB

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

×